Setelah Baliho “Itu”, Ko Belok Kanan!
Bangku belakang

Setelah Baliho “Itu”, Ko Belok Kanan!

Baliho politisi membantu saya memberi ancer-ancer jalan atau alamat ke teman.

OLEH: Nasrullah

(Calon) Bapak rumah tangga yang gemar menulis.

Coba bayangkan jika kamu punya kesempatan jalan-jalan ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Sebelum berangkat, kamu mengetik kata “Kendari” di laman mesin pencari. Klik submenu “gambar”. Hasilnya ialah bangunan masjid megah di tengah teluk, jembatan layang berwarna kuning dan kokoh seperti Ampera di Palembang, laut biru, langit cerah, beberapa kuliner boga bahari. Semangat berangkat, kan? Sekarang, bayangkan kamu tiba di Bandara Haluoleo. Begitu keluar dari area bandara, kamu disambut deretan wajah politisi.

Itulah yang saya alami saat berkunjung ke Kendari jelang Pilpres 2019. Berbagai macam wajah orang, baik perempuan maupun laki-laki, terpampang di pinggir jalan seperti rambu lalu lintas. Bahkan, saking banyaknya, poster, baliho, dan spanduk itu sudah seperti bendera merah putih kala bulan kemerdekaan. Ramai sekali. Sebagai perantau yang ingin bernostalgia di kota kelahiran yang saya tinggalkan lebih dari 20 tahun lalu, saya dipaksa melihat wajah-wajah berkopiah dan berkerudung di mana-mana, lengkap dengan logo partainya. Laut dan langit indah kami lenyap ditelan baliho.

Saudara yang menjemput saya di bandara bahkan mengatakan ada baliho wajah pejabat yang sudah di situ lama sekali, sehingga menjadi patokan arah atau jalan bagi warga setempat. “Nanti setelah balihonya X, ko (kamu) belok kanan.”

Saya hanya tersenyum mendengarkan cerita itu. Saat malam hari, lampu sorot yang dipasang di atas poster raksasa itu biasanya sangat terang. Walhasil, wajah besar para politisi kian menonjol. Namun, tak bisa dimungkiri, saat saya lewat di sekitar Jalan Ahmad Yani, ada juga manfaat baliho itu. Selain bisa jadi patokan arah, cahaya lampu sorot itu cukup membantu penerangan jalan yang kurang terang. 

Pertemuan saya dengan baliho selama di Kendari juga terjadi saat saya ke pinggiran. Dalam perjalanan ke luar kota arah Abuki, di satu titik tidak ada penerangan apalagi perumahan. Namun, ada beberapa poster politisi eksis di sana, ditempel di dinding penahan tanah atau jembatan. Masuk ke kota berikutnya, baliho dengan rangka bambu pun menggantikan iklan objek wisata setempat. Bahkan, di Kota Kendari, area pemakaman pun tak luput dari wajah-wajah politisi ini. Otak saya berpikir keras, apakah mungkin para politisi ingin mendulang suara dari jenazah?

Wajah-wajah ini membuat mata saya sakit. Keinginan untuk melihat sudut-sudut kota dengan harapan mengembalikan kenangan masa kecil seketika sirna, terutama saat mengunjungi Pantai Kasilampe tempat saya biar berlibur bersama keluarga dengan pemandangan laut lepas dan warna biru. Sekarang, bertambah dengan wajah para politisi sedang mengadu nasib mengais dukungan orang agar segera mendapat pekerjaan sebagai pejabat publik.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura