"Tahun 2020 masih bisa hidup, dan gak gila di 2021 aja udah alhamdulillah,” ucapan itu keluar dari mulut Ananda Gabriel (bukan nama sebenarnya), salah satu kontributor media nasional asal Bandung.

Buat lelaki 31 tahun ini, 2020 memang merupakan tahun terberatnya. Sebagai tulang punggung keluarga, dia hanya mengandalkan pemasukkan dengan bekerja sebagai kontributor di media nasional.

Sudah jadi rahasia umum di kalangan jurnalis, tak ada kontributor yang mendapatkan gaji bulanan sesuai dengan Upah Minimum Kota (UMK). Pendapatan yang diterima selalu berdasarkan jumlah berita yang laku mereka jual ke perusahaan media. Kasarnya, kontributor sama dengan pedagangan berita.

Harga berita yang ditawarkan tiap media pun berbeda, tergantung kebijakan perusahaan. Umumnya, satu berita tulis dihargai Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu. Perusahaan media juga biasanya menghargai foto yang dikirim kontributor sebagai pelengkap naskah. 

Sejak 2017 Nanda bekerja di salah satu perusahaan media yang menghargai tulisannya sebesar Rp 25 ribu dengan tambahan Rp 25 ribu untuk kiriman foto. Sayangnya, kondisi tersebut berubah sejak Juni 2020 lalu.

“Gaji dipotong setengah, karena sejak Juni kemarin foto ngga lagi dibayar,” ujarnya sambil tertawa getir.

Pemotongan gaji tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Menurut Nanda, kantor tempatnya bekerja menerapkan kebijakan baru itu untuk menekan angka pengeluaran akibat pandemi.

Memang, tidak ada efesiensi tenaga kerja di tempat Nanda bekerja. Namun, tentu saja kebijakan itu juga cukup menyesakkan. Mengingat dia juga bertanggungjawab membayar pengeluaran bulanan di rumahnya.

“Sebelumnya, satu bulan bisa ngumpulin Rp 4 juta sampai Rp 5 juta, sejak kebijakan itu yang masuk jadi cuma setengahnya,” imbuh Nanda beberapa waktu lalu.

Beruntungnya, Nanda bekerja di dua media yang berbeda. Hingga dia bisa menutupi kekurangan pemasukannya.

Di perusahaan media yang satunya, tidak ada efisiensi kontributor daerah, maupun pemotongan gaji. Bahkan, sejak pandemi berita-berita dari daerah selalu naik, termasuk berita kiriman Nanda.

Harga berita yang ditawarkan pun sedikit lebih tinggi, yakni Rp 30 ribu per berita. Nanda juga akan mendapatkan tambahan Rp 30 ribu, jika foto kirimannya ikut naik. Tentu saja hal itu membakar semangat Nanda untuk rajin mengirim berita.

“Sekarang lebih banyak ngirim ke yang satunya karena beritanya selalu naik, kalau kantor berita yang satunya paling sehari kirim satu. Syarat doang masih kerja di sana, biar berita Bandung ngga kosong-kosong banget,” jelasnya.

Bukan hanya masalah pemasukkan saja yang menganggu kinerja Nanda. Sejak pemerintah mulai menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Maret 2020, pola kerjanya berubah drastis.

Nanda bekerja di rumah dengan mengandalkan berita rilis dari instansi, mengolah data-data yang dipublish pemerintah daerah, dan mengonfirmasi narasumber lewat telepon. Pola tersebut terus dia lakukan selama kurang lebih tiga bulan. 

“Baru berani keluar rumah sekitar Juni. Itu juga kalau terpaksa, kalau memang narsumnya benar-benar ngga bisa by phone,” terangnya.

Dalam seminggu, Nanda mengaku hanya keluar dua sampai tiga kali. Sisanya, dia lakukan semua pekerjaannya di rumah.

Alasannya, dia tidak mau menjadi pembawa virus untuk keluarganya di rumah. Apalagi, perusahaan tempatnya bekerja juga tidak melengkapi kebutuhan liputan Nanda dengan alat-alat protokol kesehatan. Jangankan hand sanitizer, masker pun harus dia beli sendiri.

Bahkan, saat anak ke empat dari lima bersaudara ini “terserempet” virus Covid-19 pada Oktober 2020 lalu, kedua perusahaan tempatnya bekerja hanya memberikan dukungan secara moril. Mereka hanya meminta Nanda untuk melakukan isolasi mandiri dan tidak memaksakan bekerja.

“Tapi ya tetep kerja, kalau ngga kerja gimana mau dapet uang?” cetusnya.



Meminimalisir liputan di Lapangan dengan Bank Video

Hampir sepanjang 2020, semua jurnalis mengandalkan informasi dari berita rilis. Termasuk kontributor televisi. Serupa dengan jurnalis tulis dari media cetak dan media online, para kontributor TV juga mendapat berita rilis berupa rekaman video statement.

Bahkan, humas Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuat grup khusus berisi kontributor TV untuk membagikan video-video rilis.

“Kebetulan, akhir tahun 2019, tepat sebelum pandemi kami mengadakan pelatihan pembuatan video untuk Humas Pemprov,” terang Dicky Wismara, salah satu kontributor MNC, yang juga anggota IJTI Jabar.

Peserta pelatihan mendapat pelajaran tentang pengambilan video, sesuai standar liputan para kontributor. 

Dicky tidak menyangka, dalam hitungan bulan, dia dan teman-teman kontributor lainnya bisa memetik hasil dari pelatihan yang mereka gelar.

“Memang tidak sempurna, tapi sejauh ini hasil video yang mereka kirim bisa terpakai dan tayang,” ujarya.

Humas Pemprov Jabar juga kerap menanyakan apakah ada kekurangan dari video yang mereka kirimkan dan kebutuhan gambar lain yang diperlukan oleh para kontributor televisi. Hingga belakangan, selain mengirimkan video berisi statement, mereka juga mengirimkan beberapa video untuk kebutuhan footage.

Dengan video-video rilis itu, Dicky merasa sangat terbantu selama melakukan pekerjaan dari rumah. Dia hanya perlu mengolah video-video tersebut, menambahkan beberapa gambar dari beberapa video yang disimpan, membuat naskah, kemudian mengirimkannya ke kantor.

Meski mendapat video rilis, bapak satu anak ini mengaku sesekali masih suka keluar rumah untuk mengambil gambar. Gambar-gambar itulah yang kemudian dia simpan di dokumen untuk digunakan sebagai pelengkap video rilis.

“Biasanya, video-video lama dibuang. Sekarang selalu disimpan di Google Drive,” ungkap Dicky.

Untuk menyimpan video-video tersebut, Dicky mengaku menggunakan empat akun berbeda yang juga bisa diakses oleh teman-teman kontributor video lain. Dokumen-dokumen itu bisa digunakan siapa pun untuk diolah.

Sistem tersebut digunakan untuk meminimalisir liputan yang berisiko terpapar virus Covid-19. Apalagi sejak pandemi seluruh kantor media TV juga memberikan kelonggaran untuk para kontributor daerah.

“Sebelumnya, nggak boleh ada gambar yang sama kan? Sekarang masih lebih longgar, tapi kami yang akhirnya ngolah supaya gambar yang dikirim ngga sama dengan TV lain,” terangnya.

Sebagai kontributor televisi, Dicky juga merasa beruntung, tempatnya bekerja tidak memotong gaji untuk efisiensi selama pandemi. Dia juga bisa mendapatkan fasilitas berupa hand sanitizer dan masker untuk liputan.

Terlebih belakangan, dia kerap mendapat penugasan dari kantor untuk mengikuti beberapa agenda Gubernur Jabar ke luar kota.

“Lumayan, kalo penugasan terutama wish list dapet honornya lebih besar dari berita daerah,” tambahnya.     

Serupa dengan kontributor media online, kontributor televisi pun tak pernah terikat kontrak dan mendapat honor dari berita yang tayang. Umumnya honor yang diberikan sebesar Rp 35 ribu hingga Rp 150 ribu per berita, tergantung kebijakan setiap kantor.

Di media tempat Dicky bekerja selama lebih dari 10 tahun, honor yang diberikan tergantung dari jenis berita yang ditayangkan. Jika berita daerah, honor yang diberikan hanya Rp 35 ribu per berita. Angka itu akan berubah menjadi Rp 250 ribu, jika berita bisa tayang untuk nasional. Sementara untuk penugasan, honor bisa mencapai Rp 500 ribu.

“Selama pandemi akhirnya jadi milih-milih berita juga, ngga cuma mikir liputan doang. Milih-milih berita supaya tayang di nasional, juga terima penugasan. Kalau nilai beritanya cuma bisa tayang di daerah, trus risiko terpapar virusnya juga lebih tinggi, ya ditinggalin,” katanya.

Perubahan sistem kerja juga sempat membuat Dicky tertekan selama kurang lebih satu bulan, saat pemerintah pertama kali memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Maret 2020.

Bekerja di rumah, ketakutan terpapar virus jika liputan sendiri, menjadi bagian dari tekanan yang dirasakan pria kelahiran 34 tahun lalu ini. Namun, saat ini Dicky mengaku mulai terbiasa dengan pola kerja barunya. 

“Sekarang, setelah liputan langsung pulang dan ngolah video di rumah. Keluar rumah juga sesekali aja, seminggu dua atau tiga kali,” ujarnya.

Terlebih, di rumah dia bisa bekerja sekaligus melepas stressnya bersama ikan-ikan peliharaannya. Selama menghabiskan waktu di rumah, Dicky tak sekadar mengolah video, membuat naskah, dan mengirim video. 

Dia juga mulai belajar memelihara hingga mengembangbiakkan ikan cupang, guppy, dan molly. Meski awalnya hanya berusaha melepas stress dengan peliharaan-peliharaannya, kini dia mulai menjadikan obat stressnya sebagai bisnis. Beberapa hasil breeding ikan cupangnya berhasil dia jual dengan harga lumayan.

“Ya, sembari ngobatin stress, belajar, dapet tambahan juga,” pungkasnya.