Azabmu, Traumaku
Bangku belakang

Azabmu, Traumaku

Situ yang kena azab, saya yang repot

OLEH: Saraswati N

Bisa ditemui suaranya lewat podcast K-ulture!

Ada beberapa hal yang ogah saya ingat dari masa kecil, terutama jika itu membuat saya susah tidur. Salah satunya adalah perkara cerita azab.

Ketika kanak-kanak, keluarga saya menjejali banyak bacaan dengan harapan pengetahuan agama saya bertambah. Majalah Hidayah pun jadi salah satu pilihan. Sebenarnya tak ada yang salah dari majalah yang berisi intisari agama Islam dan khutbah salat Jumat. Hanya saja, sampul majalah yang lebih sering menjual cerita-cerita horor bikin saya bergidik ngeri.

Bagaimana enggak ngeri, gambar belatung dan cacing tanah diumbar, mayat dengan mata melotot hadir melulu di sampul depan. Meskipun saya sebenarnya takut, tapi saya nekat membaca cerita-cerita di dalamnya biar enggak dibilang culun.

Belum sampai halaman akhir, saya sudah menutup majalah ini. Ngeri. Kenapa ada pocong berperut bolong karena makan harta anak yatim? Kenapa tidak membayar zakat membuat wajah kita gosong? Saya tak habis pikir saat itu. Gambaran-gambaran cerita itu terus menghantui saya hingga sisa hari. Di dapur. Di kamar. Ketika mandi. Ketika buang air besar. Saya tak bisa melepaskan tangan kakak saya saat tidur di malam hari. Setan betul!

Majalah itu tetap datang ke rumah kami, sama seperti citra hantu pocong yang tak hilang dari kepala saya. Butuh waktu lama sebelum akhirnya saya benar-benar lupa.

Saya kira begitu majalah ini tamat, cerita-cerita horor demikian akan ikut hilang dari peredaran. Faktanya, cerita azab itu hanya berpindah medium ke format digital. Saya ingat betul diajak menonton video azab yang berisi penyiksaan jenazah begitu dimasukkan liang lahat dan ditinggalkan oleh peziarah.

Anehnya, kali ini saya lebih berani menonton. Video azab seperti itu menjelma alat pemersatu di keluarga. Kami ramai-ramai menonton sepulang sekolah saat orang tua belum tiba di rumah. Gambarannya cukup realistis: seorang pria meninggal, keluarga mengantarkan ke pemakaman, lantas tujuh langkah peziarah terakhir cabut dari makam, si pria disiksa.

Saya menutup mata, gengsi mau berteriak. Rupanya bukan hanya saya, sepupu-sepupu yang lain juga sama takutnya. Ada yang menutup mata atau melihat ke arah lain saat adegan mengerikan diputar. Sementara itu, video terus mempertontonkan suara menggelegar “malaikat” dengan jenazah yang menjerit karena dicambuki. Di akhir video, si jenazah menangis dengan kilas balik semasa hidupnya.

Celakanya, video itu terbawa di kehidupan nyata. Nenek kami suatu hari mengajak pergi ke pemakaman tetangga. Saat itulah saya merasa adegan yang sama di video akan terjadi pada mayat tetangga saya ini. Suasana dukanya mirip. Si pria berdiri di samping jenazah yang terbalut kain kafan. Ekspresi wajah yang kosong. Pucat. Trauma masa kecil kembali berputar, di mana bayangan mendiang nenek buyut saya hingga wajah tetangga yang sudah meninggal dan berbalut kafan.

Perut saya mual. Malamnya lebih parah lagi, mau komat-kamit mengucapkan doa, kepala rasanya penuh dengan bayangan hantu tetangga yang sudah lebih dulu pergi ke alam baka. Bahkan, mau kencing rasanya juga tidak bisa. Hari, bulan, sampai tahunan saya habiskan untuk membuang jauh bayangan setan bermata bolong karena kurang amal ibadahnya. Cukup, tidak ada lagi azab-azab untuk saya konsumsi, saya mau tidur nyenyak.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura