Dari Majalah hingga Podcast, Horor adalah Kunci
Bangku belakang

Dari Majalah hingga Podcast, Horor adalah Kunci

Saya mencoba menikmati cerita horor dari banyak medium, dari majalah sampai Podcast. Tujuannya demi menikmati sensasi ketakutan itu sendiri.

OLEH: Bhenageerushtia

“Film horor adalah film yang menurut saya paling jujur, karena dibuat memang untuk memberikan pengalaman sistematik kepada penonton,” kata  Joko Anwar.

Sutradara itu ada benarnya. Bagi saya, mengkonsumsi cerita atau film horor memang sesederhana saya sedang ingin ditakut-takuti. Nggak melulu dari film, pengalaman mengkonsumsi horor sudah saya mulai sejak kecil melalui bacaan di majalah Misteri. Alih-alih menceritakan hantu-hantuan, majalah ini justru menjual hal-hal klenik. Misalnya, ikan keramat yang jika dikonsumsi akan membawa malapetaka, candi-candi yang baru ditemukan beserta legendanya, hingga iklan layanan santet paling manjur abad ini.

Membaca Misteri saya iringi dengan menonton film-film horor 2000-an seperti Lentera Merah, Kuntilanak, atau Mirror, yang isinya belum banyak mengeksploitasi sensualitas perempuan. Film-film tersebut sukses membuat saya takut sendirian di rumah.

Menjelang 2010, ketika Facebook masih punya banyak pengguna aktif, saya mencari asupan cerita horor dari sana. Ada akun-akun yang membagikan cerita horor seperti Berbagi Cerita Hantu I, Berbagi Cerita Hantu 2, atau Kumpulan Cerita Seram bin Mistis yang sebenarnya ceritanya itu-itu saja. Mereka menceritakan pengalaman-pengalaman bertemu dengan tiga tokoh utama kancah per-horor-an Indonesia, kuntilanak, pocong, dan genderuwo, dan kebanyakan ditulis dengan buruk dan imajinasi terbatas. Namun, tetap saja, saya menikmatinya.

Tahun-tahun berikutnya ketika aktif di Twitter, cerita horor lebih banyak lagi bertebaran di sana. Ada perasaan menyenangkan ketika membaca cerita horor dari berbagai utas. Mereka biasanya mengunggahnya tepat tengah malam Jumat. Jadi, kegiatan saya saban malam Jumat adalah gelap-gelapan di kamar sembari tiduran di kasur membaca utas horor.

Saya tidak pernah mendengar cerita horor melalui radio. Akan tetapi, mendengar cerita horor melalui Podcast di layanan streaming seperti Spotify turut memperkaya khazanah per-horor-an saya. Menurut saya, dari sekian banyak Podcast horor, Do You See What I See? adalah yang paling asyik. Cerita-cerita di sana terasa lebih personal karena dinarasikan langsung oleh si empunya dan menggunakan bahasa lisan. Sementara itu di Podcast lain, cerita yang disampaikan dibacakan oleh host secara langsung dari tulisan pengirim. Bikin bosan. Meskipun saya banyak menemukan pencerita yang jelek hingga “jelek aja belum”, kadang mereka berbaik hati menggunakan voice over serius saat bercerita. 

Malam-malam saya selama satu tahun belakangan rasanya tidak pernah absen dari cerita-cerita horor. Kini, mengkonsumsi horor melalui Podcast saya lakukan bukan lagi karena ingin ditakut-takuti, melainkan untuk pengantar tidur. Cerita-cerita tersebut bisa didengarkan tanpa perlu kerja keras otak. Namun, ada pula yang justru bikin enggak bisa tidur. Tiba-tiba ada pencerita yang berkisah mengenai pengalaman menjadi korban pelecehan seksual semasa kecil oleh kakek temannya. Singkat cerita, kakek tersebut meninggal tapi arwahnya datang meminta maaf. Ah, coping mechanism anak kecil. 

Di Podcast horor pula, saya bisa mendengarkan pengalaman horor yang dialami teman-teman disabilitas netra. Betapa hantu-hantu harus sangat kreatif menakut-nakuti mereka melalui bau, bunyi, hingga sentuhan. Cerita pengalaman itu terasa lebih mencekam dari cerita horor kebanyakan karena seluruh panca indera diajak aktif kecuali mata ketika mendengarnya. Saya skip mengkonsumsi cerita horor melalui konten-konten YouTube. Tidak ada alasan khusus, hanya tidak mau algoritma YouTube saya horor-hororan.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura