Antara Mamak, Dr. Lois, dan Hoaks COVID-19
Bangku belakang

Antara Mamak, Dr. Lois, dan Hoaks COVID-19

Capek-capek lari dari hoaks Covid-19 dengan tak membuat grup keluarga, nyatanya kami tetap dibuntuti di media sosial. Kasihan Mamak.

OLEH: Gtzykr

Seorang ayah yang berharap anaknya nanti akan lebih suka baca kajian media seperti remotivi ketimbang media komersil kayak trib*n... instagram saya gak usah ya soalnya isinya gak menarik kayak tulisan saya.

Enggak seperti keluarga lain yang punya grup WhatsApp keluarga, kami menolak membuatnya. Aku juga selalu melarang kedua adikku untuk sok ngide bikin grup “neraka” itu. Pun, aku bersyukur tak ada anggota keluarga besar yang berniat terhubung di grup WhatsApp. Aku sering bilang ke Mamak, komunikasi personal alias chat pribadi jauh lebih afdhol ketimbang ngobrol di grup besar. Untungnya, Mamak enggak sadar itu cuma alasanku demi menjauhkan dia dari hoaks yang makin ngadi-ngadi di masa kini.

Sebenarnya sudah dari 2017 Mamak minta dibelikan ponsel pintar, berbeda dengan Bapak yang baru meminangnya dua tahun belakangan. Sejak punya ponsel ini, Mamak jadi rajin berselancar di dunia maya. Bahkan, ia mulai aktif berjejaring di media sosial, terutama Facebook. Dari sinilah tragedi bermula.

Mamak hobi sekali mencari informasi dari Facebook lalu menelannya mentah-mentah. Yang terbaru adalah hoaks yang digaungkan oleh dr. Lois, salah satu orang yang menolak percaya virus Covid-19. Salah satu narasi absurd yang celakanya diamini oleh Mamak adalah soal Covid-19 yang cuma akal-akalan negara. “Kalau enggak dites pasti enggak positif, Covid-19 ada karena tes usap.” Opini itu secara organik memengaruhi alam bawah sadar Mamak. Dia pun enggak percaya COVID-19 sama sekali.

Aku pusing.

Beberapa upaya aku coba agar Mamak berhenti jadi “hamba” dr. Lois. Aku mencari beberapa artikel di internet dan menemukan tulisan yang menyebutkan bahwa junjungan Mamak itu memiliki gangguan jiwa. Alih-alih percaya, dengan santainya Mamak komentar, “Jangan terlalu percaya sama tulisan kayak gitu. Bisa aja itu cuma cara untuk menjatuhkan dr. Lois. Orang kalau berbuat benar pasti ada melulu yang enggak suka.”

Sial. Di titik ini, Mamak tampaknya sudah mulai halu menganggap dr. Lois sebagai pahlawan. 

Percikan baku hantam mulai muncul. Aku, Mamak, dan keluarga diskusi panjang lebar--lebih mengarah ke debat--soal hoaks sialan ini. Satu kalimat penutup yang aku ingat waktu itu, aku bilang ke Mamak setengah mengancam, “Ya sudah kalau memang Mamak mau ikut enggak percaya Covid-19, tapi jangan pernah membagi hoaks itu ke internet. Jangan sampai nanti orang sini (keluarga kami) jadi enggak percaya Covid-19 juga, masa bodoh dengan protokol kesehatan, lalu pulang ke rumah nularin virus ke anakku.”

Sepertinya Mamak kapok mendengar pernyataanku. Sebab, sampai sekarang Mamak enggak pernah nonton video dr. Lois dan akun-akun lain yang pro dengan opininya. Sampai sekarang aku masih sering mengingatkan ke Mamak untuk berhati-hati di internet. Aku rasa dengan komunikasi yang baik, orang tua pasti akan tetap mendengarkan nasihat kita. Meskipun dalam berbagai situasi, aku akui, relatif susah berdebat dengan orang tua. Kalau dibantah terus nanti malah jadi sakit hati dan dianggap melawan. Namun, jika di-iya-kan bisa jadi bumerang.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura