Beberapa waktu terakhir, banyak startup dikabarkan melakukan PHK. Pada gelombang pertama atau akhir bulan Mei lalu, daftar startup yang tercatat media melakukan PHK adalah Zenius, LinkAja, Tanihub, Fabelio, JD.ID dan Uang Teman. Lalu, pada awal bulan Juni ini menyusul Mobile Premier League (MPL) dan Pahamify yang dikabarkan juga melakukan pemecatan karyawan secara masif. Kejadian ini akhirnya mengundang banyak pihak untuk mendiskusikan penyebab startup-startup terkait melakukan PHK. 

Salah satu topik yang muncul dalam diskusi yang beredar terutama di media sosial adalah bakar uang, sebuah strategi yang identik dengan startup ketika ingin masuk ke pasar. Bakar uang biasanya dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari membagikan voucher belanja, diskon besar-besaran, gratis ongkos kirim, cashback, coba gratis berbagai layanan/produk berbayar, bagi-bagi hadiah, dan lain-lain. 

Tak hanya bertujuan memikat konsumen, bakar uang ini dilakukan untuk menarik perhatian pelaku ekonomi lainnya yang sebelumnya sudah saling terkait dalam bidang tertentu. Misalnya, menggratiskan biaya “sewa” bagi para pedagang untuk membuka lapak di platform belanjanya, menawarkan mekanisme bonus bagi tukang ojek, petani, penjual buah dan sayur, dll yang mau membuat akun di aplikasi milik startup. 

Untuk melakukan ini, startup mengeluarkan dana yang tidak sedikit dan itu sebabnya mereka disebut bakar uang atau money burning. Meskipun bagi beberapa pihak hal ini sah-sah saja dan juga umum dilakukan oleh perusahaan besar, untuk kasus startup, strategi ini dinilai memungkinkan mereka memperkenalkan cara dan gaya hidup baru ke masyarakat. Tetapi tentu saja, dengan begitu ia juga menghadirkan banyak permasalahan baru lainnya.

Mendorong Perubahan

Perkembangan teknologi informasi dan pembelajaran mesin memang telah mengubah cara kita melakukan hampir setiap hal dan itu sudah menjadi suatu keniscayaan. Beberapa pihak pun menyambut perubahan ini secara positif karena ada solusi terhadap masalah keseharian yang langsung terasa. 

Artikel yang diterbitkan CNBC pertengahan Mei lalu, misalnya, menyebutkan bahwa Gojek telah menawarkan solusi dalam pemesanan layanan transportasi dan terus mengembangkan fitur tambahan lainnya, terutama setelah merger dengan Tokopedia. Saking pentingnya yang ditawarkan Gojek, artikel itu menilai bahwa gagasan memesan layanan transportasi secara daring dan segala fitur lainnya telah membawa kita berjalan ke satu arah. Kita sulit atau tidak bisa kembali ke masa lalu dan tidak ada jalan selain Gojek harus tetap ada. 

Saat ramai-ramai PHK yang dilakukan startup akhir-akhir ini, gagasan serupa kembali menguat. Salah satunya lewat cuitan dari akun @madalkatiri di Twitter. Ia menyebutkan bahwa peran startup terutama marketplace dalam membakar uang adalah mengenalkan inovasi belanja daring hingga ke daerah-daerah dan mendukung UMKM serta merk lokal untuk meningkatkan penjualannya. Tak hanya belanja daring, akun itu juga mengajak pembaca untuk membayangkan apa yang tidak akan ada sampai hari ini bila startup tidak membakar uang, mulai dari kemunculan penjual makanan dan minuman termasuk ibu-ibu “yang iseng bikin usaha makanan dari rumah”, sampai pemantauan dan pemesanan harga tiket pesawat dan kereta. 

Hanya Solusi Semu dan Sementara

Nailul Huda, peneliti Institute for Development of Economics and Finance, menjelaskan latar belakang startup Indonesia sering menempuh strategi bakar uang. Ia menjelaskan karakteristik pendanaan startup dan pembeli di Indonesia. 

“Dari sisi platform, atau startup, mereka masih hidup dari satu pendanaan ke pendanaan lainnya atau dengan kata lain mengandalkan pendanaan dari investor. Demi mendapatkan pendanaan, mereka pasti akan menjual valuasi. Salah satu cara meningkatkan valuasi ini adalah lewat GMV (Gross Market Value) dan juga subscriber. Sementara, konsumen kita masih mempertimbangkan variabel harga barang atau jasa di ekonomi digital. Terlebih, di ekonomi digital ini harga barang antar satu toko atau platform dengan yang lainnya sangat terbuka. Jadi, ketika kita membeli barang kita bisa membandingkan harganya secara langsung. Maka dari itu, kita akan memilih harga yang lebih murah. Dengan karakteristik seperti itu, startup melihat strategi bakar uang sebagai langkah tercepat,” kata Nailul.

Sementara itu, Tesar Sandikaputra, Ketua Indonesian Digital Empowerment Community merasa ada yang salah dari startup yang terus-menerus membakar uangnya. Baginya, hal ini tidak hanya berkaitan dengan karakteristik startup dan konsumen belaka, melainkan juga orientasi startup itu sendiri dan nihilnya kebijakan pemerintah yang mengatur hal ini. 

“Bakar duit memang ada waktunya. Kalau orang belum tahu produk kita, maka butuh literasi ke konsumen. Kalau itu boleh, waktunya paling lama 1-2 tahun. Produk baru pasti begitu. Masalahnya, startup terutama unicorn ini tidak mengejar profit saat melakukan bakar uang, tetapi valuasi atau nilai perusahaan di atas kertas, sehingga mereka bisa menjual ke investor berikutnya meskipun secara profit masih merah,” kata Tesar. 

Tesar mengingatkan konflik yang pernah terjadi antara Gojek dengan perusahaan taksi Bluebird di awal-awal kemunculannya dulu. Meski kedua perusahaan ini tampak tidak bersitegang secara langsung, para pengemudinya jelas beradu di jalan. Tak hanya dengan Bluebird, kita mungkin juga mengingat adanya zona merah di titik tertentu yang membuat para penumpang maupun supir ojek online harus memilih lokasi janjian yang aman untuk menghindari ribut dengan ojek pangkalan. 

“Yang satu agregat dan ada tarif atas bawah, aturan macem-macem. Di lain sisi, Gojek nggak ada aturan, bebas lepas. Padahal konsumennya sama. Jadi yang satu diregulasi, yang lainnya nggak. Di Gojek itu 0 rupiah bisa aja kan? Kalau taksi (dan ojek pangkalan) nggak bisa begitu. Menurut saya, masalahnya memang tidak ada regulasi,” jelas Tesar. 

Bila menilik konteks PHK yang dilakukan beberapa startup yang melakukan PHK beberapa waktu lalu, strategi bakar uang ini memang perlu diteliti lebih lanjut. Tetapi, banyak pihak percaya bahwa fenomena PHK itu menjelaskan akibat dari buruk/tidak tepatnya manajemen bisnis dari startup yang juga diikuti dengan konteks ekonomi global. 

“Pada tahun 2021, pendanaan startup di Indonesia itu meningkat tajam, mencapai Rp144 T. Jika dibandingkan tahun 2020 atau 2019 itu meningkat 2-3 lipat. Tahun ini, hingga pertengahan tahun 2022 baru mencapai 30 T. Bisa dibayangkan, sudah berjalan setengah tahun saja nggak mencapai setengahnya kemarin. Ini yang membuat startup digital perhitungan karena mereka tidak mendapatkan pendanaan segar lagi. Oleh karena tahun kemarin mereka dapat pendanaan yang besar sekali dan telanjur mengekspansi usahanya dengan terus merekrut banyak orang dengan gaji yang tinggi, maka otomatis saat mereka berpikir untuk efisiensi, salah satunya lewat PHK,” urai Nailul. 

Remotivi mencoba memeriksa hal ini dengan menilik startup yang kemarin melakukan PHK, yakni LinkAja dan Zenius. Saat dikonfirmasi, kami hanya mendapat respons berupa rilisan pers dan pernyataan resmi terkait alasan pemecatan karyawan dari pihaknya. Keduanya sama-sama menyebut “kondisi makro ekonomi yang berada di luar kendali kami”, “penyesuaian/perubahan model bisnis”, “efisiensi dan optimalisasi bisnis” sebagai latar belakang dilakukannya PHK. Alasan serupa ternyata juga disampaikan oleh Tanihub di beberapa pemberitaan. 

Setelah memeriksa pemberitaan LinkAja dan Zenius terkait strategi bisnis beberapa bulan sebelum terjadinya PHK, Remotivi mendapati bahwa LinkAja dan Zenius memang sempat masuk sebagai perusahaan dengan peningkatan jumlah karyawan tertinggi pada kuartal III tahun 2021. 

Tak Hanya Gaya/Cara Hidup, Tetapi Banyak Hal

Selain penjelasan dari konteks ekonomi global, PHK ini tetap mengundang pertanyaan dari beberapa pihak. Tesar salah satu yang menunjukkan kejanggalan dan kecurigaannya atas ini. Ia kembali menyoroti absennya kebijakan pemerintah dan strategi bakar uang yang tidak efisien. 

“PHK itu biayanya relatif sedikit. Mau hemat berapapun, pengeluaran di luar gaji itu lebih banyak. Makanya saya heran, gaji dihemat tapi bakar duitnya nggak dikurangi. Sementara, pemerintah ngga sadar diri tentang ini, mereka berbangga kita punya sekian ribu unicorn yang katanya bisa menambah lapangan pekerjaan. Tapi fenomena ini kan antitesanya. Kalau misalnya unicorn itu banyak yang tutup atau terus merugi, berapa ribu karyawan yang terdampak? Itu baru satu sisi, bagaimana dengan efek dominonya? Ini pemerintah cuma mau dorong ada unicorn, tapi ketika itu jatuh, nggak dipikirkan,” kata Tesar. 

Beberapa pengamat menilai bahwa orientasi startup dalam menjalankan bisnis kurang strategis untuk jangka panjang. Butuh waktu yang lama untuk melakukan bakar uang hingga startup bisa mendapatkan profit yang stabil. Dan ketika itu dimulai, banyak pihak justru akan “dirugikan”, baik konsumen maupun pelaku ekonomi lainnya. 

Ihwal bakar uang ini menjadi permasalahan yang pelik. Ia ternyata bukan sekadar trik atau strategi untuk menarik perhatian tetapi lebih kompleks dari itu. Tahun 2021 yang lalu, Arif Novianto pernah menyoroti berakhirnya periode bakar-bakar uang sebagai selesainya “bulan madu” antara Gojek dengan pengemudinya. Menurutnya, hal ini berakibat pada persaingan yang semakin ketat dan sulit antar pengemudi, mulai dari sulitnya meningkatkan performa hingga bayang-bayang sanksi dan pemutusan mitra secara sepihak. 

Anindya Dessi Wulansari dalam tulisannya yang berjudul “Mitos Ekonomi Berbagi dalam Platform Kerja Gig di Indonesia” juga menyebutkan adanya kontradiksi antara grafik valuasi platform Gojek dengan pendapatan mitra pengemudinya. Di satu sisi, valuasi Gojek terus meningkat tajam dan saat biaya bakar uang mulai dipangkas ia mulai menciptakan keuntungan riil. Sementara itu, pendapatan pengemudi ojek daring menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun, yang tidak hanya disebabkan oleh berbagai pembatasan mobilitas akibat pandemi Covid-19, tetapi juga diakhirinya periode bakar uang yang berakibat pemangkasan insentif/bonus.

Tidak heran, Tesar menyinggung bahwa perkara PHK dan bakar uang ini berkaitan dengan keberpihakan. “Artinya, mereka nggak berpihak ke pekerjanya. Cut off itu paling mudah memang, tapi jangan jadi solusi utama. Apakah dengan mengambil solusi itu maka lantas jadi profit? Kan nggak. Apa bedanya jadi budak? Kasarnya, lo mau mati atau lo nggak punya kerjaan, yang penting perusahaan gue selamet. Bahayanya di situ. Keberpihakannya terhadap kesejahteraan mitra dan karyawan sebelum ada kasus ini berarti agak kurang.” 

Munculnya Resistensi

Strategi bakar uang ini di satu sisi memang bekerja dan kita bisa melihatnya secara kasat mata. Hari ini kita telah terbiasa memanggil ojek, membeli makanan atau bahan masakan, dan memesan tiket bepergian lewat aplikasi, termasuk juga bekerja dan belajar secara hibrid (online dan tatap muka). Akan tetapi, pola hidup masyarakat tidak semudah itu diubah. 

Beberapa aktivitas esensial seperti belanja kebutuhan sehari-hari di toko kelontong atau pasar terdekat, kebiasaan diskusi dalam belajar dan bekerja secara langsung, naik transportasi umum alih-alih ride hailing, dan lain-lain masih banyak digemari dan diandalkan, terutama ketika startup mulai mengurangi alokasi bakar uangnya. Dengan begitu, tawaran-tawaran yang difasilitasi teknologi digital sejauh ini masih bersifat komplementer dan opsional, belum bisa mengubah keseharian lama kita sepenuhnya. 

Sebut saja salah satu keluhan Warpopski, tempat makan di Jakarta yang sempat ramai beberapa waktu lalu. Pada 10 Mei lalu, mereka mengumumkan lewat Instagram dan Twitter bahwa mereka memprioritaskan konsumen yang datang langsung untuk makan di tempat ataupun dibungkus. 

Meskipun langkah tersebut bisa saja dihitung sebagai salah satu konten pemasaran dari Warpopski, ajakan untuk datang langsung alih-alih memesan lewat aplikasi masuk akal belaka. Lewat visual grafis, mereka menuliskan, “Gede banget beban biaya ini itu, order online-nya, kasihan pedagangnya, kasihan driver-nya, imbasnya juga ke pembelinya. Semua jadi mahal yang kami jual di platform karya anak bangsa.” Kampanye ini naik ketika biaya platform mulai meningkat akhir-akhir ini. 

Pengelola Ecommurz, salah satu forum diskusi dan berbagi lewat pendekatan satir dan meme juga pernah berkomentar terkait strategi bakar uang startup ketika diwawancara dalam podcast Talk 2 Talk. Ia menanggapi strategi tersebut dari perspektif pekerja. 

“Sebenarnya, semakin banyak uang yang dibakar, semakin banyak pula yang diharapkan untuk kembali kan? Misalnya, kita menghabiskan sekian juta untuk marketing, itu yang akan ditargetkan menjadi KPI kita-kita (para pekerja startup dan e-commerce). Jadi, di balik tawaran menggiurkan itu, ada kita-kita yang mengejar target,” jelasnya.

Tidak hanya membahas desas-desus dan menertawakannya, Ecommurz juga punya kanal yang fungsinya mensirkulasikan informasi apapun terkait startup bernama Murzfeed. Satu informasi yang beredar direspons, dikonfirmasi, ataupun dibantah secara anonimus. Hingga hari ini pun, laman Murzfeed dan akun-akun media sosial Ecommurz terus bermunculan kabar burung terkait PHK, mundurnya jajaran pimpinan, hingga informasi internal dari berbagai startup yang bahkan banyak yang tidak semuanya terekam oleh media. 

Metode serupa juga dilakukan oleh Layoffs.fyi dan Taktekbum. Layoffs.fyi menyediakan sebuah kanal untuk melacak PHK yang dilakukan startup sejak pandemi COVID-19 lewat laporan publik. Cakupannya bahkan dari berbagai belahan dunia. Di sana tersedia sumber berita, presentase pekerja yang di-PHK, jenis industri, hingga tahap pendanaan perusahaan tersebut. Kita juga bisa melihat data-data itu dalam bentuk grafis yang tersusun secara otomatis dan mutakhir. Beberapa laporan yang masuk juga menyertakan daftar pegawai yang dipecat beserta informasi terkait email, posisi, dan bidang yang dikuasai yang bisa berguna bagi pemberi kerja. 

Meskipun saat ini aktivitas media sosial Taktekbum tak lagi terlihat, arsip postingannya menunjukkan semangat yang kurang lebih sama. Hal ini bisa terlihat dari beberapa unggahan terakhir mereka yang menyuarakan kampanye terkait jaminan hari tua. 

Kemunculan berbagai respons ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi digital yang didukung oleh perkembangan teknologi informasi tidak serta-merta mengubah cara kita mengonsumsi barang dan jasa. Ia memang menawarkan sesuatu yang berakibat perubahan di tengah kehidupan masyarakat, tapi masyarakatlah yang akhirnya menentukan perubahan seperti apa yang benar-benar dibutuhkan.