Pendidikan Dialogis: Jurus Ampuh Tangkal Hoaks dalam Keluarga
Bangku belakang

Pendidikan Dialogis: Jurus Ampuh Tangkal Hoaks dalam Keluarga

Ayah saya yang seorang ustaz mungkin masih sebatas membagi informasi hoaks di grup keluarga. Namun, bagaimana jika ia menyebarkannya pada umat?

OLEH: Novandy Fiardillah

Seorang pengangguran yang terpelanting dari pasar tenaga kerja. Sibuk membagikan shitpost di Facebook dan meresensi buku di Instagram @convolute.n

Ayah saya adalah seorang religius konservatif, saya akui itu. Sebagai seorang yang sering disebut ustaz di kampung kota tempat saya tinggal, Ayah sering mencari inspirasi untuk bahan ceramahnya. Selain dari deretan buku Islami yang terpajang di sudut ruang kerjanya, ada sumber baru yang biasa ayah saya pakai sejak memiliki ponsel pintar: informasi dari grup WhatsApp dengan sumber entah dari mana.

    Sejak ada grup keluarga, ia tak pernah berhenti memberikan informasi yang didapatnya dari “grup sebelah”. Isi dalam informasi tersebut cukup beragam. Mulai dari manfaat puasa, salat malam, tips diet untuk ibu yang mengalami obesitas, konspirasi Jokowi PKI, elite China global, dan invasi dari pekerja China yang mengerjakan proyek jalan tol.

     Perilaku ayah saya di media sosial jelas membuat saya sebagai anak cemas. Ayah saya mungkin masih membagi informasi tersebut di grup keluarga, tetapi bagaimana jika ia membagi informasi ini di forum dan ruang publik? Bagaimana jika ia menyitir informasi tersebut untuk dimasukkan sebagai referensi dalam ceramah dan khotbah Jumat? Bagaimana jika ada orang yang memercayai informasi ini dan berbuat di luar akal sehat yang kita miliki?

      Pertanyaan itu lantas mengantarkan saya dalam pemikiran Paulo Freire, filsuf pendidikan sekaligus pengajar yang berjasa dalam memberantas buta huruf di Brazil pada dekade '70-an. Dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas, Freire menjelaskan konsep conscientization atau penyadaran kaum yang tertindas. Freire sendiri membagi kesadaran berdasarkan tiga tingkatan yang mencakup kesadaran mitis, kesadaran naif, dan kesadaran yang menjadi tujuan utama Freire, kesadaran kritis. Conscientization sendiri hadir sebagai metode pendidikan masyarakat untuk mendapatkan kesadaran kritis melalui dialog.

     Dalam  conscientization, Freire menggunakan metode yang menghilangkan batasan antara guru dan murid. Guru tak seharusnya lebih pintar daripada murid, dan murid tak seharusnya lebih bodoh daripada guru. Proses belajar ala Freire dilakukan melalui metode dialogis yang memungkinkan guru dan murid berada dalam posisi yang setara. 

     Pemikiran Freire tersebut lantas menginspirasi saya untuk mengaplikasikannya di ranah keluarga. Saya rasa perlu ada dialog dengan ayah dan anggota keluarga lain untuk menjelaskan bagaimana arus informasi di media sosial dewasa ini. Setidaknya, ayah saya perlu keluar dari jebakan bernama hoaks.

    Awalnya, saya cukup segan untuk berbicara dengan ayah hingga saya pun merumuskan sebuah strategi baru. Saya memutuskan untuk memulai dialog bukan dengan ayah, melainkan dengan adik saya. Dalam dialog tersebut, kami berdiskusi mengenai isu ringan yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja tugas sekolah, psikologi populer, bagaimana alam bekerja, dan lain sebagainya. Diskusi tersebut berbuah manis. Adik saya antusias, dan ayah kami memutuskan untuk 'nimbrung' berdiskusi.

    Pascadiskusi tersebut, kami lebih sering berdiskusi lebih banyak mengenai isu terkini di grup keluarga kecil. Kebiasaan ayah saya membagikan berita hoaks mulai hilang secara perlahan. Selain itu, ayah saya bahkan sering kali bertanya pada saya terkait informasi hoaks di internet. Begitu juga sebaliknya, saya sering bertanya padanya terkait hukum agama yang sedikit saya ketahui.

     Membangun keluarga jelas tak bisa mengandalkan egoisme dan sikap anti-kritik. Membangun keluarga perlu sikap yang terbuka terhadap berbagai pemikiran yang berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Jika Tolstoy berkata setiap keluarga bahagia pasti memiliki jalan untuk tidak berbahagia, maka keluarga yang kritis, dialogis, dan demokratis merupakan jalan bagi keluarga bahagia di era banjir informasi.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura