Pengakuan Pria Penikmat Konten Intim Non-Konsensual
Bangku belakang

Pengakuan Pria Penikmat Konten Intim Non-Konsensual

Sejak SMA, motivasi orang membagikan konten intim non-konsensual adalah demi menunjukkan maskulinitas. Sayangnya, hal ini tak berubah hingga sekarang.

OLEH: A.N.U

Dosen dan peneliti psikologi.

Sebagai seorang pria berusia tiga puluh tahun, mungkin pendapatku tak begitu relevan untuk ikut nimbrung membicarakan KBGO. Bahkan, biasanya populasi demografisku yang dicurigai menjadi biang kerok KBGO itu sendiri. Namun, lewat tulisan ini, aku ingin membongkar isi kepala lelaki yang gemar mengedarkan dan menikmati non-consensual private pictures/videos atawa konten intim non-konsensual.

Belasan tahun lalu, anak-anak SMA termasuk aku rutin berbagi gambar dan video lewat medium flashdisk, inframerah, atau bluetooth ponsel. Semua dilakukan dengan sembunyi-sembunyi di pojok kelas. Lucunya, foto atau video yang saling kami bagi tak melulu berisi hal vulgar. Paling sering kami bertukar konten foto atau video teman perempuan dengan seragam jilbab tertutup atau baju santai. Tanpa harus berpakaian terbuka pun, konten semacam itu yang kami dapat dari mencuri gambar di Friendster, foto-foto candid, hingga pura-pura meminjam ponsel mereka sudah menjadi “harta karun” yang menggiurkan. 

Transfer data yang sulit tentu menjadi hambatan tersendiri bagi gambar-gambar itu untuk tersebar luas dengan cepat. Namun jangan salah, kami cukup kreatif menyebarkan foto dan video non-konsensual tersebut lewat forum-forum internet. 

Jika ditanya apa alasannya mengumpulkan lalu membagi konten non-konsensual itu, jawabannya beragam. Namun, biasanya tak jauh-jauh dari urusan inferioritas dan maskulinitas. Seingat saya saat itu, pria yang menjadi pelaku pengepul konten non-konsensual biasanya punya problem, seperti nirprestasi, tidak rupawan, atau bukan orang berada. Alasan lainnya, mereka yang punya foto teman perempuan tercantik atau foto tersulit untuk didapatkan, akan diakui kejantanannya. Bagi si “bandar” dengan koleksi terlengkap, mereka pantas menepuk dada dengan penuh kebanggaan.

Faktanya, apa yang aku alami di masa lalu juga punya benang merah dengan masa sekarang. Beberapa mahasiswa yang kubimbing ternyata memiliki rasa penasaran yang sama denganku dulu ketika masa SMP dan SMA. Penggerak utama para pria ini untuk menyebarkan dan mengoleksi foto atau video non-konsensual adalah demi mengelus ego dan kejantanan diri. Pada dasarnya, para lelaki seperti kami yang menjadi pelaku, cenderung menganggap perempuan sebagai objek belaka. Perempuan dipandang sebagai pajangan yang dibanggakan, dinikmati, atau digunakan untuk mendongkrak citra diri sendiri.

Sebagai otokritik diri, aku akui mengubah cara pikir maskulinitas beracun ini masih jauh panggang dari api. Namun, setidaknya kami sudah berhasil mengurai taksonomi pikiran “pria-pria bermasalah” tersebut. Ah, andai saja aku bisa menjabarkan penelitian kecil-kecilan ini pada diriku belasan tahun yang lalu.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura