Ungkapan “keadilan sosial untuk seluruh rakyat good looking” tampaknya harus ditambahi “dan influencer” di belakangnya. Kelompok ini kerap mengantongi berbagai privilese tak kira-kira. Influencer yang juga artis, Raffi Ahmad misalnya, jadi kelompok pertama yang disuntik vaksin Sinovac pada Januari 2021. Sementara itu, istrinya, Nagita Slavina, ditetapkan sebagai ikon Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua, dan auto-dikritik mengapropriasi budaya masyarakat setempat. Alasan penunjukan keduanya pun nyaris sama: mereka influencer yang bisa memengaruhi para pengikutnya.

Influencer juga ramai-ramai digandeng oleh pemerintah untuk mempromosikan kebijakan genjot pariwisata yang tengah lesu kala pandemi. Tak tanggung-tanggung, kocek Rp72 miliar dirogoh dari APBN 2020 untuk para influencer. Pun, ketika resepsi masyarakat dirazia paksa Satpol PP karena melanggar protokol kesehatan, Atta Halilintar dan Aurelia Hermansyah menggelar pernikahan besar-besaran yang sampai didatangi Presiden Jokowi.

Selain mengantongi sejumlah privilese, influencer juga kerap jadi sasaran kritik karena tarif endorse produk dan jasa yang tak masuk akal. Temuan Indonesia Corruption Watch menyebutkan pemerintah menggelontorkan dana Rp90 miliar untuk para influencer yang dijadikan juru bicara atau humas pelengkap kebijakan pemerintah sejak 2017. Sementara itu, dari para pengusaha produk dan jasa, influencer bisa memperoleh bayaran hingga ratusan juta hanya untuk satu konten di media sosial, baik Instagram, YouTube, dan platform lainnya. 

Situs Hopper HQ menyebutkan influencer paling mahal di Indonesia, Raditya Dika, konon dibayar hingga US$108.800, disusul oleh Iqbal Ramadhan senilai US$50.900. Jika mau memasukkan influencer lainnya, ada nama lain seperti Syahrini yang mematok biaya endorse Rp100 juta untuk satu unggahan tertentu di Instagramnya. Pun, Raffi Ahmad dan Nagita memasang tarif Rp20-27 juta untuk melakukan endorse di media sosial. Tarif ini jauh lebih tinggi jika ditayangkan di Instagram Live yakni Rp100-175 juta.

Besarnya bayaran influencer ini bikin jurnalis Dea Anugerah keki. Dalam cuitannya di Twitter, 30 Mei 2021, pemilik akun @wildwestraven itu berujar, “Di dunia fana ini ada orang-orang yang digaji Rp800 ribu setelah kerja siang-malam sebulan penuh dan ada juga yang dibayar Rp80 juta untuk pekerjaan sepele macam bikin IG post dalam satu-dua jam. Kalau menurutmu dunia kayak gini nggak rusak, berarti nalarmu yang rusak.” 

Kritik ongkos mahal endorsement influencer direspons beragam oleh publik. Ada yang menilai ongkos mereka setimpal dengan usaha dan waktu yang dikorbankan demi membangun reputasi mereka, ada juga yang menilai influencer adalah wujud ketimpangan kelas dalam ekonomi digital.

 

Apa Kata Influencer?

Saya mewawancarai dua influencer Indonesia, Ainin Dita Zulkarnain dan Harfrida Vindy Agustie, terkait privilese dan ongkos mahal orang-orang yang bergelut di bidang ini. Ainin adalah influencer yang biasa mempromosikan iklan-iklan makanan dan minuman, dari level pengusaha gurem hingga merek besar macam Unilever dan Wings. Sehari-hari, ia biasa menggunakan akun Instagram @jakartarandomeats untuk mempromosikan iklan dari klien. 

Sementara itu, Vindy adalah influencer kecantikan asal Malang yang sudah malang melintang di bisnis ini dan menjajal pelbagai platform, dari YouTube, blog, hingga Instagram. Jawaban keduanya nyaris seragam. Mereka memaklumi fenomena mahalnya ongkos influencer. 

Ainin menyebut tarif mahal influencer adalah wajar mengingat energi yang dicurahkan untuk membangun reputasi. “Menurut gue sah-sah saja influencer dibayar puluhan juta, ratusan juga, karena ia artis sinetron atau FTV misalnya. Sebab, untuk mengarah ke sana, mereka pasti melewati usaha panjang. Ada ongkos yang dibayar mahal. Itu hak mereka. Misal gue udah berkiprah hampir sepuluh tahun, gue mungkin mempertimbangkan tarif juga,” ujarnya, Selasa (13/7).

Ia pun memberi contoh di balik satu foto atau video Instagram, ada usaha berjam-jam menyusun konsep, berkomunikasi bolak-balik dengan klien, memproduksi, menyunting, dan mempublikasikan konten. “Gue saja butuh waktu 3-5 jam untuk kelarin satu foto atau video. Hitung juga properti konten yang kita sediain sendiri. Kamera juga modalnya enggak mudah. Jadi, jika ada influencer yang mematok harga sekian, menurut gue wajar saja,” tandasnya.

Ainin sendiri mengaku tak mematok biaya setinggi yang disebutkan Dea. Ia menyebutkan influencer kuliner macam dirinya paling mungkin mematok biaya dari ratusan ribu hingga di bawah Rp10 juta untuk satu konten Instagram. Beda cerita jika promosi produk dilakukan di YouTube yang memakan waktu dan energi lebih besar. Terlebih, ia masih mengandalkan tenaga sendiri untuk memproduksi konten. Walhasil, tak perlu ada ongkos tambahan untuk menggaji orang seperti influencer besar. 

Namun, Ainin mengaku tak terlalu memusingkan angka penghasilan sebagai influencer. Baginya, yang lebih penting adalah pengalaman dan kesempatan. Karyawan di bidang pemasaran digital itu bercerita pernah diundang mengulas menu makanan di restoran papan atas. Satu porsi makanannya bisa dihargai Rp2 juta, belum termasuk minuman. Kepercayaan klien bahwa ia bisa mempromosikan makanan restoran mereka membuatnya merasa nilai dirinya sebagai influencer naik.

Selain menikmati pengalaman berharga itu, Ainin juga merasa pekerjaan influencer ibarat cara menyalurkan hobi yang sekaligus menghasilkan uang. Perempuan lulusan Departemen Sosiologi Universitas Indonesia itu memulai bisnis influencer secara tak sengaja karena hobi jajannya. Di medio 2011-an, Ainin mulai mengulas makanan di situs agregator Zomato. Lantas pada 2015, ia berpindah ke Instagram. Proyek @jakartarandomeats yang punya followers 60 ribuan ini menjadi kerja sampingan sekaligus wadah menggeluti hobinya.

Meski juga bekerja di waktu libur, dalam seminggu ia bisa mengulas belasan produk sekaligus. Jika dijumlahkan, penghasilan dari hasil endorse kuliner bisa mencapai gaji bulanan di tempat kerja utamanya. Karena itulah, Ainin enggan cabut dari bisnis ini meski punya pekerjaan lain.

Keputusan Ainin untuk bertahan di sektor ini relatif masuk akal, mengingat catatan Statista, bisnis influencer bernilai miliaran dolar dan terus tumbuh sejak 2019 hingga sekarang. Influencer juga lebih diminati ketimbang artis karena mereka biasanya memiliki basis penggemar yang loyal dan menjadikannya inspirasi tetap. Para pengikut ini umumnya mengapresiasi influencer idola mereka dengan menyukai, berbagi, mengomentari foto, tautan, dan video. Engagement pengikut inilah yang mendorong pengikut membeli produk yang dipromosikan. 

Moncernya bisnis influencer yang diikuti fenomena ongkos mahal endorse ini juga dimaklumi oleh Vindy. “Influencer pasang harga mahal untuk memfilter atau menstandarisasi harga biar enggak semua order masuk. Ada juga influencer yang mematok harga tipis, tapi ambil job-nya banyak. Jadi ini semua bukan salah influencer,” ucapnya kepada saya, Minggu (2/7).

Vindy mencontohkan dengan pengalamannya sendiri dalam mematok tarif endorse. Ketika ada permintaan dari klien untuk mengulas produk face care, misalnya, ia tak main-main dalam memperitmbangkannya. Ia akan memakainya betulan secara rutin dulu serta menyetop tawaran dari perusahaan lain. Jika cocok, ia akan mengabarkan bahwa face care bersangkutan berfaedah dan pengikutnya disarankan ikut mencoba. Jika tidak cocok, ia akan menyetop tawaran kerja sama dan kulitnya sendiri bisa bermasalah.

Tak hanya risiko kulit yang bermasalah, ada waktu, energi, dan biaya yang harus dikeluarkan Vindy untuk mengulas produk. Saat ini, Vindy mempekerjakan tiga orang. Satu asisten pribadi yang bertugas mengatur jadwal dan satu editor video. Sang suami juga membantunya mengelola keuangan. Mereka perlu digaji setiap bulan dan diberi komisi ketika ada penawaran endorse produk dan jasa. 

Selain itu, proses produksi konten tak mudah. Butuh waktu berhari-hari untuk berkomunikasi dengan klien, menyusun konsep, promosi, belum lagi kalau ia harus mengorbankan pekerjaan lain. Sebagai informasi, Vindy mengaku kerap merelakan job-nya untuk mengadakan workshop atau mengajar daring dan luring soal kosmetik dan hijab. Ia juga memiliki butik hijab yang harus diurus di Malang. Karena itulah, semua pengorbanan ini layak dibayar mahal.

 

Kenapa Kita Perlu Mengkritiknya?

Terlepas pembelaan para influencer atas ongkos mereka yang mahal sah-sah saja, tetap ada masalah-masalah yang pelik akibat maraknya industri influencer. Industri pengaruh bukanlah industri yang adil dan hal yang paling gamblang memperlihatkan ini adalah tak ada ukuran yang jelas terkait kelayakan seseorang jadi influencer.

Fenomena influencer “karbitan” yang saat ini marak sebut saja. Influencer-influencer ini muncul cuma bermodal skandal dan memanfaatkan keriuhan publik. Contohnya, SRA dan RF, dua sosok yang serta-merta jadi influencer dan meng-endorse produk lantaran jadi korban perselingkuhan suaminya. Banjirnya dukungan dari warganet berujung keduanya mendadak mendapat banyak pengikut. Keduanya lantas mendapat centang biru dari Instagram dan tawaran mempromosikan beragam produk, mulai dari kosmetik sampai pakaian.

Ada juga influencer yang memikat perhatian publik secara vulgar seperti dengan memanfaatkan kekayaan. Konten-konten yang diangkatnya sekadar tampilan kemewahan telanjang, yang tentu saja menakjubkan sebagian besar masyarakat yang hidup seadanya saja perlu bekerja keras. Pun, ada influencer yang jualan konten prank tak mutu di platform media sosialnya. Kontennya laris-manis akibat reaksi emosional korban prank, baik malu, kikuk, marah, dan lain sebagainya, padahal hal ini bisa berujung trauma para korban.

Bila sosok-sosok yang meraup reputasi dari kontroversi ini jadi kaya raya dan berpengaruh, bukankah benar apa yang disebut Dea bahwa dunia semacam ini tidak masuk akal? Lebih-lebih, bila tindakan-tindakan tercela memulung perhatian mereka menginspirasi yang lain untuk menirunya?