Dari Baliho Ultah hingga Politisi, Sia-sia dan Bikin Sakit Mata
Bangku belakang

Dari Baliho Ultah hingga Politisi, Sia-sia dan Bikin Sakit Mata

Uang jutaan untuk memasang baliho cuma demi bernarsis ria dan tak berdampak signifikan. Lalu buat apa?

OLEH: Muhammad Al Fatih

Seorang wibu nanggung yang menghabiskan berbulan-bulan mengenang mantan fujonya.

Jauh sebelum ramai spanduk dan baliho kampanye, di kotaku, Samarinda, kami sudah terbiasa melihat orang “membuang” uangnya demi sebuah baliho. Isinya bukan promosi produk tapi ucapan selamat ulang tahun. Di daerah simpang empat Mal Lembuswana misalnya, seorang pria memberikan ucapan selamat ulang tahun ke-26 pada istri lewat spanduk. “Barakallahu Fii Umrik Istriku,” bunyi baliho itu.

Saya merasa auto-terzalimi melihat orang kaya membuang uangnya, merebut ruang publik dengan ucapan yang mestinya bisa dilakukan di ruang privat. Saat dikonfirmasi oleh wartawan setempat, pria itu bilang, ide memasang baliho tercetus spontan karena bingung harus memberi kejutan apa untuk sang istri. Sebagai informasi, Mal Lembuswana, tempat ia memasang baliho adalah titik paling strategis di tengah-tengah kota, sekaligus kota yang ramai dilewati pengendara. Ada area perkantoran dan beberapa rumah makan di sana. Walhasil, saya menduga biaya memasang baliho tak memakan uang sedikit.

Lucunya, beberapa bulan berselang, banyak baliho berisikan ucapan selamat ulang tahun dari suami untuk istrinya bertebaran. Baliho dipasang di berbagai tempat, mulai dari perempatan Ijabah di dekat Sungai Mahakam, di depan Pasar Segiri, dan tempat-tempat yang banyak dilewati penduduk Samarinda lainnya. Tren ini berkembang dari sekadar ucapan ke istri menjadi ucapan ke anak. “Happy Blessed Sweet Seventeen,” bunyi salah satu baliho yang terletak di Jalan Untung Suropati. Ada satu yang bahkan lebih menyebalkan di mana baliho tersebut bertuliskan “Selamat Ulang Tahun Kepada Diri Saya Sendiri”. 

Tren baliho ucapan ultah berubah sejak Negara Api menyerang. Maksudnya, sejak para politisi bersiap untuk Pemilu 2024. Spanduk-spanduk dan baliho berwarna kuning, merah, hijau bikin polusi visual makin menjadi-jadi.

Spanduk-spanduk dan baliho yang bertebaran sekarang ini sepertinya bukan hanya masalah sampah visual. Yang lebih penting tentu saja adalah nihilnya sensitivitas politisi dan orang kaya tersebut. Masalah pandemi di tengah masyarakat kita belum selesai, tapi Pemilihan Presiden sudah dimulai lebih cepat.

Kenapa politisi-politisi itu, yang tentu menghabiskan uang jutaan rupiah bahkan miliaran untuk baliho, tak bagi-bagi sembako atau mensubsidi warga kesulitan selama pandemi?



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura