Profesi jurnalis olahraga katanya begitu nikmat untuk ditekuni. Jurnalis olahraga bisa bekerja sembari memuaskan kesenangan terhadap sepak bola, bahkan dibiayai kantor terbang ke luar negeri untuk meliput ajang-ajang bergengsi arena lapangan hijau. Setidaknya, itu yang saya dengar dari penjelasan seorang wartawan senior dalam sebuah seminar jurnalistik olahraga di kampus saya.

Singkat cerita, tak lama setelah resmi mendapatkan gelar sarjana, saya diterima bekerja sebagai jurnalis di salah satu media daring yang fokus membahas topik olahraga. Sejak kecil saya sangat menyukai sepak bola. Wajar jika saya berpikir apa yang saya dengar di seminar dulu kelak bisa saya rasakan sendiri. 

Ternyata ekspektasi saya terlalu tinggi. Saya jarang sekali diberi tugas meliput pertandingan atau acara yang berkaitan dengan sepak bola. Pekerjaan saya mayoritas dihabiskan di kantor, membuat artikel-artikel olahraga yang sumber-sumbernya berdasarkan hasil riset dunia maya. 

Tiga bulan awal saya bekerja, saya masih coba beradaptasi menerima perbedaan antara harapan dan realitas yang ada. Memasuki bulan keempat, saya pelan-pelan bisa mengikuti alur kerja media saya. Kerja terpola menulis artikel olahraga, yang sumbernya cuma unggahan media sosial tokoh ternama tanpa disertai wawancara, perlahan terbiasa saya lakukan. 

Sampailah suatu hari, masih di bulan keempat, saya diminta oleh redaktur menulis artikel isu pengaturan skor atau mafia sepak bola Indonesia. Topik tersebut kala itu memang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Sang redaktur memberikan saya bahan berupa unggahan Instagram seorang tokoh ternama, sebut saja namanya Z.

Sosok Z merupakan subjek penting yang gencar membongkar isu mafia sepak bola Indonesia. Pada kolom caption unggahan, Z sedikit membongkar ciri-ciri tim yang diduga terlibat skandal pengaturan skor. Ciri-ciri yang disebutkan Z adalah berstatus klub tenar Tanah Air, pemilik klub punya jabatan di federasi, dan meraih gelar juara.

Saya menuliskan artikel yang diminta dengan menarasikan foto serta caption unggahan Z. Di bagian akhir artikel, saya menuangkan fakta tambahan. Saya menjabarkan siapa-siapa saja nama tim yang merajai kompetisi sepak bola Indonesia, baik kasta tertinggi maupun kasta kedua. 

Proses penulisan artikel selesai, saya memasukkannya ke sistem manajemen konten (CMS). Tak lupa saya embed (tautkan) unggahan Z ke badan artikel ketika sudah rilis. Dalam protokol kerja media saya, praktik embed sangat penting untuk menunjukkan unggahan media sosial mana yang dijadikan sumber artikel.

Setelah tahap penulisan dan embed rampung, artikel saya kumpulkan di CMS. Tak lama, artikel tadi rilis. Tak ada komplain atau permintaan revisi sama sekali dari redaktur. Saya lantas mengalihkan fokus untuk mengerjakan konten artikel lainnya.

***

Hari berjalan seperti biasanya, tidak ada yang aneh. Kewajiban kuota artikel terpenuhi dan saya berhak pulang. Sesampainya di rumah, saya duduk di teras memainkan telepon genggam dan membuka akun Instagram pribadi untuk pertama kalinya pada hari itu.

Saya tipe orang yang tergolong jarang sekali aktif di media sosial. Di telepon genggam saya sebenarnya tersedia aplikasi Instagram, tapi tidak selalu login ke akun pribadi saya. Kalau sedang di kantor mencari bahan-bahan artikel olahraga lewat Instagram, saya menggunakan second account dengan nama pengguna anonim yang khusus saya buat demi keperluan kerja.

Begitu saya membuka akun Instagram pribadi, saya terkejut melihat banyaknya notifikasi direct message (DM) dan komentar masuk. Makin mencengangkan lagi lantaran isi komentar dan DM tampak menghujani saya dengan kritik pedas. Saya malas membaca semua kritik yang masuk, apalagi meresponsnya. Intinya warganet menilai artikel yang saya tulis merupakan hoaks, asal menuduh tanpa disertai bukti yang jelas.

Saya bingung, “mengapa tiba-tiba ada banyak kritik warganet berkaitan dengan pekerjaan saya?” Beberapa saat kemudian, redaktur memberitahukan saya melalui WhatsApp bahwa Z sudah menghapus unggahan ciri-ciri tim terduga terlibat pengaturan skor. Dihapusnya unggahan Z berarti bukti sumber yang ada di artikel saya otomatis hilang. Lebih jauh, si redaktur turut menceritakan kalau banyak netizen di Instagram yang marah atas artikel tulisan saya. Pikiran saya kalut, "saya masih karyawan baru langsung bikin masalah gini, nanti saya kena pecat gimana".

Si redaktur berusaha mengatasi masalah dengan meminta saya membantunya mencari tangkapan layar unggahan Z sebelum dihapus. Beruntungnya si redaktur mampu mendapatkannya dari rekan wartawan media lain. Tangkapan layar unggahan Z selanjutnya dipasang oleh si redaktur di badan artikel saya.

Kepanikan saya mereda sejenak. Masalah bukti sumber artikel yang sempat hilang telah teratasi. Saya tersadar, DM dan komentar pedas warganet yang masuk ke akun Instagram pribadi saya pasti akibat tulisan saya tersebut. Saya baru sadar pula kalau nama saya di artikel selaku penulis sama dengan nama pengguna Instagram pribadi saya sehingga mudah sekali ditemukan netizen.

Keesokan harinya di kantor, saya membuka akun Instagram pribadi saya lagi dan melihat jumlah DM yang masuk bertambah banyak. Beberapa DM isinya bukan lagi kritik terhadap artikel saja. Ada warganet yang sampai melontarkan kritik, “keroyok aja, hajar, pukulin, matiin”.

Jujur, saya agak khawatir dengan keselamatan saya. Tapi sekali lagi, saya tipe orang yang sangat jarang aktif di media sosial sehingga tak mau terlalu ambil pusing. Toh, saya bukan siapa-siapa. Bukan tokoh terkenal, bukan artis. Mustahil ada netizen yang rela bersusah-susah hanya untuk menemui saya di dunia nyata.

Ketika sedang istirahat makan, saya coba menyampaikan kepada salah satu redaktur apa yang saya alami. “Gapapa kok,” ujarnya merespons. “Biasa netizen bola kayak gitu, tenang saja.” Oke, pikir saya. Mungkin teror warganet di media sosial memang lumrah terjadi kepada jurnalis olahraga. Saya pun bersikap tenang.

***

Hari berganti, ketenangan saya yang begitu teguh tiba-tiba goyah seketika akibat adanya pesan Line dari akun tidak dikenal. Isi pesannya lagi-lagi mengkritik artikel saya. Hal ini membuat saya sangat tertegun sekaligus khawatir. Bagaimana mungkin warganet juga berhasil menemukan ID Line saya?

Tanpa pikir panjang saya langsung menghapus akun Line. Begitu juga dengan akun Instagram pribadi, saya memutuskan menghapusnya secara permanen demi kenyamanan dan keselamatan saya. Saya pikir, kalau nanti butuh aplikasi-aplikasi ini lagi tinggal dipasang ulang saja. Saya tahu fanatisme dalam sepak bola, khususnya di Indonesia, kerap berujung kepada kenekatan. Rusuh antar-suporter yang menimbulkan korban jiwa bukanlah barang baru dan semuanya dilandasi fanatisme. Mungkin saya lebay, tapi demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, saya lebih baik melakukan antisipasi sedini mungkin.

Setelah kejadian tersebut, saya terus melewati hari-hari sebagai jurnalis olahraga. Walau tidak sesuai ekspektasi awal saya yang dulu berharap jurnalis olahraga pergi liputan melulu, bertemu dengan banyak pemain atau tokoh sepak bola, saya tetap menikmatinya. Duduk di kantor seharian, saya masih bisa produktif menghasilkan artikel-artikel olahraga dengan angle menarik dan mendulang traffic tinggi.

Lebih nikmat lagi, saya menjalani pekerjaan tanpa khawatir terkena teror warganet. Saya sendiri akhirnya kembali membuat akun Line dan Instagram. Belajar dari pengalaman, kali ini ID Line dan nama pengguna Instagram saya tidak diisi dengan nama asli. 

***

Deja vu terjadi ketika saya hampir setahun menekuni profesi jurnalis olahraga. Artikel yang saya buat lagi-lagi menimbulkan kontroversi warganet pecinta sepak bola. Akun Instagram media saya sampai diserang begitu banyak komentar pedas kritik warganet.

Sewaktu dihadapkan dengan situasi itu, muka saya mungkin terlihat tenang. Padahal dalam hati, saya panik tidak karuan. Meski akun Instagram pribadi saya yang baru sudah tidak menggunakan nama asli (saya yakin warganet sulit menemukannya), rasa khawatir tetap memenuhi pikiran saya, lebih-lebih setelah mendengar redaktur yang menaikkan artikel saya diserang warganet di Instagram. Dalam kekalutan tersebut, saya berharap tidak ada warganet yang berhasil menemukan akun Instagram pribadi saya. Sembari menahan kecemasan, saya coba login ke akun Instagram pribadi saya. Syukurnya, tidak ada yang teror kritik seperti sebelumnya.

Redaktur pelaksana media saya turun menemui saya dan rekan-rekan lainnya menanggapi kondisi yang ada. Redaktur pelaksana meminta kami semua bersikap tenang dan tidak mempermasalahkan artikel saya. Malah si redaktur pelaksana senang karena saya bisa menggoreng isu menarik, viral, serta mendulang traffic lumayan tinggi.

Hari-hari setelahnya memang ada beberapa artikel saya yang kembali memunculkan kehebohan warganet. Bekal pengalaman masa lalu dan segala tindakan antisipasi yang telah saya lakukan membuat saya jauh makin tenang menghadapi serangan warganet. Terlebih, saya juga kian paham pola kerja jurnalis olahraga media daring.

Menggoreng isu yang bersinggungan dengan fanatisme sepak bola berpotensi menghadirkan traffic tinggi bagi media daring. Namun, hal ini menjadi tantangan bagi jurnalis olahraga. Tantangannya paling tidak ada dua. Pertama, “bagaimana cara menggoreng yang menghasilkan traffic tinggi?” Dan yang kedua, “bagaimana jika keselamatan diri terancam karenanya?”