Jangan Berhenti di Kamu...
Bangku belakang

Jangan Berhenti di Kamu...

Sebuah tips memerangi hoaks di grup keluarga yang mungkin berguna. Saya sudah mencobanya.

OLEH: Akbar Malik

Mahasiswa biasa lagi skripsian, bisa dijumpai di @akbarmalikan

Pertama, kita perlu bersepakat, grup keluarga adalah sarang penyebaran berita hoaks. Dari tema politik, ekonomi, sampai selebriti, hoaks disebarkan oleh mereka yang mayoritas terlambat bersinggungan dengan teknologi digital. Riset yang dilakukan New York dan Princeton University mengonfirmasi ini. Menurut peneliti, orang di atas 65 tahun membagikan tujuh kali lebih banyak berita hoaks dibandingkan mereka yang berumur 18-29 tahun. Dengan kata lain, penyebar hoaks terbanyak adalah orang tua, Kakek, Nenek, Om, Tante, Kakak kita sendiri.

Para boomers yang lahir pada 1946-1964 ini cenderung spontan membagi informasi atau berita yang mereka anggap menarik dan valid. Reaksi mem-forward berita-berita yang belum diverifikasi ini adalah bentuk “culture shock” terhadap dunia digital.

Awalnya, saya sering senewen ketika para orang tua dengan semangat ‘45 menyebarkan hoaks di grup keluarga. Namun, lama-lama saya jadi paham, menentang pendapat mereka saat itu juga justru rentan memperburuk keadaan.

Saya sendiri memiliki tiga grup keluarga. Satu grup keluarga inti yang terdiri dari orang tua dan adik-adik, serta dua grup keluarga besar. Dari ketiga grup keluarga besar tersebut, yang paling tinggi arus informasi dan potensi penyebaran berita hoaksnya adalah dua grup keluarga besar. Grup itu diisi oleh banyak sekali Om dan Tante yang usianya di atas 45 tahun. 

Pernah suatu waktu, Om saya menyebarkan berita tentang imbauan akan diadakannya razia kendaraan bermotor besar-besaran di sejumlah lokasi di Bandung. Berita itu memuat daftar nama jalan yang akan dijadikan tempat razia. Seperti berita hoaks pada umumnya, teks itu ditulis dengan bahasa yang persuasif seperti, “jangan hanya sampai pada Anda,” “sekilas info, “hanya mengingatkan”.

Jika pesan berantai ini disebarkan berkali-kali di WhatsApp, maka akan muncul tanda di atasnya: forwarded many times. Teks berita razia tersebut adalah salah satu yang memiliki tanda itu. Membaca teks yang tidak jelas, saya tidak bisa diam. Hanya dalam satu menit menggunakan mesin pencarian Google, sudah banyak berita klarifikasi yang menyatakan bahwa berita itu bohong.

Saya screenshot judul berita yang mengklarifikasi bahwa pesan berantai tentang rencana razia itu hoaks, plus tautan berita agar lebih valid. Saya bilang di grup, “Maaf Om, tapi katanya berita itu hoaks,” sambil mengirim screenshot-an dan tautan yang sudah saya siapkan sebelumnya. Merespons saya, Om dan Tante yang lain justru mengapresiasi. Si Om yang jadi aktor penyebar berita hoaks membalas dengan dua emoji jempol ala bapak-bapak. Saudara-saudara lain kompak berterima kasih.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar satu hal. Kalau ada berita hoaks di grup keluarga, jangan langsung tersulut. Tips pertama, tertawakan saja dan pahami, berita yang menarik bagi boomers ibarat mainan yang ingin segera dibagikan kepada keluarga. Tips kedua, agar kita bisa jadi pemberantas berita hoaks di grup-grup keluarga, sampaikan pesan klarifikasi dengan santun dan humanis. Tips ketiga, jangan jadi penyebar hoaks.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura