Setelah berkali-kali berpindah media harian di Makassar, pada pertengahan tahun 2011, saya bekerja sebagai koresponden majalah mingguan yang berada di Jakarta dan ditempatkan untuk wilayah Makassar. Mereka memberi saya ID Press dan kartu nama. Tugas saya tentu saja menulis laporan di sekitaran Sulawesi Selatan. 

Saya tentu senang. Ini merupakan pengalaman pertama saya bekerja di media mingguan. Dan berarti kelak saya akan menulis laporan panjang. Saya meninggalkan harian karena mulai jengah berkejaran dengan waktu tiap hari. Sementara menulis berita pendek rasanya sudah mulai ketinggalan. Straight news dengan piramida terbalik itu membuat saya menyayangkan beberapa fakta dan detail yang harus terbuang percuma. 

Ketika mulai bekerja di tempat baru, kepala saya berputar dengan cepat, seperti kantor yang paling sibuk. Beberapa isu harus diolah dengan cepat untuk mencari cantolan peristiwa nasional. Tak lama kemudian, saya menemukan kendalanya. Menjadi koresponden bagi media Jakarta ternyata sungguh ribet. Peristiwa yang terjadi di daerah harus benar-benar berdampak besar dan akan menjadi pembicaraan besar. Isu korupsi menjadi begitu disenangi. Walhasil, terkadang dalam sebulan saya tak menghasilkan satu pun laporan. 

Bekerja di media yang pembacanya didominasi masyarakat Jakarta memang sangat merepotkan. Framing isu “nasional” seperti aturan menyesatkan dalam kerja jurnalistik. Bayangkan, beberapa kisah menawan hanya dianggap konsumsi lokal.  

Penghasilan yang sangat tidak menentu setiap bulannya akhirnya membuat kelabakan. Gaji waktu itu sesuai dengan tulisan yang tayang. Sebulan biasanya saya mendapatkan upah sekitar Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta. Angka itu sangat kecil. Tapi saya hampir tak punya pilihan untuk mencari pekerjaan di luar ranah jurnalistik. Profesi ini telah merasuk jauh masuk ke dalam jiwa, dan saya sangat menikmatinya, meski kemudian saya memutuskan hengkang setelah dua tahun di majalah itu.  

Saya berkenalan dengan dunia jurnalistik pertama kali pada tahun 2008 ketika bergabung di Yayasan Pantau Jakarta. Profesi ini memberikan ruang yang sangat luas untuk terus berpikir dan saya bukan hanya memandangnya sebagai pekerjaan untuk memenuhi target tulisan. Berkenalan dengan orang-orang baru, mendengar kisah, dan berada di tengah momentum. Saya menikmatinya.



Perjalanan Menjadi Penulis Lepas

Setelah dari media mingguan itu, saya lalu menerima tawaran seorang kawan untuk bekerja sebagai konsultan media di sebuah perusahaan pertambangan. Kawan itu menegaskan bahwa penghasilannya cukup untuk biaya nikah dan menabung membeli beberapa peralatan. “Apakah saya masih bisa menjadi wartawan setelah itu?” tanya saya. 

“Tentu saja sangat bisa,” jawabnya. 

Perusahaan itu berpusat di Sorowako, sekitar dua belas jam perjalanan dari Makassar. Itu tempat yang tenang dan mengagumkan dengan empat danau purba yang menjadi halaman rumah. Setahun pertama saya sungguh menikmati pekerjaan di tempat baru itu. Dua tahun berikutnya saya terbebani. 

Bekerja selama tiga tahun di perusahaan tambang ibarat sebuah “pelacuran”—pengkhianatan untuk panggilan jurnalisme. Di tempat itu, saya rindu menulis berdasarkan fakta dan mengejar kebenaran. Jalan sunyinya pun beralih ke blog. Dan saya menulis beberapa artikel untuk Historia

Tahun 2013, saya akhirnya hengkang dari perusahaan itu dan memutuskan menjadi penulis lepas. Lantas, saya bergabung secara penuh di Historia—majalah dan situs. Di Historia, saya mendapatkan tunjangan kesehatan dan gaji bulanan yang baik. Namun, saya memiliki kewajiban menuliskan minimal empat laporan dalam sebulan. 

Dua bulan pertama, saya selalu mampu melakukannya. Selanjutnya, saya kembali keteteran. Bagi saya, menulis sejarah adalah perihal yang sungguh sulit. Membaca referensi, melihat fakta lapangan, bertemu beberapa saksi mata yang kadang membutuhkan waktu lama. 

Beberapa waktu berjalan, saya sadar dengan ketidakmampuan untuk memenuhi standar empat artikel itu. Historia kemudian meminta saya kembali menjadi kontributor dan dibayar berdasarkan setiap naskah yang diterbitkan. Saya menerimanya dengan senang hati. 

Di saat bersamaan, saya pun telah bergabung menjadi penulis lepas di Mongabay Indonesia. Selanjutnya, saya pun menulis untuk Pindai, Vice Indonesia dan New Naratif. Media ini memberi penghargaan terhadap isu-isu yang dianggap lokal oleh media Jakarta. Saya seperti menemukan rumah sebagai tempat yang nyaman. Tapi bukan berarti saya mampu menulis setiap bulan di media itu.

Di Mongabay Indonesia, saya paling banyak menulis empat artikel sebulan. Namun yang paling sering hanya dua artikel. Sementara itu, saya menulis untuk media lainnya hanya sesekali dalam setahun. 



Tak Mencederai Prinsip Jurnalistik

Di media-media itu, setiap naskah membutuhkan setidaknya dua bulan untuk layak tayang. Beberapa naskah lainnya bahkan membutuhkan waktu lebih dari itu. Hal ini beralasan, karena editor memeriksa lembar verifikasi yang ketat. Bagi saya, reportase adalah karya agung dengan metode yang mumpuni. Dikerjakan dengan pelan dan sabar, tidak terburu-buru. Metodenya bukan sekedar cover both side, tapi jauh dari itu, ia membawa suara manusia dan alam yang tak memiliki tempat.  

Sebagai wartawan yang masih seumuran jagung di lapangan, saya dianggap old school oleh beberapa kawan. Membawa recorder dan mencatat di lembaran buku. Saya adalah wartawan yang tidak bisa menulis laporan sembari wawancara lalu mengetiknya di gawai dan kemudian mengirimnya ke editor. Dan begitu pun saya tak ingin mencobanya. Bagi saya, laporan yang dihasilkan dengan metode teknis-amburadul seperti itu hanya menyampaikan informasi yang bias, yang sialnya akan membawa dampak lebih buruk. 

Saat menulis satu naskah dengan 10 narasumber, transkrip verbatimnya bisa mencapai 50 halaman, bahkan mencapai ratusan halaman jika narasumber bertambah. Dari tahap inilah wartawan menelaah dan memeriksa detail ungkapan sumber. Mengoreksi dan mengingatkan sumber jika keliru atau sebaliknya. Sementara catatan di buku akan menyempurnakan detail yang tak tersimpan perekam suara. 

Saya hampir selalu bingung jika seorang wartawan tidak merekam dan hanya mengira-ngira ketepatan telinganya saat melakukan wawancara. Bagaimana dia mendapatkan atau menggunakan kutipan dalam naskahnya? Apakah itu sesuai ungkapan? Ataukah hanya menerka-nerka? Bagi saya, praktik itu telah menyalahi metode jurnalistik. 

Di media tempat saya menulis, mereka memberikan penghargaan yang sepadan dengan proses membuat laporan. Mereka membayarnya berdasarkan hitungan per kata. Satu artikel bayarannya cukup baik. Tapi, tak berarti saya bekerja untuk memburu hasil bayaran itu. Saya bisa saja merencanakan satu liputan setiap bulan, tapi saya tidak melakukannya. 

Saya tak ingin bekerja seperti robot. Sebab, saya percaya, satu isu tak bisa menjadi satu naskah jika penulisnya tidak memahaminya dengan baik. Jika penulis masih bingung, pembaca akan jauh lebih bingung. 

Suatu waktu, misalnya, saya menulis tentang bagaimana proses karstifikasi terjadi. Saya bertemu dengan guru besar geologi di salah satu kampus hingga lima kali. Saya pun masuk ruang perkuliahan sebagai mahasiswa gadungan, hanya untuk mendengar dan tak bisa bertanya. Proses itu berlangsung hingga sebulan secara intens. Hal semacam saya lakukan pada isu lainnya.  

Jika demikian, bagaimana saya bisa mengandalkan profesi wartawan untuk bisa menjadi tulang punggung ekonomi keluarga? Jawabannya memang sangat sulit. Saya sudah berusia 35 tahun, punya istri dan seorang anak. Kami tinggal di sebuah rumah subsidi dengan angsuran perbulan Rp1 juta selama 15 tahun. Angsuran itu kadang melewati masa tenggat jika hanya mengandalkan penghasilan sebagai seorang penulis lepas yang diupah per artikel. Tak heran, pasangan saya pun harus bekerja. “Kalau sudah ada keluarga, tidak mungkin hanya seorang yang bekerja sebagai penulis lepas. Pasti tidak akan cukup.” 

Bagi saya, pekerjaan ini ibarat ibadah. Dikerjakan dengan kesungguhan hati, bukan karena tekanan atasan atau editor agar halaman media terisi. Jika memang sudah tak bisa menanggung beban, berhenti menjadi wartawan dan cari pekerjaan lain. Dan jangan sekali-kali menerima suap.