Tanggal 13 November lalu, sekitar 70 wartawan The Jakarta Post, baik yang masih bekerja di Jakpost maupun yang sudah “alumni” berkumpul dalam pertemuan daring untuk melepas kepergian 25 awak redaksi dalam waktu sebulan. Mereka adalah 11 orang yang mengundurkan diri secara “biasa” dan juga 14 orang yang mengundurkan diri melalui skema “pengunduran diri sukarela” yang ditawarkan oleh manajemen Jakpost.

Mantan pemimpin redaksi kesayangan kami, Endy Bayuni, sudah diminta pidato perpisahan jauh-jauh hari. Tapi beliau memilih memutar rekaman video dirinya sedang bermain gitar dan menyanyi lagu “Let Her Go” dari Passenger. Kata “her” dalam liriknya diganti “them”.

“Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love them when you let them go
Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love them when you let them go
And you let them go.”

Saya berkaca-kaca. Pada layar-layar video teman-teman saya pun tampak mereka menangis. Sepanjang dua jam acara kami tertawa dan menangis bersama. Bahkan, alumni yang sudah lebih dari tiga tahun meninggalkan Jakpost setia mengikuti acara selama dua jam penuh. 

Sepanjang sejarah selama hampir empat puluh tahun, The Jakarta Post selalu kehilangan wartawannya setiap tahun. Kami menyebar “alumni” di banyak tempat: AFP, Bloomberg, The Straits Times, The Conversation Indonesia, Magdalene.co, juga di banyak startup dan perusahaan besar. Tetapi sepanjang sejarah tidak pernah kami ditinggalkan sampai 25 orang hanya dalam waktu sebulan. Sebagian besar dari 25 orang tersebut adalah jurnalis terbaik kami.

Banyak wartawan yang bekerja di Jakpost “setia” pada Jakpost. Saya salah satunya. Saya sempat meninggalkan Jakpost untuk bekerja di The Conversation Indonesia, tapi baru setahun saya balik lagi. Yang bolak-balik begini tidak hanya saya sendiri, bahkan ada yang bersedia menerima gaji lebih kecil dari tempat kerjanya terakhir. Kebanyakan dari kami percaya, The Jakarta Post adalah tempat di mana kami bisa tumbuh sebagai jurnalis, dan kami percaya betul dengan nilai-nilai yang diusung Jakpost: kemanusiaan, keadilan, keterbukaan, keberagaman, demokrasi dan HAM serta kebebasan pers.

Salah satu wartawan kawakan yang mengundurkan diri mengatakan di acara tersebut bahwa “I’ve never imagined I would leave journalism, to be honest. Dulu aku percaya jurnalisme akan menjadi panggilan hidupku, tapi tampaknya, tak tahu juga. Ini mungkin karena hidup tidak statis. Jadi mungkin ini saatnya untuk belajar di tempat baru.”

Empat wartawan “angkatan pandemi”, yaitu wartawan angkatan termuda di Jakpost yang menghabiskan lebih dari separuh karier jurnalismenya dengan “work from home”, juga diberi kesempatan berpidato singkat. Salah satu mengatakan bahwa satu tahun lebih di Jakpost sebenarnya terasa sangat kurang.

Lantas, mengapa mengundurkan diri? Ceritanya panjang sebenarnya. 

 

Petir PHK Menyambar

Singkat kata, situasi di The Jakarta Post tidak menentu sejak 25 Agustus 2020, hari di mana pimpinan perusahaan Jakpost menyampaikan pada Dewan Karyawan bahwa perusahaan akan memecat dua pertiga karyawan atau sekitar 120-130 orang secara total. Sekitar 70-80 orang dari redaksi. 

Mengutip catatan kronologi terbuka yang disusun oleh Dewan Karyawan The Jakarta Post, “pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi satu-satunya jalan menyelamatkan perusahaan”. Menurut pimpinan, “kerugian” terus berlangsung sementara “ongkos tenaga kerja yang tinggi merupakan sumber masalah keuangan terbesar yang kini tengah dihadapi oleh The Jakarta Post”. 

“Hingga saat ini, sebesar 75 persen dari total pengeluaran perusahaan dialokasikan untuk membayar gaji dan komponen-komponen pengeluaran tenaga kerja yang lainnya. Dengan komposisi hanya 30 persen biaya akan dialokasikan bagi tenaga kerja, hanya sepertiga atau sekitar 50-60 orang dari total karyawan PT Bina Media Tenggara (BMT) dan PT Niskala Media Tenggara (NMT) yang akan dipertahankan,” demikian catatan kronologi terbuka yang disusun oleh Dewan Karyawan The Jakarta Post. 

Menurut pimpinan juga, seperti yang dikutip oleh Dewan Karyawan, “keputusan layoff diambil karena tidak ada perkembangan atas rencana investasi baru yang sedang diupayakan perusahaan, menyusul wabah COVID-19”. 

PHK massal ini direncanakan akan selesai pada tanggal 1 Oktober. Tetapi 1 Oktober sudah berlalu dan PHK belum juga terjadi.  Belakangan, pernyataan dari pimpinan berubah. Dari sebelumnya “PHK menjadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkan perusahaan” menjadi “PHK adalah jalan terakhir yang akan diambil”. Kami belum bisa menarik napas lega karena pernyataan yang berubah-ubah ini justru menambah keresahan. Hingga minggu ketiga bulan November pun belum ada kepastian apakah PHK jadi dilaksanakan atau tidak. 

Ditambah dengan karyawan non-redaksi, kini sekitar tiga puluh orang telah pergi “mengundurkan diri”. Jika rencana awal di bulan Agustus tetap dilaksanakan, masih ada sekitar seratus orang lagi yang rencananya akan dipecat. Siapa saja yang masuk daftar? Kapan kami dipecat? Pertanyaan kami tidak terjawab. Hati kami tidak tenang, bekerja sudah tidak fokus.

Selain itu, perhitungan pimpinan perusahaan terkait alokasi pengeluaran untuk membayar karyawan, yang hanya 30 persen, menimbulkan keraguan dalam diri saya: jurnalisme seperti apa yang akan kami kerjakan pasca perampingan? Kami memeriksa laporan keuangan media lain yang dibuka ke publik: pengeluaran The New York Times untuk karyawan mencapai 60 persen, Tempo lebih dari 70 persen dan Suara.com juga sekitar 70 persen. Lantas saya bertanya-tanya, mengapa alokasi 75 persen untuk manusia disebut sebagai “masalah keuangan terbesar”? 

Moral dan semangat kami sontak menurun. Dan di tengah kondisi inilah 25 orang di redaksi mengundurkan diri.

 

PHK Masa Pandemi di Media Lain

Saya mendengar, wartawan di media lain pun sudah dan akan kena PHK di masa pandemi ini: Kumparan, Tempo, dan Jawa Pos. Saya juga mendengar ada dua media, yang belum bisa saya sebutkan namanya di sini, akan melakukan pemecatan massal. Sebelumnya, disrupsi digital juga telah membawa gelombang pemecatan di banyak media, misalnya Pikiran Rakyat, Femina, dan majalah-majalah lain yang terpaksa tutup.

Pandemi yang menyebabkan krisis ekonomi memang menjadi penyebab terbaru perusahaan-perusahaan media memecat karyawan, termasuk para jurnalis. 

Negara lain pun mengalami nasib yang sama. 

Haikel Fahim dari Telum Media, sebuah perusahaan “media intelligence” untuk para pekerja di bidang PR, mempresentasikan data dari Asia Pasifik dalam acara yang diprakarsai Splicemedia.com. Haikel menemukan bahwa semakin banyak jurnalis pindah ke profesi “communication” atau dengan kata lain, berpindah dari wartawan menjadi communication officer di perusahaan swasta atau LSM.

Haikel menampilkan data perbandingan jumlah jurnalis antara Agustus 2019 dan 2020 dan menemukan bahwa Hong Kong mengalami penurunan jumlah jurnalis sebanyak 19,58 persen. Malaysia menyusul di angka 10,49 persen, sementara Indonesia hanya mencatat minus 0,97 persen. 

Tren ini memang tercermin juga pada pola perpindahan profesi di Jakpost. Catatan saya pribadi, dari 25 teman redaksi yang mengundurkan diri, hanya 3 orang yang sudah pasti tetap bekerja di bidang jurnalisme: 2 mendapat pekerjaan di media lain, 1 lagi menjadi jurnalis lepas. Ada 9 orang yang meninggalkan jurnalisme atau industri media, sementara saya belum mendapatkan informasi lengkap mengenai 13 yang lain.

Saya tidak tahu, kehilangan di The Jakarta Post akan menyumbang berapa persen pada angka total nasional di akhir tahun. 

Saya duga, dari segi jumlah tidak banyak. Tetapi meski secara statistik kehilangan di Jakpost belum banyak, bagi saya pribadi, juga banyak kolega saya di Jakpost, kepergian mereka meninggalkan lubang besar. 

Dan kehilangan ini belum berakhir. Seratus dari kami di The Jakarta Post masih menanti kejelasan nasib kami. Belum lagi dua media lain yang bersiap perampingan juga. Saya tidak terlalu tahu mengenai wartawan di media lain, meski saya yakin banyak dari mereka pasti adalah jurnalis handal. Yang saya tahu, hingga November 2020, The Jakarta Post, dengan demikian jurnalisme Indonesia, telah kehilangan beberapa jurnalis terbaiknya.