Kompetisi untuk meraih keuntungan tinggi masih menjadi motif utama di balik tindakan eksploitasi terhadap perempuan oleh media massa. Misalnya, etika jurnalisme untuk tidak menampilkan identitas perempuan korban kekerasan dan pelecehan seksual, masih sering diabaikan. Tak hanya itu, eksploitasi juga dilakukan dengan mengetengahkan seksualitas perempuan sebagai objek utama suatu berita.

Media massa bergerak dengan mentalitas kawanan (herd mentality), memburu identitas korban, mengorek-ngorek segala aspek dalam hidup korban, untuk menciptakan berita yang sensasional dan mudah menarik perhatian publik. Sensasi tentu saja membawa peningkatan oplah dan rating, yang berujung pada keuntungan yang tinggi.

Fenomena tersebut diuraikan oleh Redaktur Pelaksana Tempo, Wahyu Dhyatmika, dalam diskusi “Mendobrak Pemberitaan yang Eksploitatif” yang diadakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, pada Sabtu (23/03), di Kalibata, Jakarta Selatan. Bahkan, dalam institusi media sekelas Tempo, lanjut Wahyu, eksploitasi terhadap perempuan masih terjadi. Hal ini, misalnya, terjadi dalam pemberitaan Tempo soal “ayam kampus” yang ikut digiring Komisi Pemberantasan Korupsi saat penangkapan Ahmad Fathanah, terkait kasus suap daging impor.

Awalnya, menurut Wahyu, Tempo hanya menyebut mahasiswi tersebut dengan inisial “M”. Namun, media-media lain kemudian menyebutkan nama dan tempat kuliah M. Terpengaruh oleh itu, Tempo ikut menampilkan identitas M dengan amat jelas. Inilah yang disebut Wahyu sebagai herd mentality atau mentalitas kawanan. Bahkan, saat berita tentang M sedang hangat-hangatnya, Tempo.co juga membuat laporan khusus, yang di antaranya berjudul “Malam ‘ngayam kampus’, Esoknya Diratus”, yang amat menonjolkan seksualitas perempuan.

Wahyu, yang biasa dikenal dengan nama Komang ini berpendapat, bahwa pemberitaan yang demikian bukannya tanpa konsekuensi. Komite Ombudsman internal Tempo sempat menegur wartawan peliput berita “ayam kampus” untuk menyoal pelanggaran etika ini. Namun, teguran ini diikuti oleh pujian bahwa berita yang ditampilkan pada situs Tempo.coitu meraih jumlah klik yang tinggi. Wartawan pun akhirnya malah mendapat pesan bermakna ganda: ditegur karena melanggar etika sembari dipuji karena beritanya meraih rupiah.

Eksploitasi perempuan seperti ini disayangkan oleh Mariana Amiruddin, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan. Menurutnya, media massa memiliki kuasa hampir seperti Tuhan: apa yang diberitakan media soal korban akan mempengaruhi hidup korban hingga puluhan tahun berikutnya. Mariana menegaskan, media massa sebetulnya memiliki pilihan untuk menghindari eksploitasi atas perempuan. Misalnya saja, dalam liputan soal “ayam kampus”, media bisa memilih sudut pandang pemberitaan yang lebih bijak dengan menegaskan, bahwa dalam jual beli seks di lingkungan kampus, perempuan adalah korban, bukannya objek yang perlu dieksplorasi seksualitasnya.

Di akhir diskusi, Komang menyimpulkan bahwa eksploitasi perempuan dalam pemberitaan media massa bisa diminimalisir jika wartawan memiliki perspektif gender dan melihat perempuan sebagai manusia, bukannya objek. Pelatihan perspektif gender, pengawasan dari internal redaksi, dan pemantauan oleh Dewan Pers, menurut Komang, bisa menjadi solusi untuk menghindari eksploitasi perempuan oleh media massa. Selain itu, menurut Mariana, publik juga bisa ikut menekan institusi media dengan menolak untuk mengkonsumsi berita yang eksploitatif terhadap perempuan. Penghargaan dan apresiasi terhadap berita yang berperspektif gender, lanjut Mariana, juga bisa memotivasi para wartawan untuk memproduksi berita yang tak eksploitatif terhadap perempuan. (REMOTIVI/Nurvina Alifa)