Sewaktu mulai bekerja di agensi, saya diberitahu oleh atasan bahwa saya akan mengurusi, sebut saja, Kementerian P. Kementerian P mengerjakan proyek-proyek infrastruktur seperti jalan tol, rumah subsidi, rumah susun untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan sebagainya. Saya awam dengan dunia pemerintahan saat itu tapi saya percaya diri bisa mengerjakannya.

Posisi pertama saya di kantor adalah Social Media Officer dan Digital Strategist. Saya dipercaya mengurusi akun media sosial klien, mulai dari menyusun perencanaan, menulis caption, mengunggah konten. Sebagai Digital Strategist, saya juga melaksanakan digital campaign untuk Kementerian P.

Dan memiliki klien instansi pemerintah, ternyata, tak semudah memiliki klien swasta. Semua yang akan dipublikasikan perlu melewati proses yang ribet dan lama. Satu konsep video yang saya buat memerlukan kurang-lebih empat hari untuk dikonfirmasi. Beberapa pejabat pembuat keputusan perlu menandatangani konfirmasi publikasi konten tersebut. Rilis pers serta rencana kampanye digital juga harus melalui proses berlarut-larut seperti ini.

Itu baru satu hal. Selanjutnya, permintaan konten dari pejabat harus dikerjakan kapan pun permintaan datang. Sering kali, permintaan konten datang mendadak pada hari libur maupun cuti. Klien tidak mau tahu, dan karena kantor saya mendewakan klien, mau tidak mau, saya dan tim lembur. Klien bisa meminta dibuatkan konten A untuk diunggah pada Senin 9.30 pagi, sementara bahan konten baru diberikan hari Sabtu. Sebagai pemimpin tim, saya pun harus merayu dan membujuk tim agar mau lembur. 

Apa yang suka mendadak dengan instansi kementerian bukan saja permintaan konten. Instansi pemerintah memiliki banyak acara di kota lain. Peresmian pembangunan rumah subsidi untuk masyarakat sasaran atau kunjungan salah satu pejabat di Kementerian P, katakanlah. Lantaran tidak ada reporter di kantor saya, ujung-ujungnya saya menjadi reporter dadakan untuk acara-acara semacam ini. Acara-acara semacam biasanya diinformasikan H-2 atau H-1 acara. Jadi, saya dan tim sering kewalahan menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa dan memutuskan siapa saja yang berangkat. 

Namun, ada enaknya juga kalau dinas. Instansi pemerintah memiliki biaya untuk segala kegiatan mereka. Saya beserta tim yang sudah dicatat namanya saat berangkat pasti mendapatkan jatah uang jalan. Walaupun saya tahu uang jalan saya dan tim akan dipotong oleh penanggung jawab dari pihak klien yang turut dinas, saya pikir tetap saja lumayan. Kesempatan ini belum tentu dirasakan oleh teman-teman di agensi dengan klien swasta. Pun, dinas dengan klien instansi pemerintah pasti akan dipilihkan pesawat terbaik. Mobil dinas juga bukan mobil yang biasa-biasa saja. Mobil dinas yang saya temui hanya Alphard, Fortuner atau Innova keluaran tahun terbaru. 

Kalau dinas, saya sudah berasa seperti salah satu pejabat di kantor klien.

Di sisi lain, anggaran menjadi persoalan yang pelik ketika berurusan dengan klien instansi pemerintah. Agensi kami harus melaksanakan aktivitas digital serta produksi konten dengan biaya perusahaan dulu. Setelah sudah ada bukti aktivitas digital dan produksi sudah selesai, kami baru bisa menagih ke klien. Tak jarang, penagihan ke klien sangat susah. Penagihan harus melewati berlapis-lapis administrasi dan mengharuskan divisi keuangan bolak-balik ke kantor klien. 

Sudah begitu, iklan digital tidak pernah ada dalam perencanaan keuangan kementerian. Kementerian P menyebut kegiatan pengiklanan digital sebagai amplifikasi. Jujur, pertama kali saya mendengar kata itu adalah saat bekerja di kantor saya sekarang. Dan dalam beriklan, Kementerian P ingin terlihat low profile. Kementerian P ingin seluruh kinerja dan hasil pembangunan diliput oleh banyak media, dilihat oleh masyarakat, tapi tak ingin beriklan melalui akun media sosialnya. Usulan saya bahwa iklan digital dapat membantu mereka meraup awareness tinggi dari audiens sasaran mereka ditolak dengan alasan “tidak ingin terlalu menonjol”.

Lucunya, terkait rilis pers Kementerian P terkadang memaksa kami, tim publikasi, untuk membujuk media agar mengulas secara positif aktivitas dan instansi mereka. Sesekali ada transaksi-transaksi di balik layar agar media memberikan ulasan bagus dan kegiatan kementerian memenuhi target publikasi.

***

Setelah terbiasa bolak-balik kantor Kementerian P, saya perhatikan bahwa saya satu-satunya perempuan dari antara semua agensi yang disewa klien. Tim saya pun semuanya laki-laki. Dan di Kementerian P sendiri, pegawai laki-laki terlihat lebih banyak dibanding pegawai perempuan. 

Hal ini awalnya saya abaikan. Tapi, lama-kelamaan saya merasa jengkel karena sering kali diremehkan. Satu waktu, tim saya dan klien melaksanakan rapat untuk membahas laporan aktivitas digital tahunan. Karena seluruh aktivitas digital saya yang pegang kendali, tentu saya yang presentasi di depan para klien dari Kementerian P. Pada saat saya presentasi, tidak ada dari antara klien yang melirik. Mereka sibuk bermain gawai atau mengobrol. 

Sementara itu, jika presentasi dilakukan oleh anggota tim saya yang laki-laki, para klien fokus dan serius mengamati. Hal ini sering terjadi. Hal yang lebih-lebih lagi menjengkelkan saya adalah terkadang selagi serius bicara mengenai pekerjaan, klien malah menggoda atau mengajak bercanda. Bila saya mengunjungi kantor klien, kadang ada dari antara pejabat yang berseliweran iseng bertanya. 

“Dari divisi mana? Satuan kerja mana? Kok saya gak pernah lihat kamu ya di kantor?” 

Dan saya cuma bisa menjawab kalau saya konsultan publikasi, ke kantor klien hanya untuk memberikan laporan. Hal ini biasanya akan diikuti pejabat-pejabat tersebut bertanya nomor telepon dan lain-lain. Saya pun akan menimpalinya dengan bercanda atau malah membahas topik pekerjaan. Ujung-ujungnya, pejabat-pejabat yang ada di lingkungan klien menghargai saya sebagai konsultan publikasi.

Benar, banyak kerumitan memiliki klien instansi pemerintah dibandingkan klien swasta. Tapi saya juga bersyukur. Saya belajar untuk lebih bersabar, mendapatkan informasi-informasi terkini yang belum rilis, dan juga mengetahui proses kerja di dalam instansi pemerintah. Saya juga dapat bekerja sambil memperoleh kesempatan mengunjungi berbagai tempat di Indonesia.

Betapapun menyebalkannya bekerja untuk klien instansi pemerintah, belum tentu kawan-kawan di agensi lain akan pernah mendapatkan hal-hal yang saya rasakan.