Nonton Film di Netflix hingga Disney+ adalah Jalan Ninjaku
Bangku belakang

Nonton Film di Netflix hingga Disney+ adalah Jalan Ninjaku

Tak disangka, adegan film “Fatherhood” soal bapak tunggal di layanan video streaming nyaris menimpa saya yang harus merawat istri positif Covid-19.

OLEH: Panji Aditya

Om-om tanggung yang jadi hobi baking di kala pandemi. Gak oke-oke banget sih, tapi bukankah yang penting ada konten?

Nama saya Panji, pria Jawa-Tionghoa berumur tiga puluh tahun. Saya sudah menikah dan dikaruniai satu orang anak perempuan. Meski sudah berkeluarga, jiwa harus tetap muda dong. Karena itulah saya tak asing dengan layanan video streaming seperti YouTube, Netflix, Disney+, Prime Video, dan sejenisnya. Terus terang, mereka adalah alternatif tontonan yang agak mendingan jika dibandingkan TV terestrial lokal. 

Video streaming ria adalah alternatif aktivitas yang lebih “cerah” ketimbang sibuk doomscrolling Twitter atau Instagram berisi celaan terhadap pemerintah, berita depresif, atau remaja melet-melet di depan kamera ponsel. Tak ada yang menyenangkan di dunia maya saat ini buat saya. Vibe media sosial sama suramnya seperti dunia nyata di mana tiap hari raungan ambulans terdengar dari kejauhan dan masjid tak henti-henti menyiarkan kabar kematian.

Salah satu tontonan yang saya suka adalah film “Fatherhood”. Film dengan ulasan cukup baik ini diperankan oleh Kevin Hart, komedian kulit hitam dari Amerika Serikat. Ia menjalankan peran sebagai bapak tunggal karena istrinya meninggal usai persalinan. Saya sendiri tak menyangka film ini pada akhirnya terasa relate dengan kehidupan saya.

Ceritanya dimulai dari keluhan istri yang merasa badannya meriang. Karena keluhannya berbarengan dengan masa pra-menstruasinya, saya justru merasa lega karena itu tandanya ia tak sedang hamil anak kedua. Hehe. Namun, anehnya, kondisi istri tidak kunjung membaik. Biasanya pegal pra-haid ini hanya berlangsung sehari-dua hari. Ini yang lantas membuat saya jadi agak waspada. Akhirnya, kami memutuskan untuk PCR swab test, yang untungnya ditanggung oleh kantor.

Hasil tes keluar sehari kemudian. Saya dan anak negatif, sedangkan istri positif. Saat itu, saya belum terpikir mencari bantuan medis karena gejala istri cukup ringan menyerupai masuk angin, apalagi ia juga sudah divaksin. Yang lebih penting, saya tahu persis rumah sakit sedang kewalahan mengatasi pasien dengan gejala yang lebih parah. Akhirnya, saya memutuskan agar istri tetap isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Kami tidur terpisah kamar. Saya membeli oksimeter, termometer tembak, multivitamin, disinfektan, dan obat Cina. Urusan anak saya pegang seratus persen setelah meminta izin kantor. Beruntung, kantor saya cukup perhatian dan memahami kondisi kami. Saya langsung merasa jadi Kevin Hart karena mengurus anak sendiri, tak lagi berbagi peran dengan istri yang sedang sakit.

Ini tak mudah memang. Apalagi saat saturasi oksigen istri ambles hingga 91 persen. Jantung saya senam disko. Otak mengeluarkan seluruh skenario terburuk. Adegan di film “Fatherhood” wara-wiri di kepala. Esok pagi saya ke Puskesmas bersama istri. Ditolak. Tak ada saran medis atau resep obat. Satpam Puskesmas justru bikin kesal karena berkomentar, “Dibuat santai saja lah!” sembari ceramah soal Covid-19 yang cuma akal-akalan elite global. Ironis amat, pegawai Puskesmas saja bisa punya pola pikir begini.

Yang lebih parah lagi, semua rumah sakit yang saya kontak menolak merawat istri karena kamar penuh. Pun, semua nomor darurat DKI Jakarta tidak ada responsnya. Ketika kondisi kian gawat, saya ingat saya masih memegang nomor ponsel dokter yang merawat saya di Wisma Atlet. Saya mengontak dia. Alhamdulillah, direspons dengan daftar obat bebas sesuai gejala berikut serangkaian tes laboratorium.

Sehari setelah terapi obat ini diberikan, istri saya langsung mendingan. Besoknya lagi, saturasi sudah kembali di atas 95 persen. Selang beberapa hari, istri saya kembali tes PCR dan dinyatakan negatif. Kami bisa kumpul lagi sekeluarga.

Selang beberapa hari sejak istri negatif, Puskesmas yang dulu pernah saya hubungi mengontak saya. Minta data diri. Ingin memaki, tapi kali ini saya tahan. Saya urung jadi duda ala Kevin Hart dan itu sudah lebih dari cukup.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura