Susahnya Jadi Minoritas Ganda Penyintas KGBO
Bangku belakang

Susahnya Jadi Minoritas Ganda Penyintas KGBO

Tak semua sosok yang “berkilauan” di media sosial bisa kamu percaya. Gue dilecehkan oleh orang yang mencintai buku-buku, setidaknya itu yang tampak di Twitternya.

OLEH: S

A pathetic loser who is currently looking for a job

Gue S, perempuan berusia 24 tahun. Dua tahun lalu, gue kerja di perusahaan kecil daerah Jakarta Selatan. Jumlah karyawannya sekitar tiga puluhan, jadi semua saling kenal. Kantornya memang cenderung agamis dan gue menjadi satu-satunya minoritas di sana, baik agama dan ras. Gue juga terang-terangan merokok, terkadang minum alkohol, sehingga rekan-rekan kerja kerap melabeli gue sebagai “cewek bandel”. Gue  sendiri enggak masalah dengan hal itu, sebab kata  Laurel Thatcher Ulrich, sejarah tak lahir dari perempuan berkelakuan baik, kan?

Singkat cerita, gue didekati oleh anak pemilik kantor di hari-hari gue mengajukan pengunduran diri. Usianya tujuh tahun lebih tua. Modus perkenalan yang dia gunakan, yakni ingin gue mengevaluasi perusahaan. Berawal dari evaluasi, hubungan kami jadi makin intens. Kadang dia mengajak gue minum bersama teman-temannya. Suatu kali, selepas acara minum-minum, dia bertanya, “Can I kiss you?” Gue yang memang enggak punya pacar, mengiyakan. Gue pikir sopan juga orang ini, minta izin dulu sebelum nyosor. 

Setelah beberapa lama dekat, gue tau dia sudah melajang selama dua tahun. Mantannya cuma satu orang. Mereka pacaran selama kira-kira enam tahun. Sudah berniat menikah, tapi kandas karena lelaki ini selingkuh. Alasan selingkuhnya lantaran dia merasa kebutuhan seksualnya tak cukup terakomodasi. Harusnya otak gue dapat notifikasi warning dari informasi itu, tapi gue justru berpikir: Yaudah lah, ya. Kata Maslow saja, seks termasuk kebutuhan paling dasar manusia. Ada bagian lain di kepala gue yang teriak, “Really? Sex? Selingkuh karena sex? How low is that? Pacaran selama enam tahun, setidaknya dia bisa menghormati komitmen terhadap  pilihan pacarnya soal seks, bukan?” Bodohnya, gue tetap melanjutkan hubungan itu.

Satu hal yang bikin gue simpatik sama lelaki ini lantaran dia termasuk mitra yang asyik. Kalau lo buka akun Twitter-nya, dia sering mengunggah serba-serbi buku atau tulisan menarik: jenis orang yang lo pikir bermartabat. Enggak cuma itu, dia juga cukup disegani karena merupakan anak pemilik kantor. People respect and think highly of him. Dia mengajak gue ke tempat ngopi, lalu kami duduk sambil baca buku masing-masing. Berapa banyak orang yang diajak kencan dengan baca buku? Dia ngomongin manga, teori pemasaran, sementara gue cuma bisa kagum dengan isi obrolannya dan ingin dia berhenti karena enggak paham-paham amat.

Gue lupa bagaimana mulanya, tapi gue beberapa kali dapat kiriman foto kelaminnya saat gue makan  malam bersama keluarga. Kita main scrabble daring dengan taruhan, dia minta gue foto dan video topless atau apa pun tergantung request-nya. Kadang gue enggak memenuhi permintaannya dan dia menghitungnya sebagai utang. Suatu kali, gue menyarankan dia untuk membuka situs porno, tapi dia hanya merespons, “Rasanya beda kalau bukan kamu.” Telegram gue saat itu berubah jadi sarana berkirim foto alat kelaminnya. Kapan pun, di mana pun, gue ajek dapat notifikasi Telegram dari dia. Di situlah gue mulai jengah.

Iya, gue memang bukan orang alim, tapi gue selalu punya batasan sendiri yang berulang kali dia langgar. Dari situlah gue merasa sudah jahat pada diri sendiri. Gue ingat minta waktu tiga hari tanpa “gangguan” dia. Namun, tiga hari berselang, gue dapat pesan dari dia, “Aku mau  ngaku dosa. Aku habis bayar cewek di Twitter buat kasih foto-foto bokep.” That’s it. Gue enggak bisa  lebih jijik lagi dari itu. 

Akhirnya gue bilang mau udahan karena that precise behavior, so he knows my reason. Namun, dengan kuasa dan jabatan yang dimiliki, dia justru mengumbar cerita ke orang kantor bahwa kami berpisah karena sama-sama berbeda. Rekan-rekan di kantor pun beranggapan penyebab utama kami berpisah karena gue bandel. Gue mau konfrontasi, tapi sepertinya enggak akan ada gunanya dengan identitas agama dan ras minoritas gue sekarang. At least sharing my story here has relieved me, in some ways.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura