Dengar-dengar, menjadi content reviewer ialah pekerjaan berat. Banyak kasak-kusuk mistis terkait pekerjaan ini, dari pekerjaan yang tanpa akhir hingga beban mental yang berskala traumatis. Sejauh ini, saya tak merasakan kesulitan-kesulitan luar biasa tersebut. Saya menikmati pekerjaan menjadi content reviewer.

Ketika saya diterima untuk bekerja, saya belum mengerti penuh pekerjaan ini. Saya lulus dengan gelar komunikasi. Saya dipersiapkan untuk menghadapi dunia hiburan seperti program televisi dan radio, dididik untuk tampil di depan layar maupun bekerja di baliknya. Tetap saja, nama pekerjaan content reviewer terdengar memusingkan sedari awal.

Apa yang saya lakukan setiap harinya? Saya dimandati tanggung jawab memeriksa satu-persatu konten video yang diunggah ke platform tempat saya bekerja dan saya kebagian content-content berbahasa Indonesia. Saya sebagai content reviewer harus menyaring betul agar konten-konten yang terbit menarik, menghibur, universal dan pantas ditonton oleh semua umur. Penikmat platform kami tentu saja tak hanya remaja dan orang tua. Anak-anak merupakan salah satu kelompok penonton terbanyak seiring rerata anak zaman sekarang punya akses ke gawai. Content creator tidak bisa mengunggah video mereka sebelum saya menyetujuinya. Sesegera creator memasukkan karya, karya mereka tersaji ke panel content reviewer.

Ada sekira tujuh ratus konten video berbeda-beda yang harus saya telaah setiap harinya. Banyak? Tentu saja. Kebutuhannya memang sebanyak itu, selain penikmat menginginkan tontonan yang berbeda-beda dan tidak menjemukan. Ketika diterjemahkan menjadi durasi, saya kurang-lebih harus memeriksa 7,5 jam video per hari. Saya menonton semuanya dan tidak bisa melewatkan satu adegan pun karena selalu ada kemungkinan konten negatif yang tersempil. Dalam video komedi bisa saja di tengah-tengahnya terselip konten nudity. Dalam video politik, bukan tak mungkin satu tokoh tiba-tiba menyindir yang lain, memantik pro dan kontra yang tak bisa ditonton semua orang.

Namun, sebagai content reviewer saya jarang merasakan kerja lembur. Saya mengatribusikannya ke kemampuan saya untuk memanajemen waktu dalam pekerjaan.

***

Berikut ialah sebagian genre content yang banyak saya hadapi setiap harinya:

Pertama, konten tentang bayi. Salah satu subgenre paling populernya ialah cute kids. Cute kids menampilkan bayi-bayi pintar berumur satu sampai tiga tahun yang menunjukan mimik muka lucu, imut, menggemaskan serta menirukan gerakan-gerakan yang dilihat olehnya seperti tepuk tangan atau melambaikan tangan. Selama memeriksanya, saya merasa berterima kasih kepada orang tua saya karena sudah merawat saya dari bayi sampai sekarang.

Kedua, konten tentang anak-anak kecil yang sudah memasuki usia sekolah dasar (SD). Konten ini biasanya mengangkat anak-anak SD yang sedang melakukan aktivitas bersama teman-temannya seperti bermain sepak bola, mainan anak-anak, atau belajar bersama. Konten ini mengingatkan saya dengan masa SD di mana beban hidup belum ada dan tugas saya hanya bersekolah.

Ketiga, konten pendidikan. Konten pendidikan kebanyakan mencakup materi-materi untuk jenjang pendidikan wajib. Seiring pandemi memaksa orang-orang mengandalkan sistem daring untuk pembelajaran, guru-guru di sejumlah sekolah membuat video tentang materi-materi sekolah. Konten ini dibuat untuk memudahkan para murid belajar secara daring.

Keempat, konten life tips. Life tips, contohnya, berisi apa saja yang harus dibawa selama masa pandemi, cara daftar visa daring, dan lain-lain. Life tips sangat berguna untuk orang-orang yang belum mengetahui tips ini sebelumnya. 

Sebenarnya masih banyak konten lain yang menjadi tanggung jawab saya, mencakup politik, hiburan, permainan, serta makanan dan masakan. Yang tadi saya jelaskan ialah representasi sebagian besar konten-konten yang saya periksa.

***

Menjadi content reviewer tidaklah mudah. Saya mesti memiliki konsistensi dalam memilih mana konten yang baik dan mana yang tidak. Saya harus memberikan perasaan positif kepada penonton yang menonton konten-konten hasil telaah saya dan pekerjaan saya semakin tidak ringan menimbang berbedanya persepsi setiap penonton. Pun, ada saja waktunya di mana satu-dua konten negatif lolos. Untung saja hal tersebut sangat jarang terjadi dan bagian quality control langsung turun tangan. 

Dan pastinya, tidak semua pengalaman bekerja sebagai content reviewer mengenakkan. Saya harus menghadapi langsung konten-konten yang memuat nudity ataupun horor. Konten-konten yang membersitkan perasaan buruk dan tidak pernah dilihat kebanyakan pengguna platform harus saya tonton keseluruhannya. Saya tak bisa menolaknya karena itu memang risiko paling pertama menjadi content reviewer.

Meski begitu, konten-konten tersebut tidak akan sampai ke segmen penonton saya. Anak-anak dapat lebih menikmati tontonannya tanpa terganggu konten yang tidak pantas. Orang tua dapat lebih tenang kala anak-anak ada di depan gawai karena kerja-kerja di balik layar content reviewer.

Untuk hal itu, saya bangga dengan pekerjaan yang saya lakukan, pun dengan membuktikan diri saya bisa memeriksa konten yang jumlahnya begitu banyak setiap harinya.