Spill the Tea, Salahkah?
Bangku belakang

Spill the Tea, Salahkah?

Teorinya, mempermalukan pelaku kekerasan seksual di media sosial efektif memberi efek jera, tapi tidak di Indonesia.

OLEH: P

Warga Malang

Kejadiannya sudah lewat, sekira empat tahun silam, tapi traumanya masih membekas buat saya. Ceritanya, saya dan teman-teman menyambangi alun-alun Kota Malang usai menghadiri sebuah acara. Di sanalah saya bertemu pelaku kekerasan seksual. Mereka memandangi kami lekat-lekat dan meski berulang kali menyatakan keberatan, mereka tetap tak bergeming. Karena teman-teman ketakutan, saya meninju kedua pelaku, sedang satu teman lelakinya ternyata terus merekam kami.

Mereka berdalih, itu hanya prank, namun anehnya, lampu kamera mereka tetap menyorot kami. Sesekali provokasi sengaja dilontarkan supaya saya melanjutkan perdebatan dan perkelahian. Si pemegang kamera berjanji tidak akan mengunggah video itu dan kalaupun diunggah, ia bakal memburamkan wajah saya.

Janji sekadar janji. Video yang mereka rekam betul-betul diunggah ke YouTube dengan adegan disunat sana-sini, sehingga nampak saya marah tanpa sebab. Orang-orang merisak dan berusaha mencari identitas saya. Karena saya perempuan, meninju lelaki sama saja dengan perempuan buruk, apalagi ditambah fisik gemuk yang membuat saya jelek di mata publik. Buruk dan jelek: dari awal, YouTuber ini memang sengaja menstigma saya dengan dua identitas itu.

Saya jelas marah, tapi upaya mencari penyelesaian tak semudah membalik telapak tangan. Kedua orang tua saya buruh, tidak punya akses hukum, dan kedatangan ke beberapa tempat yang kami kira bakal membantu penyelesaian kasus pun nihil.

Akhirnya, saya terpikir menuliskan kisah tersebut. Naskah sempat mangkrak dua bulan lantaran saya menghitung untung-rugi jika “dipukul” balik pelaku lewat UU ITE. Bersuara lantang memang wajib, tapi setidaknya saya harus mengambil langkah pintar. Target saya saat itu sederhana, ingin bertemu satu-dua orang dengan pengalaman kekerasan serupa. Jika saya merasa sendirian, orang lain jangan.

Februari 2018, tulisan saya mengenai kekerasan seksual tersebut naik di salah satu media alternatif perempuan. Tak disangka, belasan ribu orang membaca pengalaman saya hingga bikin pelaku kelabakan. Pasalnya, tanpa menyebut identitas pelaku, pembaca tulisan saya mampu menemukan para YouTuber tersebut. Selama itu pula, saya tak diam dan berusaha mengirim pesan agar video yang menampilkan kami segera dihapus. Ternyata, hanya dua pelaku yang menunjukkan itikad baik dan meminta maaf. Sementara itu, pelaku utama justru mangkir dan membuat video klarifikasi dua kali. Isi videonya sesuai dugaan, mereka menolak minta maaf, menyalahkan kami sebagai penyintas, dan menyebut publik terlalu sensitif. 

Kasus itu pada akhirnya menjadi viral. Tekanan publik bahkan datang dari dua YouTuber nasional, aktivis, selebgram, dan lainnya. Namun, alih-alih meminta maaf, pelaku mencuri panggung dengan memasang iklan di media sosialnya, membikin lagu, bahkan menggunakan nama salah satu YouTuber nasional yang mengecamnya untuk tujuan clickbait.

Media massa, utusan Kominfo ramai-ramai mendadak menghubungi saya untuk wawancara. Akan tetapi, saya terlalu lelah dan memilih fokus pada penyembuhan trauma. Untungnya, seorang teman baik memberi akses ke sebuah lembaga nonprofit agar saya mendapat pendampingan gratis hingga sembuh. Sejak itu, tak ada lagi ucapan-ucapan bahwa saya perempuan yang buruk. Semua sepakat bilang, begitulah seharusnya perempuan bersuara.

Masalahnya, meski suara saya didengar, ini tak berbanding lurus dengan ganjaran yang mestinya diterima pelaku kekerasan seksual. Spill the tea memang memberikan saya kesempatan untuk melawan, tapi hingga kini pelaku masih aktif berkeliaran. Sementara saya dilanda kepanikan dan rasa takut hingga setahun berselang, pengikut di kanal YouTube-nya justru terus bertambah. Ia bahkan mencari simpati dengan mencitrakan diri sebagai pembela kebenaran, membuat video dirinya mengatur lalu-lintas dengan kostum unik, dan mendorong orang untuk ramai-ramai memberi dukungan.

Akankah kelak ia melakukan kekerasan serupa di jagat maya? Jika iya, situasinya bakal lebih pelik ketika dukungan dari pengikutnya bertambah banyak seperti sekarang. Namun satu hal, saya tidak akan berhenti bersuara. Semoga kamu juga.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura