Melampaui Teror Film Horor
Bangku belakang

Melampaui Teror Film Horor

Ada yang lebih seram ketimbang film kuntilanak, pocong, genderuwo, dan setan-setan Indonesia lainnya.

OLEH: Restu Ismoyo Aji

Seorang yang mendosenkan diri di sebuah kampus di Jawa Timur.

Apa film horor Indonesia terseram menurutmu? Film baru atau lawas? Bagiku, walau mungkin kurang tepat, “Pengkhianatan G30S/PKI” layak menyandang gelar tersebut.

Bagaimana tidak. Sejak di bangku SD, guru di sekolahku sudah menjejali kami dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” secara rutin. Wajar bila itu membekas dalam ingatan. Tak jarang adegan demi adegan di dalamnya berputar-putar di otakku hingga sekarang.

Buatku, setiap elemen dalam film ini memang berniat menghantui. Di awal film, muncul suara ikrar misterius yang seolah keluar dari mulut sumur maut, disusul segerombolan sosok gelap mengayunkan arit, menyerbu orang-orang yang tengah beribadah. Film lantas menampilkan adegan diamnya Soekarno yang tengah sakit di atas ranjang, yang bahkan digambarkan mencekam. Kemudian, para pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) bermufakat menculik anggota “dewan jenderal” sambil terus-menerus menghisap rokok tanpa jeda.

Puncaknya adalah penculikan para jenderal di pagi buta nan gelap. Sebagian jenderal gundah, seakan tahu apa yang akan terjadi. Pasukan penculik turun dari truk dan bus dengan tatapan nyalang. Mereka melepaskan tembakan di dalam rumah, memecahkan kaca, merusak perabotan. Dengan sadis mereka menembak mati tiga jenderal, seorang bocah, lalu merenggut lainnya dari kedamaian rumah. Tentu saja yang paling saya ingat adalah direkamnya histeria putri jenderal yang sengaja membasuhkan genangan darah di lantai ke wajahnya sendiri. Sinting!

Aku juga ingat para jenderal diarak ke sebuah rumah di Lubang Buaya yang suram sementara kelompok komunis menari-nari dan bernyanyi riang. Darah mengucur mengiringi penyiksaan keji tak berperikemanusiaan. “Darah itu merah, Jenderal,” ucap seorang penyiksa. 

Gong pamungkas adalah ketika sumur tua itu dibongkar dan jenazah para korban diangkat. Jenazah mereka yang membengkak dan berlumpur itu diletakkan dalam peti mati beralas kain putih. Semua adegan mengerikan ini tertanam jelas dalam memoriku.

Kenapa aku yang masih kanak-kanak boleh menonton adegan semacam itu? Jauh sebelum sensor ketat di televisi diterapkan, menonton film ini dulunya justru dianjurkan oleh wali kelas dan kepala sekolah. Lagipula zaman itu, stasiun televisi yang bersiaran secara nasional hanya TVRI, apalagi aku tinggal di sebuah kota kecil. Walhasil, aku dan anak-anak yang lahir pada 1980-an hingga 1990-an tidak benar-benar punya pilihan menonton cerita lainnya..

Keesokannya, teman-teman sekelas memperbincangkannya. Ada saja yang tidak tuntas menonton. Maklum, durasi film itu empat jam lamanya. Saat jam istirahat, kami membuat reka adegan “main jadi pahlawan revolusi.” Begitulah kami menyebutnya. Terdengar menyenangkan. Namun, sesungguhnya aku cemas, takut, lalu membayangkan ada komplotan orang mengadakan rapat rahasia di sebuah lokasi tersembunyi, bersiap memberontak, menunggu momen yang tepat untuk menculik tokoh-tokoh masyarakat.

Aku pernah khawatir terjadi sesuatu pada bapakku. Ia cukup aktif dalam kegiatan keagamaan. “Ada bahaya laten komunisme,” dengung rezim kala itu. Komunisme sewaktu-waktu bisa bangkit, entah kapan. 

Bertahun-tahun berselang, aku belajar betapa sejarah tidak hitam-putih. Media populer seperti film hanyalah representasi ideologi, alih-alih cerminan realitas. Apalagi belakangan aku tahu, film ini memang sengaja menjadi alat propaganda Orde Baru yang bikin orang menderita trauma massal, yang mendorong orang membenci ideologi tertentu yang berseberangan dengan penguasa. Persoalan akurasi sejarah pun akhirnya tak banyak dipertanyakan.

Singkat cerita, suatu hari jelang akhir September 2019, aku mulai kuliah di Jawa Timur. Salah seorang mahasiswa berkata kepadaku dengan bangganya, dia akan menghelat acara nonton bareng film propaganda Suharto itu di akhir bulan. Dengan semangat 45, dia bercerita telah menyambangi markas tentara lalu berkonsultasi dengan mereka versi mana paling akurat dari keempat versi yang beredar. Aku cuma bisa termangu. Nyatanya acara nobar itu menyedot perhatian warga sekitar.

Film ini boleh dibilang sukses mewariskan ketakutan dan dendam kepada generasi berikutnya yang tidak pernah mengalami sendiri era 1960-an. Komunis yang jadi musuh di film tersebut, dicitrakan sebagai ideologi tidak bermoral dan gemar kekerasan. PKI pun bersinonim dengan kebejatan dan kebengisan.

Aku mengambil sikap berbeda: mencari tahu, menyibak sejarah, sehingga aku berhenti merasa takut tanpa alasan. Dengan begini kita bisa bersama melampaui teror film terhoror di Indonesia.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura