Ribuan kanal media yang ada di Indonesia nyatanya hanya dikendalikan oleh dua belas grup media saja. Cengkeraman konglomerasi media seperti itu sangat terasa pengaruhnya, terutama dalam konten tayangan. Alih-alih berpihak kepada publik, media justru melayani kepentingan pemiliknya, yang tidak pernah bisa diterka motif ekonomi mau pun politik di baliknya. Untuk mengupas permasalahan tersebut, Remotivi dan ruangrupa, bekerjasama dengan Gambar Bergerak mengadakan pemutaran dan diskusi film Di Balik Frekuensi yang disutradarai  Ucu Agustin pada Kamis, 21 Februari 2013, di ruangrupa, Tebet, Jakarta Selatan. 

Film dokumenter berdurasi lebih dari dua jam ini menyoroti praktik industri media dalam hal mempekerjakan buruh media dan penggunaan frekuensi publik sebagai kepanjangan tangan pemilik media. Dua sosok sentral dalam film ini adalah Luviana, seorang jurnalis Metro TV yang di-PHK karena mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja dan mengkritisi kebijakan ruang redaksi (baca: “Luviana: Jurnalis Harus Sadar Bahwa Mereka Kelas Buruh”), serta Hari Suwandi dan Harto Wiyono, warga korban lumpur Lapindo yang berjalan dari Porong, Sidoarjo, ke Jakarta untuk menuntut pembayaran ganti rugi. Dua tokoh tersebut adalah gambaran, sekaligus pintu masuk dalam membongkar praktik konglomerasi media yang semakin mengkhawatirkan dewasa ini.

Sang sutradara Ucu Agustin berharap film ini dapat diakses sebanyak mungkin pihak. Menurutnya, dengan melihat realitas media, publik akan lebih kritis dengan apa yang diserapnya dari media. “Isu soal konglomerasi ini cepat sekali (menggelindingnya). Saat film ini dibuat Hary Tanoesoedibjo masih tergabung dengan Nasdem, sekarang (sudah) pindah ke Hanura. Ini terus bergulir, harus terus kita pantau,” ujarnya.

Sementara itu. Direktur Remotivi Roy Thaniago menyatakan bahwa dibutuhkan usaha terus menerus seperti yang dilakukan oleh film ini untuk meruntuhkan media sebagai mitos tentang kebenaran atau institusi yang melulu dianggap mulia. Selama ini, menurutnya, relasi publik dengan media selalu tak sejajar, dan film ini bisa jadi cara untuk mendesakralisasi posisi media.

Di hadapan lebih dari lima puluh orang penonton dan peserta diskusi, Luviana sendiri menyatakan, bahwa film yang digarap lebih dari satu tahun ini sangat membantu  advokasi kasusnya. Jurnalis yang sudah bekerja selama sepuluh tahun di Metro TV ini juga mengungkapkan masih banyaknya masalah yang dialami oleh para jurnalis televisi. Misalnya, sedikit sekali perusahaan media yang memiliki serikat pekerja yang masih aktif. Padahal, terbentuknya organisasi tersebut sangat penting bagi seorang jurnalis untuk memperjuangkan hak-haknya.

Untuk terus mengajak publik berdiskusi mengenai media, Di Balik Frekuensi akan terus melakukan pemutaran keliling. Setelah sukses digelar di ruangrupa dan beberapa tempat lainnya, Ucu dan timnya akan kembali mengadakan pemutaran dan diskusi pada 26 Februari 2013 pukul 19.00 WIB di Goethe Institut, Menteng, Jakarta Pusat. Publik yang ingin mengadakan pemutaran dan diskusi juga dapat mengajukan permintaan melalui surat elektronik yang beralamat di behindthefrequencyfilm@gmail.com(REMOTIVI/Ardi Wilda)