Drama Itu Berjudul “Grup Hoaks” Keluarga
Bangku belakang

Drama Itu Berjudul “Grup Hoaks” Keluarga

Percakapan di grup WhatsApp keluarga kami ibarat drama menyebalkan, bikin saya geleng-geleng kepala.

OLEH: Santi Hidayanti

Seorang mahasiswi tingkat akhir, yang senang tulisannya dibaca

Mulanya adalah silaturahmi. Itu alasan Bapak saat mengundang saya bergabung dengan grup WhatsApp keluarga. Kenyataannya, silaturahmi itu tak benar-benar terjadi karena grup keluarga kami didominasi oleh pertengkaran Ibu, Bapak, Pakde, Bude, Om, dan Tante saja--boomers. Sementara itu, kami anak-anak muda yang sesekali gatal mengkritisi informasi keliru di grup, diperlakukan bak kerbau dicocok hidungnya.

“Anak kecil, bodoh, enggak tahu apa-apa, masih bau kencur,” begitu pasti gumam mereka pada kami yang rerata masih berusia 20-an tahun. 

Kalau sudah begitu, saya diam-diam menyesal, “Ngapain tadi ikut komentar, nyesel udah gabung grup. Coba aja bukan Bapak yang undang.”

Buat saya, dalih silaturahmi lewat grup WhatsApp keluarga adalah ide buruk. Yang terbaik mestinya tak dilakukan via daring, tapi tatap muka. Pasalnya, pesan yang dikirim melalui platform media sosial semacam ini dapat menimbulkan tafsir ganda, tergantung siapa yang membacanya, bahkan bisa memicu baku hantam antaranggota seperti yang terjadi di keluarga kami pada situasi tertentu. Efek berantemnya betulan, kami bisa saja setop menyapa di dunia nyata jika sudah tersinggung lantaran membaca pesan, atau tak terima jika hoaks di grup dikritisi oleh anggota keluarga lainnya.

Salah satu episode drama yang saya ingat adalah ketika Om mengirimkan tautan pesan dari Kementerian Sosial. Begini ucap pesan tersebut, “Untuk mendapatkan bantuan subsidi pulsa, silakan berpartisipasi dan klik link berikut ini.”

“Hoaks itu,” celetuk saya spontan. Pesan semacam itu, kata saya, jangan pernah diklik tautannya karena bisa jadi ini adalah teknik phising atau modus penipuan yang belum kita tahu cara kerjanya dan berbahaya untuk gawai atau data pribadi kita.

Anak-anak muda di grup keluarga sepakat dengan saya. Nahas, alih-alih berbuntut baik, tanggapan yang seharusnya dimaknai sebagai pelurusan informasi itu justru membuat para orang tua tak terima. Kami jadi saling bersitegang. Niatnya silaturahmi, malah jadi saling menzalimi.

Padahal apa yang saya sampaikan bukan semata-mata mau terlihat paling pintar. Saya hanya ingin berbagi informasi berdasarkan pengalaman nyata yang pernah dialami oleh teman dekat. Beberapa waktu sebelumnya, sahabat saya mengklik tautan dari perusahaan jasa angkut daring berisi kolom nomor rekening yang harus diisi olehnya di gawai. Ia mendapat informasi telah memenangkan undian jutaan rupiah. Namun, usai mengecek rekeningnya, ia menangis sejadi-jadinya karena hadiah yang dijanjikan tak pernah datang. Sebaliknya, isi tabungannya justru terkuras habis oleh perusahaan jasa angkut abal-abal tersebut.

Ah, tapi daripada memercayai kritik atau memverifikasi informasi lewat cekfakta.com, media massa, atau turnbackhoax.id, beberapa orang tua di grup keluarga kami lebih memilih terlibat drama (pertengkaran) bermusim-musim, ratusan episode. Celakanya, mereka semua berebut jadi aktor utama.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura