Baliho Puan, Meme, hingga Desakralisasi Parpol
Bangku belakang

Baliho Puan, Meme, hingga Desakralisasi Parpol

Terima kasih Puan, berkat Anda, anak muda makin tak percaya pada partai politik.

OLEH: Rusda Khoiruz Zaman

Alih-alih mencobai satu-persatu genre bertahan hidup, aku justru sibuk sambat. Bisa kalian temui di Ig: rusda_khoiruz dan Twitter @maaaan_anyatiga

Fenomena kemunculan baliho “Kepak Sayap Kebhinekaan” lengkap dengan pose Yth. Puan Maharani telah menyita perhatian puluhan juta orang Indonesia. Sesuai namanya, baliho (biar dilihat orang) ini muncul di sembarang tempat umum, mulai dari papan reklame, banner yang diikatkan di antara dua pohon di perempatan jalan, hingga poster-poster di tembok kota. Walhasil, siapa pun mustahil lolos dari kepungannya. Suatu kali seorang teman saya sampai nyeletuk, “Baliho-baliho Puan ini lama-lama seperti Tuhan saja. Ke mana-mana aku merasa selalu diawasinya.”

Saya yakin banyak orang dibikin kesal dengan fenomena kemunculan baliho Puan karena jadi polusi ruang publik. Kehadirannya memang tidak tanggung-tanggung, banyak sekali. Bahkan sejauh mata memandang saat berkendara, adalah baliho “Kepak Sayap Kebhinekaan” yang saya lihat. Tampaknya, pemasangan baliho tersebut sengaja dilakukan serentak se-Indonesia oleh tiap perwakilan cabang partai berlambang banteng itu. 

Untungnya, ada kabar baik soal baliho ini, yaitu rakyat yang jengah menjadikan medium narsis politisi itu sebagai bahan guyonan atau parodi. Di WhatsApp, seturut dengan hebohnya baliho itu, muncul banyak stiker bergambar banteng lengkap dengan kata-kata lucu dan menohok seperti “Seruduk nih”. Ada juga stiker Patrick Star, teman Spongebob, yang kepalanya diganti kepala banteng disertai kata-kata “Nanti diseruduk nangys”.

Situasi di Twitter lebih parah lagi. Fenomena memparodikan partai berlambang banteng ini sudah sampai pada taraf satir dan komedi gelap. Suatu kali ketika saya tengah scroll linimasa Twitter, ada gambar klub bola kenamaan yang sepintas mirip dengan lambang Manchester United, tapi namanya Manchester Perjuangan dan lambang setan merah di tengahnya diganti dengan kepala banteng. Ia lengkap dengan twit, “Main bola tapi yang kegocek penerima bansos.” Ada juga yang mengganti foto Puan dengan foto fenomenal Suzanna, bintang film horor Indonesia kurun waktu 1950-an sampai 1990-an, yang seolah-olah melotot ke mereka yang melihatnya. Benar-benar terasa sekali aura horornya. 

Pada titik ini, saya melihat keberhasilan gemilang seorang cucu Bung Besar kita dan partainya. Bukan cuma berhasil mengangkat citranya serta menghibur rakyat, Puan beserta partainya sukses mengajak kita mendesakralisasi partai politik yang selama ini digadang-gadang sebagai kekuatan politik Indonesia yang kokoh dan nyaris tak tergoyahkan. 

Keberhasilan Puan dan partainya boleh jadi adalah fenomena baru yang, saya yakin, jadi titik balik perpolitikan Indonesia. Ya habis gimana, disuguhi parade politisi tua anti-kritik, dekaden, haus pencitraan, dan tukang lips service, pasti bikin capek dong. Karena itulah, ramai-ramainya orang melancarkan kritik lewat berbagai bentuk meme, troll, dan parodi adalah serangan telak pada elitisme parpol. Tak perlu lewat kajian ndakik-ndakik, parpol sudah “dipermalukan” dan dilucuti wibawanya dengan cara remeh begini.

Saya kira setali tiga uang dengan hal tersebut, rakyat mulai sadar, parpol beserta elite-elitenya bukan sarana yang dapat dipercaya dititipi hajat hidup orang banyak. Bahkan, bukan tidak mungkin 15-20 tahun ke depan, para kawula muda Indonesia tidak lagi bercita-cita masuk parpol guna mengubah sistem dari dalam. Pasalnya, sejarah membuktikan, banyak tokoh pergerakan era 1998 yang jadi bagian sistem, lalu tidak mengubah apa pun.

Fenomena desakralisasi partai politik ini tentu saja harus kita sambut dan rayakan dengan suka cita. Pasalnya, dengan begitu, bakal muncul pemikiran-pemikiran alternatif yang lebih segar serta kreatif. Fenomena ini sekaligus menyadarkan bahwa perbaikan sistem perpolitikan Indonesia tidak melulu mesti dilakukan dari atas ke bawah, tapi bisa dimulai dari akar rumput. Ia bisa dilakukan melalui kerja-kerja politik yang muaranya menyadarkan sanak saudara, teman, keluarga, orang di sekitar atas kondisi demokrasi yang kian hari makin memprihatinkan. Pun, ia dapat dilakoni dengan menggalang persatuan dan solidaritas, seperti gerakan rakyat bantu rakyat semasa pandemi. 

Akhir kata, terima kasih, Puan. Berkat baliho “Kepak Sayap Kebhinekaan” Anda, anak muda seperti kami yang kehilangan arah jadi makin mantap mau meneruskan jejakmu masuk parpol. Tapi bohong.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura