Dibuntuti Mbak Puan sampai WC Umum
Bangku belakang

Dibuntuti Mbak Puan sampai WC Umum

Baru kali ini saya merasa sungkan dan tak nyaman saat menuntaskan hajat penting di WC umum.

OLEH: Sukirman

Manusia penganguran yang mencari uang halal.

Di WC umum pinggiran Semarang, terpampang foto Ketua DPR, Yang Mulia Putri Mahkota Puan Maharani. Ya saya tahu, kota ini memang kantong penting PDI-Perjuangan, tapi sengaja memasang baliho salah satu pembesar partai di WC, saya kira kok strategi yang enggak perlu. Pasalnya, selain mengurangi kesyahduan dari pengunjung WC umum, menaruh wajah ayu dan rambut klimis Puan di lingkungan perkampungan yang mayoritas bekerja sebagai buruh bangunan adalah penghinaan berat.

Enggak seharusnya politisi terhormat macam Puan dihargai dengan menaruh potret dirinya di WC, tempat di mana kotoran manusia dibuang tiap hari. Apalagi politisi sekaliber Puan selama ini terkenal getol membela suara-suara hak kaum tertindas, termasuk buruh bangunan, meskipun ngebelainnya ya cuma di atas kertas atau lewat slogan kosong “Partai Wong Cilik”. 

Selain itu buat saya, baliho yang berisi kata-kata mutiara ini tak mengubah apapun untuk para pengunjung WC umum atau warga sekitar. Mereka cuma tahu, Puan mungkin memberi sinyalemen bakal maju di Pemilihan Presiden (Pilpres), sehingga harus menjaga eksistensinya lewat medium promosi. Titik.

Namun di saat yang lain, para buruh bangunan yang biasa berak di WC umum ini tetap harus mengisi perut mereka. Jalan satu-satunya dengan mengangkat batu, berlumuran semen dan pasir bangunan, serta panas-panasan pasang genteng rumah orang. Jadi, alih-alih menunjukkan eksistensi dirinya sampai di ruang paling privat warga (baca: toilet), kenapa enggak menunjukkan kehadiran yang sesungguhnya dengan melayani langsung? Lagipula, uang yang dipakai untuk pasang baliho itu sebenarnya bisa lho, Mbak Puan, membantu para buruh bangunan keluar dari gelembung kemiskinan pelan-pelan.

Tak cuma buat buruh bangunan, baliho Puan yang dipasang di WC umum dekat sekolah anak juga relatif ironis. Ada banyak sekali guru-guru honorer yang hidupnya Senin-Kamis dan khawatir setiap melihat meteran listrik di rumah kedip-kedip. Namun, ketimbang membantu mereka, Puan dan timnya sekali lagi memilih memperkenalkan diri lewat baliho-baliho besar tanpa melakukan hal konkret untuk mencuri hati rakyat.

Baliho bergambar politisi jadi penegasan bahwa orang-orang miskin ini cuma dianggap sebagai statistik, benda mati yang bakal mengantarkan mereka ke kursi kepemimpinan. Urusan melayani kepentingan rakyat itu belakangan. Dengan begini, Puan barangkali memang bukan politisi yang baik, atau jangan-jangan memang politisi baik itu tak pernah ada?



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura