Sudah kurang lebih sebulan saya menjalani profesi sebagai wartawan. Sejak awal, saya berusaha untuk tidak naif melihat keadaan dunia media, khususnya media lokal di luar pulau Jawa seperti media tempat saya bekerja. Tetapi tetap saja, apa yang terjadi di kemudian hari ternyata tetap sedikit mengagetkan, dan cukup membuat saya kecewa.

Saat itu saya sehabis meliput Rapat Dengar Pendapat yang diadakan di Gedung DPRD Provinsi, dalam agenda itu hadir perwakilan dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Ada dua yang menjadi pembahasan utama mereka pada hari itu, yaitu soal realisasi jaminan reklamasi dan izin usaha pertambangan yang terindikasi palsu. Saya hadir di dalam ruang rapat bersama beberapa teman yang menjadi perwakilan media.

Sehabis liputan, awalnya saya ingin langsung pergi ke kantor dan mulai menulis berita. Namun, seorang teman meminta saya dan hampir semua wartawan lain untuk tidak pulang dulu agar bisa berkumpul di sebuah kafe yang kebetulan jaraknya berdekatan rumah tempat saya tinggal.

Saat itu, saya pikir saya diajak karena kebetulan saya wartawan baru dan ingin dikenalkan dengan teman-teman wartawan lain. Tak kenal maka tak sayang. Tak ada salahnya juga menjalin silaturahmi.

Kami kemudian berkumpul di kafe yang dimaksud, dan ketika saya tiba, ada seorang bapak yang kelihatannya sudah menunggu. Satu per satu dari kami menyalami orang tersebut—termasuk saya, yang sebenarnya tidak tahu siapa dia.

Orang tersebut kemudian menyatakan, dengan nada santai seolah-olah bercanda, agar kami fokus meliput ke isu Jaminan Reklamasi saja. Tidak usah menyoroti Izin Usaha Pertambangan yang terindikasi palsu.

“Kalian meliput jamrek (Jaminan Reklamasi) saja, ya, IUP enggak usah,” ucapnya.

Saya, yang masih belum menangkap situasi, berusaha ikut tertawa santai karena menganggap ucapan itu hanya lelucon—meskipun saya tidak mengerti lucunya di mana.

Beberapa saat kemudian, orang itu pergi. Seseorang mendatangi kami satu per satu untuk meminta nomor rekening, sambil menegaskan agar isu yang diliput cukup jaminan reklamasi saja, bukan izin usaha pertambangan yang terindikasi palsu.

Saya bergeming, pura-pura tak mendengar sambil melihat-lihat gawai genggam saya yang sebenarnya tidak ada apa-apa. Jujur, saya juga tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Beberapa kali orang tersebut memanggil saya, namun saya tetap tidak menyahut.

Saya kemudian mengambil ransel beserta tas kamera saya, kemudian pamit ke orang-orang yang hadir di sana—termasuk si “koordinator”—bahwa saya harus pulang karena ada acara keluarga.

Dari sana, saya langsung menghubungi pemimpin redaksi saya bahwa saya ingin bertemu untuk mengobrol langsung. Saya pun langsung mengendarai motor saya ke kantor.

Saat saya sudah sampai di kantor, pemimpin redaksi saya rupanya tidak ada di tempat, saat saya hubungi lagi, dia berkata bahwa dia sedang tidak dalam keadaan sehat.

Beberapa saat kemudian, pemilik perusahaan tempat saya bekerja datang berkunjung. Saya pun langsung meminta waktu untuk mengobrol di ruangannya.

***

Setelah mendengar cerita saya, ia meminta untuk menaikkan berita tentang IUP yang terindikasi palsu tersebut. Ia menyatakan bahwa, apapun yang terjadi, ia akan siap untuk membela.

Saya tidak menyangka akan mendapatkan dukungan seperti itu.

Malamnya, saya langsung menggarap hasil liputan menjadi berita, lengkap dengan data-data perusahaan yang disinyalir memiliki IUP yang terindikasi palsu. Esok paginya, berita tersebut langsung naik.

Siang harinya, saya bertemu dengan pemimpin redaksi di kantor. Ia mengatakan bahwa ia menerima telepon yang meminta untuk “mengamankan” saya dan menurunkan berita yang saya tulis. Ia juga memberitahu bahwa bapak-bapak yang kemarin saya temui merupakan salah satu pemilik perusahaan dengan IUP yang terindikasi palsu, karena itulah ia ingin isu tersebut tidak naik ke permukaan.

Bukan cuma media, orang tersebut ternyata juga menghubungi demonstran yang melakukan aksi ke lembaga negara terkait, agar mereka memfokuskan aksi pada isu Jaminan Reklamasi, bukan Izin Usaha Pertambangan.

Meskipun begitu, pemimpin redaksi saya menyatakan bahwa tidak ada masalah, dan tulisan saya mengenai isu tersebut akan tetap naik. Ia juga sudah mengobrol langsung secara pribadi dengan pemilik perusahaan mengenai hal tersebut.

Saya cukup beruntung, bahwa pemilik perusahaan juga pemimpin redaksi tempat saya bekerja berkenan menaikkan berita saya, dengan segala konsekuensi dan resiko yang menyertainya.

***

Setelah kejadian tersebut, saya sempat mengobrol dengan seorang teman yang lama aktif dalam advokasi tambang. Ia menyatakan bahwa cara-cara seperti itu sudah biasa. Menurut perkiraannya, perusahaan tambang nakal dan ilegal itu bisa menghabiskan 70% keuntungannya untuk menyogok orang, dan hanya 30% yang mereka ambil secara bersih.

Ia juga mengungkapkan bahwa kasus itu lebih besar dari apa yang saya bayangkan. Pada awal tahun ini, database DPMPTSP sempat hilang, termasuk rekaman CCTV pada saat kejadian itu terjadi. Saya mencoba menelusuri pernyataan kawan tersebut di pemberitaan-pemberitaan media, dan yang saya temukan lebih konyol dan mengerikan. Di tengah zaman yang serba canggih ini, yang terjadi bukan hanya terjadi kehilangan database. Rupanya data-data penting seperti itu dinyatakan hilang tanpa pernah memiliki back up.

Hal itu jelas melahirkan banyak asumsi di kepala saya.

Kawan saya juga secara tersirat menyarankan, agar lain kali saya tetap mengambil uang yang ditawarkan, lalu uang itu disumbangkan ke tempat lain. Ia bercerita tentang seorang wartawan lama yang menerima uang seperti itu dan kemudian menyumbangkannya ke gereja. Menurutnya, saya bisa kesulitan mendapatkan akses informasi nanti, karena dijauhi teman-teman wartawan lain.

Saya sendiri berusaha untuk tetap menjaga komunikasi baik dengan teman-teman wartawan lain selepas kejadian itu. Saya tidak menunjukkan sikap yang berbeda dari awal saya mengenal mereka meski, jujur saja, saya cukup kecewa. Setelah pertemuan di kafe itu, wartawan-wartawan yang hadir memutuskan untuk menjalankan pesan untuk tidak menampilkan berita mengenai skandal pemalsuan izin pertambangan dan hanya memuat berita mengenai Jaminan Reklamasi.

Saya sadar, setiap orang mempunyai alasan dan masalahnya masing-masing. Saya sendiri bukan manusia yang sempurna dan tanpa cela. Tetapi kalau pada akhirnya nanti saya tetap dikucilkan karena keinginan saya untuk terus menulis dengan jujur, maka biarlah.

Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan.