Puitisnya Nonton Baliho Airlangga di Lampu Merah bareng Pacar
Bangku belakang

Puitisnya Nonton Baliho Airlangga di Lampu Merah bareng Pacar

Bosan dengan gaya pacaran yang biasa-biasa saja? Coba normal baru dengan pacaran di lampu merah, berpegangan tangan, sambil memandangi senyum manis politisi di baliho.

OLEH: Raihan Rizkuloh Gantiar Putra

Penulis adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris Unpad. Hobi nonton dan main bola dan membaca dan sesekali menulis. Temui penulis di akun Instagram @raihanrgp_

Selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)--yang konon akan diperpanjang melulu sampai kiamat--saya benar-benar diam di rumah saja. Membaca buku, mendengarkan musik, nonton film, atau sesekali bermain media sosial adalah kegiatan pembunuh bosan. Hal yang bisa membangkitkan sedikit kebahagiaan paling mentok adalah bertukar pesan atau telponan bareng pacar. Menariknya, alih-alih membahas romansa berdua, kami lebih banyak menggunjingkan kelakuan narsis politisi yang memasing wajah mereka di baliho-baliho kota hingga jadi bahan meme. 

Suatu hari muncul ide untuk nonton langsung baliho politisi, karena selama ini kami cuma mendengar atau melihatnya di media sosial. Saat tiba waktu kunjung pacar (wakuncar), saya janjian dengan pacar nongkrong ke kafe di Jatinangor, Bandung. Kami berdua sudah divaksin, dan saat itu memilih jalan-jalan meluncur dengan sepeda motor. 

Di tengah jalan, tiba-tiba pacar saya curhat, “Aku kesel liat banyak banget baliho Airlangga di sepanjang jalan waktu ke Sumedang.”

Mulanya saya tak merespons apa-apa—lebih tepatnya, saya tak tahu harus merespons bagaimana. Pasalnya, saya belum melihat langsung baliho di jalan sebelumnya. Sesampainya kami di Jatinangor, ada baliho kuning besar Airlangga Hartarto dengan kemeja putih dan kepalan tangan nan mantap. Wajah Airlangga jelas menyiratkan pose khas bapack-bapack yang disuruh tersenyum saat hendak difoto: senyum yang canggung dan terpaksa. 

Sebetulnya, tidak ada yang spesial dari baliho Airlangga Hartarto, atau baliho politisi mana pun sejak Pemilu 1955. Selain dangkal dan tak punya efek praktis terhadap kebutuhan masyarakat, baliho politisi memang seharusnya ditiadakan saja, apalagi di daerah urban.

Ini baru soal manfaat. Mari kita lihat slogan yang terpampang dalam baliho Airlangga: “Kerja untuk Indonesia”. Saya tak paham, apa yang dimaksud “Kerja untuk Indonesia”. Kita memang harus dan akan selalu bekerja karena lagi-lagi urusan perut memang tak bisa ditawar. Namun, bukankah memaksa orang untuk bekerja di tengah pandemi adalah paradoks? Bahwa di tengah kebijakan pembatasan, pemerintah menerapkan standar ganda agar masyarakat bisa tetap jadi mesin cuan untuk negara?

Terlepas dari kritik tersebut, pada akhirnya saya dan pacar merasa lelah berkomentar lebih jauh. Pasalnya, yang terpenting adalah sayang-sayangan setelah lama tak bertemu karena PPKM. Kami lebih memilih tertawa-tertawa, berpegangan tangan di lampu merah, sambil bersama-sama nonton baliho Airlangga selama sekian menit sesuai durasi lampu merah. Amboy, puitis betul. “Very poetic!” kata orang Jepang ketika ia bertemu Mas Adam Driver di akhir film Paterson (2016).



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura