Sebagai seorang buruh agensi yang sering berkutat dengan urusan media sosial, saya memiliki kesempatan bisa berinteraksi dengan para beauty influencer yang meng-endorse produk klien saya. Paras ayu dan keahlian berpose mereka memang dijadikan salah satu strategi marketing untuk memengaruhi ratusan ribu hingga jutaan rakyat. Bisa tampil dan bergaya hidup seperti sosok beauty influencer menjadi salah satu impian banyak perempuan di negeri ini. 

Bagi beauty influencer yang telah mapan dan dikenal luas, manajemen kehidupan mereka tidak ubahnya manajemen kehidupan artis konvensional. Dalam hal mengajak para beauty influencer ini mempromosikan suatu produk, tak jarang saya harus melalui manajer mereka. Butuh kedekatan dengan sang manajer dan pengetahuan tentang dunia keartisan untuk bisa mendapatkan rate card yang lebih murah. Tak jarang pula, tawaran kerja sama baru dibalas berhari-hari kemudian, bahkan tidak digubris sama sekali.

Saya juga harus pintar-pintar mengatur waktu tayang postingan endorse supaya tetap dapat jam tayang utama dari para figur publik kecantikan ini. Jika mereka harus hadir di acara tertentu, permintaan bisa lebih ruwet lagi, mulai dari menyediakan valet parking, kawalan kendaraan, hingga menjadi fotografer dadakan karena tim kreatif sang artis mendadak tidak bisa hadir. 

Namun, untuk beauty influencer yang sudah di level mapan nan njelimet, hasilnya juga tidak mengkhianati keribetannya. Saya akui, daya pikat mereka memang luar biasa bagi pengikutnya. Mendadak produk yang dipromosikan dibicarakan banyak orang. Angka-angka laporan yang bagus pun berhasil didapatkan. Membayar puluhan juta untuk jasa promosi mereka tidak jadi soal karena hasil yang langsung terbukti. Sejatinya, memang tidak ada begitu banyak perbedaan di balik layar kehidupan beauty influencer ini dengan artis dan bahkan influencer umum. Hanya saja, modal kecantikan dan kepandaian menata rias serta busana menjadikan mereka sebagai sumber perbincangan di warung-warung komplek ataupun sudut-sudut kelas. 

Ada juga cerita soal mereka yang masih mencoba merangkak naik menjadi seorang beauty influencer. Menghadapi beauty influencer dengan rentang pengikut sepuluh hingga seratus ribu menjadi area yang amat abu-abu bagi saya. Rate card yang relatif lebih murah dalam menjalin kerja sama terkadang malah bisa jadi pintu masuk kerugian. Saya sendiri pernah menyeleksi dan menemukan beberapa kejanggalan. Follower palsu, komentar palsu, hingga potensi sekadar cari produk gratisan dapat dengan mudah dikenali dengan menggentayangi media sosial mereka. 

Seorang beauty influencer yang benar-benar menjadi dirinya sendiri dan berproses sejak awal mudah dideteksi sebenarnya. Kejujurannya akan terlihat dari progres kreasi kontennya yang konstan dari dulu hingga kini, juga pencapaiannya yang gradual namun terus tumbuh. Yang tidak masuk akal adalah jika ada beauty influencer yang hanya punya dua puluh foto di Instagramnya namun pengikutnya 30 ribu orang dan jumlah penyukanya tinggi. Konten fotonya pun kebanyakan serupa dan tidak ada yang begitu istimewa. Jika membedah komentarnya, akan ditemukan ratusan komentar “cantik” dengan variasi emotikon di sana sini dari akun-akun yang tidak dapat diverifikasi kemanusiaannya. Parahnya, beauty influencer bodrek ini dengan giat melakukan penawaran kerja sama, bahkan rela menerima barter jasanya dengan produk kecantikan tanpa perlu dibayar. 

Sebaliknya, beauty influencer jujur yang masih ada di area “menengah” terkadang memiliki kualitas konten melebihi beauty influencer papan atas. Kebebasan mereka berkreasi masih lebih luas dan tidak begitu terikat keribetan manajemen keartisan. Daya pengaruh yang dimiliki masih amat organik dan cenderung lebih disukai penonton karena kontennya yang autentik. Namun, atas alasan masih belum banyak pengikutnya pula klien acap tidak memilih mereka. Klien lebih memilih bekerja sama dengan beauty influencer artis ketimbang lima orang beauty influencer level pertengahan. 

 

Dua Sisi Beauty Influencer

Tentunya, amat ruwet memberikan penilaian serta pandangan atas fenomena beauty influencer ini. Urusan benar atau salah, pantas atau tidak pantas, jujur atau tidak jujur berada pada wilayah yang ambigu. Tetapi, marilah melihat fenomena beauty influencer ini sebagai sebuah evolusi peradaban kreatif manusia yang memang selalu memiliki dua sisi. 

Bagi sebagian kalangan idealis seperti saya, beauty influencer—seperti influencer lainnya—adalah contoh lain disrupsi dunia kreatif zaman ini. Karenanya, mereka menjadi contoh lain aksi kapitalisme yang paling paripurna. Joseph Schumpeter di tahun 1942 telah meramalkan siklus ini dengan konsep penghancuran kreatifnya. Kreativitas para beauty influencer dalam berdandan, dalam berpromosi, dalam menjalani hidup kian melampaui kekreatifan iklan konvensional dan gaya hidup bermodalkan jenama kecantikan pasaran. 

Namun, bagi sebagian lainnya kehadiran beauty influencer menjadi sebuah revolusi besar dalam hidup mereka. Beauty influencer mampu menjadi jawaban dari kegelisahan seorang perempuan yang memiliki kulit yang berbeda dan butuh penanganan khusus. Berkat para beauty influncer pula produk-produk yang lebih ramah lingkungan dan beretika mulai diminati oleh kaum muda dan menjadi tren. Produk lokal yang diproduksi dalam jumlah kecil dan tidak mampu beriklan secara masif bisa memilih beauty influencer untuk memasarkan produknya secara efektif. Berkat beauty influencer, perubahan organik dari akar rumput yang diimpikan kalangan progresif nyatanya mampu diinisiasi dengan modal kemampuan berdandan di kamera.

Pada akhirnya, masyarakat tentu saja diuntungkan dengan semakin banjirnya pilihan dan informasi soal kecantikan. Perempuan muda di Indonesia mulai sadar dengan konsep mencintai diri sendiri dengan merawat tubuh. Namun, tidak jarang pula saya mendengar cerita teman yang tidak makan karena harus mencicil skin care dan pertunjukan kepalsuan hidup demi panjat sosial akibat fenomena ini. Sebagai khalayak, kita perlu kejernihan dan literasi media yang baik dalam mengikuti fenomena ini supaya tidak terjebak serta hanya menjadi korban pemasaran korporasi dan daya tarik kecantikan sang beauty influencer.