Kalau ditanya apa yang saya inginkan dalam kerja jurnalististik yang saya geluti dan menghidupi saya selama beberapa tahun terakhir, yang paling saya inginkan adalah kesempatan untuk membuat laporan-laporan yang akan diingat orang jauh di kemudian hari.

Namun pandemi membuat hampir semua profesi menemui kesulitan. Selain sulit untuk bekerja, sebagian juga dibayang-bayangi ketakutan kehilangan pekerjaannya sewaktu-waktu, termasuk para jurnalis yang bekerja di daerah seperti saya.

Maka bisa dibayangkan bagaimana kami yang terpaksa bekerja dari rumah untuk membuat laporan lantaran cemas meliput di lapangan. Kerja jurnalisme yang tak disertai terjun lapangan itu sendiri sangat menjemukan. Laporan-laporan yang terbit dari daerah pun rasa-rasanya jadi kehilangan tenaga.

Sebulan setelah kasus pertama Covid-19 diumumkan di Yogyakarta pada 15 Maret 2020, sekelompok jurnalis di Yogyakarta menerbitkan laporan soal potret penanganan Covid-19. Laporan dikerjakan dengan kolaborasi, naskahnya jadi begitu bertenaga.

Haris Firdaus (Harian Kompas), Arif Hernawan (Gatra), Bhekti Suryani (Harian Jogja), Nurhadi Sucahyo (VOA Indonesia), dan Eko SP (Pandangan Jogja) mengerjakan laporan yang diterbitkan serentak dan mendesak Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mengkaji pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Belakangan setelah laporan mereka terbit, saya bersama dua jurnalis lain, Hendrawan Setiawan (CNN Indonesia TV) dan Pito Agustin (IDNTimes), ikut bergabung. Editor meminta saya nimbrung dengan jurnalis-jurnalis yang sebagian sudah saya kenal sebagaimana seorang junior mengenal seniornya.

Dalam kolaborasi ini, tak ada kontrak, tak ada aturan ketat. Alih-alih pendanaan, kolaborasi hanya berdasar inisiatif jurnalis atau dari ruang redaksi masing-masing. Kami bekerja sebagaimana biasanya. Bedanya, kami menyepakati tema yang sama, membagi tugas untuk sebuah laporan yang kami kerjakan masing-masing untuk media kami bekerja.

Dari delapan orang jurnalis, saya adalah yang paling muda. Belum genap lima tahun saya menjadi jurnalis. Maka tugas utama saya sebetulnya adalah belajar dari tujuh jurnalis lainya.

Saat laporan kedua mulai dikerjakan, kami menyoroti soal kasus-kasus Covid-19 yang tak dilaporkan dan tidak dicatat oleh pemerintah daerah. Prosesnya tak pendek. Kami beberapa kali melakukan pertemuan daring. Haris Firdaus tekun mengoordinasi kami untuk selalu menyampaikan progres liputan.

Kami mencari data kematian selama pandemi yang dimakamkan dengan protokol Covid-19. Hasilnya, kami menemukan sejumlah data orang-orang yang meninggal dengan gejala Covid-19 dan dimakamkan dengan protokol Covid-19 namun tak tercatat oleh Pemda DIY.

Berbagai sumber data kami coba akses. Pada titik-titik tertentu saya mendapatkan pelajaran penting. Akses data tak mudah diperoleh lantaran beberapa otoritas enggan memberikan data secara detail. Lainnya ada yang bersedia memberikan data, namun masih bolong di sana-sini sehingga kami harus kerja dua kali. Kendati demikian, berkat dikerjakan secara keroyokan, data-data itu terkumpul juga.

Mengumpulkan data bukan perkara rumit bagi orang yang telah bekerja bertahun-tahun sebagai jurnalis semisal Hendrawan Setiawan, satu-satunya jurnalis televisi di antara kami. Ia adalah mantan Kepala Biro CNN Indonesia TV di Surabaya. Saya ingin meniru dan mempelajari kemampuannya menjalin relasi. Beberapa data penting seperti jumlah jenazah yang dimakamkan dengan prosedur Covid-19 adalah buah dari kerjanya.

Data-data penting tak akan pernah menjadi apa-apa dengan sendirinya. Kami melakukan analisis terhadap puluhan hingga ratusan data. Pekerjaan mengurasi dan menganalisis data selesai di tangan Haris Firdaus dan Bhekti Suryani. Mereka jurnalis generasi di atas saya. Ketekunan dan kecermatan mereka adalah hal yang juga ingin saya tiru.

Suatu ketika saat data yang kami dapat sudah cukup solid, saya kebagian mencari cerita sebagai pembungkus data supaya rapi. Hal ini dilakukan agar data kami tidak hambar dan laporan lebih bertenaga. Seorang keluarga pasien berhasil saya kontak dan bersedia dimasukkan ceritanya dalam laporan.

Semua keterangan saya dapat melalui komunikasi teks. Belakangan, itu jadi dilema. Saya tak dapat bukti apa pun kecuali pesan teks yang saya terima dari narasumber.

“Masalahnya kita enggak tahu itu benar dia orangnya atau tidak?” tanya Haris. Pertanyaannya benar belaka. Beberapa kali narasumber tak bisa dikontak. Rencana komunikasi melalui panggilan video batal. Narasumber bilang sedang menjalani isolasi di rumah sakit.

Kami harus memverifikasi narasumber jika kami ingin memasukkan cerita dia dalam laporan. Anggota keluarga lain coba saya kontak. Rekam jejak dan aktivitas digital kami coba telusuri. Dari situ kami yakin narasumber adalah orang yang kami cari.

Sebelum itu, verifikasi data sejumlah temuan sudah terlebih dulu kami lakukan ke otoritas. Kami harus mewawancarai banyak orang. Kerja wawancara ini mungkin dianggap sepele bagi sebagian jurnalis. Nyatanya, wawancara adalah hal yang juga krusial. Tanpa wawancara yang cermat, kita tak akan pernah mendapatkan apa-apa dari narasumber.

Lagi-lagi saya harus belajar dari yang berpengalaman untuk hal ini. Kecermatan wawancara adalah juga perkara jam terbang. Mereka yang punya pengalaman lebih banyak seperti Arif Hernawan, Pito Agustin, dan Nurhadi Sucahyo jadi bagian dari kami yang memiliki peran penting mempertajam wawancara dengan narasumber yang beberapa kali berlangsung berjam-jam. Pertanyaan-pertanyaan yang luput dan tak terpikir oleh saya bisa tiba-tiba muncul dari mereka. Narasumber yang hanya memberikan pernyataan memutar-mutar akan selesai dengan mereka.

***

Laporan kolaborasi kedua soal temuan kasus-kasus tak tercatat membuka jalan kami untuk menelusuri pendataan Covid-19 yang carut marut oleh Pemda DIY. Kami menyandingkan data dari berbagai sumber yang telah kami dapat untuk laporan ketiga.

Untuk mendapatkan data yang layak dan siap dikonfirmasi otoritas bukan perkara mudah. Kami menggali berbagai sumber. Sekali waktu kami harus beradu argumen untuk menentukan si A layak atau tidak kami masukkan ke dalam data kami. Meski memiliki latar belakang dan cerita yang memperkuat naskah, kami harus tetap berhitung apakah si A layak atau tidak kami masukkan ke dalam data.

Akibatnya, proses liputan menjadi cukup panjang. Namun, dengan data itu tak sulit setelahnya bagi masing-masing otoritas untuk mengonfirmasinya.

Data-data yang sejatinya sulit kami akses bisa kami dapat. Eko SP, yang belakangan mundur usai kolaborasi ketiga terbit, berperan penting mendapatkan pasokan data secara berkala sehingga kami bisa menyandingkan data pemerintah dengan data sumber lain.

Hasilnya, berdasarkan data dalam kurun dua bulan yaitu 13 Maret hingga 13 Mei 2020, ditemukan informasi relevan dari tiga kabupaten/kota yakni Sleman, Bantul, dan Kota Yogya. Setidaknya, terdapat lima pasien dalam pengawasan (PDP) meninggal belum diswab atau belum tes polymerase chain reaction (PCR) tapi dinyatakan negatif Covid-19. Selain itu, dalam periode yang sama ditemukan juga tujuh PDP yang hanya diswab satu kali namun dinyatakan negatif Covid-19. Padahal, Kemenkes mensyaratkan seseorang dapat dinyatakan negatif Covid-19 setelah melalui dua kali tes swab.

Temuan dalam laporan kolaborasi ketiga ini mendapatkan perhatian setelah sebuah organisasi nonprofit Lapor COVID-19, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta melakukan diskusi publik soal temuan tersebut. Diskusi mengundang pihak Pemda DIY.

Salah satu hasil rekomendasi diskusi adalah Pemda DIY diminta agar lebih transparan mengenai jumlah tes PCR yang telah dilakukan. Sehari setelahnya, Pemda DIY melaporkan mengenai tes PCR harian secara detail, meliputi jumlah spesimen dan jumlah orang yang diperiksa.

Perubahan kecil itu bikin saya sumringah. Entah laporan kami atau laporan saya—yang jelek saja belum itu—akan diingat orang atau tidak. Saya tidak tahu. Bagi saya, ada yang mau membacanya saja sudah syukur.

Peran saya dalam kolaborasi yang masih berjalan ini tak lebih dari seorang pembelajar. Saya adalah yang paling muda dan pendek pengalaman, yang berkali-kali masih bertanya “apakah jurnalisme bisa menghidupi saya”. Saya beruntung dapat belajar dari orang-orang yang barangkali dengan mudah bilang “jurnalisme adalah jalan hidup”.