Empat Bulan Diteror Eksibisionis
Bangku belakang

Empat Bulan Diteror Eksibisionis

Dari panggilan video, panggilan telepon, pesan singkat, hingga WhatsApp, eksibisionis ini menerorku selama nyaris empat bulan.

OLEH: Air Via Okta

Sedang berusaha menjaga kewarasan di tengah pandemi

“Asu!” umpatku seketika, sembari melepas paksa baterai gawai.

Dengan tangan gemetar, aku mencoba menguasai diri kembali. Aku mengambil baterai dan pelan-pelan menyalakan tombol daya. Ini malam benar-benar jahanam hingga aku demikian marah. Bagaimana tidak? Aku baru saja menjadi sasaran pelaku pelecehan seksual melalui panggilan video seluler.

Dari mula, aku sudah ogah-ogahan menerima panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Namun, karena masih berbaik sangka, barangkali itu nomor baru milik teman atau keluarga, aku mengangkat telepon tersebut. Aku menggeser tombol menjadi “sembunyikan video” dan mengarahkan layar gawai ke langit-langit kamar. Layar seketika remang.

Dalam pencahayaan minim, di seberang sana tampak seorang laki-laki tengah bermasturbasi. Satu tangan mengarahkan kamera, sisanya memegang alat kelaminnya. Aku istigfar sekaligus memaki dalam satu waktu saking paniknya.

Pikirku saat itu, pelaku ini menyasar korbannya secara acak, dan sialnya aku yang kena. Akhirnya, aku berusaha mengabaikan kejadian malam itu. Namun keesokan harinya, pelaku kembali berulah. Pasca-diblokir pun ia masih kerap berusaha menelepon. Aku syok dengan kejadian tersebut hingga butuh waktu berminggu-minggu mengumpulkan keberanian guna membikin perhitungan.

Aku tahu persis, yang diinginkan oleh eksibisionis adalah ketakutan dari para korban. Karena itulah, melakukan konfrontasi balik dengan ejekan atau kalimat merendahkan mungkin dapat dilakukan sebagai bentuk perlawanan. Aku coba praktikkan dan ternyata cukup efektif. Panggilan video dari pelaku tidak lagi muncul. Namun kabar buruknya, ia masih melakukan teror lewat panggilan suara dan pesan singkat (SMS) yang menunjukkan hasrat seksual. Yang bikin ngeri, pelaku tahu persis namaku hingga detail. Aku pun curiga, pelaku adalah orang yang aku kenal baik dan tak jauh dari lingkar pertemanan.

Setelahnya, aku sempat membuka blokir nomor pelaku. Di satu sisi aku memang terganggu dengan teror tersebut. Di sisi lain, aku berniat mengumpulkan bukti dari riwayat panggilan dan pesan yang ia kirim agar bisa diproses secara hukum. Menurutku, pemblokiran nomor pelaku kekerasan seksual tak selamanya efektif, sebab bisa jadi ia akan meneror lewat nomor lain.

Pengalaman yang astagfirullah ini lantas aku bagikan melalui WhatsApp story. Tanggapan dari teman dan kerabat pun beragam. Beberapa menyarankan untuk melapor ke kantor polisi, mengunduh aplikasi pendeteksi nomor ponsel, hingga mengganti nomor ponselku dengan yang baru. Aku memilih melapor ke akun Twitter @aduanBRTI, namun responsnya normatif, bahkan cenderung tidak solutif. Aku masih berusaha mengirim surel dan aduan ke tim siber Polri, tapi hasilnya nol.

Teror ini sendiri aku alami selama hampir empat bulan. Puncaknya ketika pelaku tak hanya berulah melalui pesan singkat dan panggilan seluler, namun juga pesan dan video call WhatsApp. Aku semakin yakin, pembiaran hanya akan membuat pelaku merasa aman untuk melakukan perbuatan kejinya lagi. Akhirnya, aku beranikan diri untuk datang ke kantor polisi setempat dan mengajukan laporan berbekal bukti-bukti yang telah aku kumpulkan. Sesuai dugaan, lagi-lagi pil pahit yang mesti aku telan. Agaknya, yang aku dapat bukan keadilan dan rasa aman, namun kekecewaan.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura