Tersesat di Aplikasi Kencan
Bangku belakang

Tersesat di Aplikasi Kencan

Andai saja tren spill KBGO sudah ada sejak dulu, mungkin saya akan mengakhirinya lebih awal.

OLEH: Anonim

Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, wajib hukumnya bagi saya untuk menguasai isu-isu media, baik dalam negeri maupun mancanegara. Ada suatu masa di mana saya buntu kehabisan bahan esai karena peristiwa-peristiwa lokal dan nasional sudah habis diembat 103 mahasiswa lainnya. Mau tidak mau, saya harus mengintip seluk-beluk media negara lain. Barangkali, bertanya pada penghuninya langsung adalah jalan terbaik, pikir saya waktu itu. Iseng-iseng, saya memasang Tandem, aplikasi berkedok tukar bahasa sekaligus mencari teman pena elektronik. 

Pengalaman pertama saya sangat tidak menyenangkan. Baru bertemu satu orang asal India, saya sudah disuguhi flirting-flirting yang sangat mengganggu. Saya belum memblokir dan melaporkannya karena terlalu malas memulai percakapan lagi dengan yang lain. Saat itu, saya hanya meminta dia untuk berhenti mengirim pesan-pesan sensual dan mengajaknya mengganti topik pembicaraan. Siapa nyana, beberapa menit berselang, ia justru nekat mengirim gambar penis. Hal itu lumayan mengguncang saya. Trauma masa lalu ketika saya dilecehkan di aplikasi daring Omegle pun terputar ulang di kepala.

Perjumpaan saya dengan aplikasi Omegle juga berawal dari ketidaksengajaan. Ada desas-desus bahwa teman saya punya kekasih pria dari luar negeri. Usut punya usut, rupanya dia berkenalan dengan remaja Amerika melalui Omegle lalu melanjutkan komunikasi mereka di Facebook. Saya pun sangat tergiur untuk mengikuti tren Omegle-ria. Sejak saat itu, saya setia menyambangi warung internet sampai akhirnya saya menemukan kenalan yang asyik dari aplikasi ini. Hubungan kami bersambung di Facebook.

Tak ada yang aneh dari isi obrolan kami. Kami selalu membicarakan hal-hal yang umum pada mulanya, sampai akhirnya dia mulai membelokkan pembicaraan ke arah yang lebih sensual. Dia bertanya apakah tidak ada orang tua di rumah. Saya di warnet, otomatis saya mengatakan sedang sendirian tanpa pengawasan orang tua.

Sejurus kemudian, dengan halus dia memanipulasi saya untuk melakukan hal-hal intim sendiri sesuai arahannya dan menjelaskan apa yang saya rasakan. Akibat minimnya pendidikan seks yang saya terima, saat itu saya belum cukup tahu tindakan seperti itu termasuk aktivitas seksual. Untung saja, meski minim pendidikan seks, naluri saya mengatakan sebaiknya saya tak mengikuti instruksinya.

Ternyata ia belum menyerah. Dia mulai mengirimkan foto-foto yang ada di album Facebook saya yang sudah dilingkari di bagian-bagian tertentu dengan kata-kata melecehkan. Otomatis, saya langsung memblokir dia. Celakanya, saya sudah telanjur merasa buruk dan menyalahkan diri sendiri yang sejak awal punya niatan berteman dengan “orang asing”. Di masa-masa itu, saya memang tak tahu harus berbicara ke siapa. Yang ada di kepala saya, hal-hal semacam ini barangkali normal dan sesuai dengan gaya hidup mereka di luar negeri, tapi tidak di Indonesia. Pada akhirnya, saya hanya sibuk menyalahkan diri dan bertanya-tanya, “Kenapa saya cupu banget sih?

Pengalaman pahit di aplikasi kencan membuat saya sadar, pendidikan seks sejak dini adalah sebuah keharusan. Minimal kita belajar bahwa kekerasan seksual, apa pun bentuknya, termasuk kekerasan tanpa menyentuh tubuh penyintas, tak bisa dibenarkan. 



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura