Judul buku: 
Selamatkan Anak-Anak

Judul asli: 
The Dissapearance of Childhood

Penulis: 
Neil Postman

Penerbit: 
Resist Book, Yogyakarta

Tahun terbit: 
November 2009

Judul buku: 
Selamatkan Anak-Anak

Judul asli: 
The Dissapearance of Childhood

Penulis: 
Neil Postman

Penerbit: 
Resist Book, Yogyakarta

Tahun terbit: 
November 2009

Dalam Selamatkan Anak-Anak, Postman mewartakan ancaman yang membayangi anak-anak. Ancaman ini bukan ancaman fisik, melainkan ancaman yang lebih gawat lagi: hilangnya gagasan dan konsep mengenai anak-anak dan masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak, menurut Postman, adalah juga produk sosial, bukan sekadar kategori biologis. Layaknya produk kebudayaan lainnya, ia tidak saja bisa berubah seiring konteks zamannya, tapi juga bisa punah.

Ide tentang masa kanak-kanak merupakan salah satu penemuan hebat Pencerahan. Masa kanak-kanak, sebagai kondisi psikologis sekaligus bagian dari struktur sosial, baru muncul sejak abad ke-16. Dengan munculnya media cetak dan institusi sekolah, seseorang dianggap dewasa jika ia mampu membaca dan menulis. Dari situ, muncul kategori yang bukan hanya berdasarkan fisik melainkan juga mental. Dalam awal perkembangannya, anak-anak adalah mereka yang belum memiliki kemampuan membaca dan menulis.

Sebelum Pencerahan, ketika Masa Kegelapan melanda Eropa, tidak ada distingsi yang tegas antara anak-anak dan orang dewasa. Anak-anak mengenakan pakaian dewasa, bahkan telah dituntut bekerja layaknya orang dewasa. Pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik, seperti menjadi kuli bangunan, berlaku juga untuk anak-anak. Kala itu, seseorang bisa disebut “dewasa” setelah ia mampu bicara—perkembangan fisiologis maupun psikologis, bukan perhitungan.

Ketika media cetak lahir, dan kemudian terinstitusikan lewat sekolah, konsep anak-anak pun menjadi semakin tegas. Jika pada masa sebelumnya anak-anak dianggap kehilangan kekanak-kanakannya ketika ia mampu berbicara, setelah hadirnya sekolah, pandangan itu berubah. Anak dianggap dewasa ketika ia mampu dengan baik membaca dan menulis—menjadi melek huruf. Pendeknya, anak-anak dewasa setelah ia melewati masa sekolah.

Masa kanak-kanak adalah produk sejarah. Ketika sejarah pada praktiknya adalah arsip, atau pencatatan sejarah via media, maka posisi media menjadi penting; konsep anak-anak adalah produk dari akumulasi media.

Televisi dan Hilangnya Masa Kanak-Kanak

Pada satu sisi, kemajuan dunia media dan informasi, yang salah satunya menelurkan medium gambar bergerak dan suara, alias televisi, adalah angin segar. Pengetahuan bisa disebar secara lebih luas dengan cara yang lebih ringan. Melalui gambar dan suara, tak perlu keahlian khusus untuk memaknai pesan. Baik anak-anak maupun dewasa mampu menangkap apa yang muncul di layar. Meski, tentu saja, pemaknaannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Hal ini jelas berbeda dari apa yang terjadi pada masa kejayaan mesin cetak. Produk yang dihasilkan mesin cetak memaksa orang untuk melek huruf terlebih dahulu sebelum bisa memahami apa yang disebutkan dalam teks tersebut. Tentu saja, informasi atau pesan yang ada di dalam produk mesin cetak tersebut hanya mampu ditangkap oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan membaca.

“Televisi diyakini mampu meruntuhkan basis hierarki informasi. Televisi juga memperdengarkan teks dan kadang-kadang mengandaikan pentingnya teks tersebut. Namun, tetap gambarlah yang mendominasi kesadaran penontonnya dan membawa makna-makna penting” (hal. 115).

Hal inilah yang membuat Marshall McLuhan, seorang ilmuwan komunikasi, memilah medium audio-visual dan cetak sebagai dua jenis media yang berbeda. Panas dan dingin (hot media dan cool media). Kita bisa menonton televisi sambil melakukan pekerjaan yang lain. Makna dan pesan dari visualisasi televisi bisa kita simpulkan tanpa perlu mendengarkannya dengan serius. Lain halnya dengan buku yang harus dibaca dan butuh konsentrasi tinggi untuk mampu memahami pesan yang dimaksud. Hal ini dikarenakan otak manusia lebih mudah menyimpan ingatan dalam bentuk gambar daripada teks.

 Sebut saja saat anak kecil belajar membaca dengan menggunakan gambar. Ia lebih mengingat gambar dan mampu mengucapkannya dengan fasih, meski pun kenyataannya ia masih tertatih untuk mengingat huruf-hurufnya. Postman mengingatkan bahwa kata dan gambar mempunyai dua semesta yang berbeda. Kata-kata, menurut Postman, merupakan sebuah ide dan merupakan konsep keteraturan yang kita miliki, sedangkan gambar tidak menunjukan adanya aturan atau logika yang harus dipatuhi. Menurut Postman, gambar hanya meminta kita untuk merasakan, bukan berpikir, tentang pesan yang dibawanya. Sedangkan teks, atau susunan huruf-huruf, meminta kita untuk berpikir terlebih dahulu untuk mengetahui ide yang dimaksudkan (hal. 109).

Tak heran jika anak-anak lebih menyukai gambar—apalagi gambar warna-warni yang bergerak—dibanding teks yang monoton. Tak heran pula jika saat ini anak-anak lebih menyukai televisi atau bentuk video lain dibanding membaca buku. Sayangnya, televisi justru belum mampu menggantikan posisi teks sepenuhnya, yang mungkin terlalu rumit untuk diubah dalam bahasa gambar. Masih sulit untuk mencari materi siaran televisi yang ramah anak serta memiliki muatan layaknya buku.

Lihat saja, berapa persen tayangan yang ditujukan untuk anak-anak dengan konten anak-anak? Apakah dikemas dengan bahasa anak-anak dengan visual yang mampu dipahami anak-anak?

Jangan-jangan, tayangan yang “katanya” ditujukan untuk anak-anak, sebenarnya tidak memuat konten anak-anak sama-sekali. Anak-anak dipaksa untuk memahami hal-hal rumit yang dikemas melalui gambar. Padahal kemampuan kognitif atau penalaran anak masih berkembang dan belum sempurna.

Meskipun teknologi informasi dan media adalah “penemu” masa kanak-kanak, pada gilirannya, malah menjadi ancaman bagi konsep tentang masa kanak-kanak itu sendiri. Anak-anak kini tak lagi bermain, melainkan juga “bekerja”. Hanya saja, anak-anak bekerja dalam “pabrik” yang lebih subtil. Anak-anak muncul sebagai model, menggunakan busana dewasa, bertingkah layaknya orang dewasa. Bagi industri media, hal ini adalah “kemajuan” yang mesti didukung (hal.13). Melalui televisi, konsep tentang anak-anak sebagai manusia yang belum dewasa telah punah.

Catatan

Terkadang, ketika bicara tentang masa kanak-kanak, ingatan kita melayang jauh, mengenang masa senang bermain bersama teman-teman sebaya. Mulai dari bermain petak umpet, bermain karet atau hanya sekedar bermain kejar-kejaran dengan teman. Hal yang berbeda dengan masa kanak-kanak jaman sekarang.

Postman berhasil memberikan ilustrasi serta menjelaskan bagaimana konsep tentang masa kanak-kanak terkikis sampai hampir punah oleh industri media. Sayangnya, ia berhenti di situ. Postman meyakini bahwa institusi maupun individu yang mempunyai pengalaman langsung di ranah ini (seperti pendidik atau pekerja media) akan lebih memahami solusinya. Sayangnya, Postman tidak menunjukkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijelajahi para pendidik. Sementara untuk pekerja media, harapan Postman ini bertentangan dengan klaim sebelumnya bahwa televisi sendiri tak mau ambil pusing dengan masalah ini.

Memang, tugas kritik bukanlah mencari solusi. Tugas kritik adalah menunjukkan adanya masalah serta akar dari masalah tersebut. Namun, pembahasan Postman pun mengesankan bahwa tak ada jalan keluar. Media begitu berkuasa dan merasuk dalam kehidupan masyarakat sampai demikian sulit membendung efeknya—Postman bahkan belum memperhitungkan teknologi internet yang membuat masalah jadi lebih ruwet lagi. Penolakan Postman dalam memberikan solusi, ditambah kesan “mentok” tanpa jalan keluar, barangkali adalah gejala dari cara berpikir yang ia adopsi. Pola determinisme teknologi yang dipakai Postman menyematkan masalah pada teknologi, pada medium itu sendiri.  Sejauh teknologi itu ada, maka masalah akan tetap ada.

Selain itu, dalam Selamatkan Anak-Anak,  hal-hal yang berbau seksualitas dalam bentuk yang sangat sederhana sekalipun, menurut Postman,  adalah bentuk pornografi. Sementara itu hanya orang-orang dewasa yang boleh membicarakannya dan mampu memahaminya.

Terdapat dua hal yang perlu dilihat kembali oleh Postman terhadap pernyataan tersebut. Pertama, tidak semua hal yang berkaitan dengan seksualitas adalah pornografi. Kedua, kepolosan berpikir anak-anak yang dimaksudkan Postman bukan berarti bahwa anak-anak bodoh dan tak mengerti apa pun yang dikonsumsi orang dewasa. Memang masuk akal, ketika Postman menyatakan bahwa, “Tanpa ide mengenai rasa malu yang dikembangkan dengan baik, konsep mengenai masa kanak-kanak tidak bisa muncul” (hal.21)namun penempatan tabu yang berlebihan terhadap tubuh justru bisa mengganggu tumbuh kembang anak. []