Di tengah proses pengajuan perpanjangan izin siaran stasiun televisi, banyak tayangan televisi yang masih dikeluhkan oleh publik. Data yang dihimpun oleh Rapotivi, aplikasi pengaduan tayangan televisi tak sehat yang dikelola Remotivi, menunjukkan bahwa aduan berkisar mengenai adanya adegan kekerasan sampai iklan politik. Muncul juga keluhan bahwa iklan politik dianggap telah mempengaruhi anak-anak. Hal ini memang terasa ironis karena tayangan-tayangan yang diadukan tersebut juga tayangan yang mendapatkan rating dan share tinggi.

Berikut tayangan yang paling banyak diadukan oleh masyarakat dalam rentang waktu Januari-Maret 2016. Aduan-aduan ini sendiri diteruskan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

1. “Anak Jalanan”

Sinetron ini berkisah tentang percintaan dan drama rumah tangga sekumpulan remaja yang mencintai dunia balap di jalanan. Di sepanjang Januari-Maret 2016, sinetron ini mendapatkan aduan paling banyak di Rapotivi, yakni sebesar 16%. Beberapa minggu ini, “Anak Jalanan” juga mendapatkan rating dan share tertinggi dibanding tayangan lainnya.

Potensi pelanggaran yang banyak dikeluhkan masyarakat tentang sinetron ini karena banyak menampilkan adegan kekerasan, perkelahian, balap liar, tawuran, dan kehidupan hedonisme remaja ibu kota. Hal ini menjadi potensi pelanggaran karena “Anak Jalanan” ditayangkan di jam anak dan remaja rentan menonton televisi.

2. “Pangeran”

Sinetron SCTV ini terakhir ditayangkan di tanggal 13 Januari 2016 tanpa ada kejelasan apakah sinetron ini tamat, bersambung, atau yang lainnya. Pada 50 episode awalnya, sinetron ini mendapatkan rating dan share tertinggi menurut beberapa sumber. Namun, selama awal Januari tayangan ini mendapat aduan dari masyarakat sebanyak 12% dari total aduan yang masuk melalui Rapotvi selama Januari-Maret 2016. Hal ini memperlihatkan bahwa rating dan share tentu tidak berpengaruh pada kualitas tayangan yang ternyata banyak diadukan masyarakat.

Aduan masyarakat didominasi oleh potensi pelanggaran karena memperlihatkan banyaknya adegan kekerasan dan perkelahian dalam tayangan yang ditayangkan di jam prime time ini. Potensi pelanggaran ini juga diadukan masyarakat untuk tayangan sinetron yang sejenis yaitu 7 “Manusia Serigala” (RCTI) sebanyak 3%, “Halilintar” (SCTV) sebanyak 6%, dan “Pedang Naga Puspa” (SCTV) sebanyak 3%. 

3. “Dahsyat”

Acara musik yang ditayangkan di RCTI yang kini lebih banyak menampilkan sensasi para pembawa acaranya ini banyak dikeluhkan masyarakat. Tidak hanya soal privasi yang menjadikan tayangan ini banyak diadukan masyarakat melalui Rapotivi, namun juga soal permainan (games) yang melibatkan para pembawa acara dan penonton di studio yang mengarah pada eksploitasi seksual dan kekerasan baik verbal maupun fisik. Tayangan ini mendapat aduan sebesar 8% selama Januari-Maret 2016.   

4. “CCTV”

Tayangan yang disiarkan di Trans 7 ini menampilkan kurasi video-video pendek rekaman dari “CCTV”. Tayangan ini mendapat aduan dari masyarakat sebanyak 7%. Hal tersebut dikarenakan banyak video ekstrim yang ditampilkan tanpa adanya sensor. Masyarakat mengeluhkan hal ini karena dapat menimbulkan kengerian bagi penontonnya. 

5. Iklan Perindo

Hingga saat ini masih banyak kita temui iklan partai politik atau blocing time siaran partai politik tayang di beberapa stasiun televisi. Salah satunya iklan Partai Perindo di mana selama Januari-Maret 2016 diadukan sebanyak 6% oleh masyarakat pengguna Rapotivi. Tentu kita ingat bahwa tahun lalu, iklan ini menjadi tayangan yang paling banyak diadukan sepanjang 2015.

Tidak hanya Partai Perindo yang iklannya selalu tayang di MNC Grup (MNC TV, RCTI, dan Global TV). Namun, pemilik media yang berafiliasi dengan partai politik pun memperlihatkan hal yang sama. TV One sempat diadukan oleh beberapa masyarakat melalui Rapotivi karena menyiarkan “Kabar Khusus Golkar”. Pun begitu halnya dengan Metro TV yang sempat diadukan masyarakat karena menyiarkan “Spesial Program: Silatnas Nasdem”.

6. Iklan Tongli

Selama periode Januari-Maret 2016, iklan Tongli mendapat prosentase pengaduan sebanyak 5%. Iklan obat kuat pria ini dikeluhkan masyarakat karena menampilkan eksploitasi seksual dan disiarkan di luar jam dewasa. Iklan ini pun sudah mendapatkan teguran tertulis dari KPI. (REMOTIVI/Septi Prameswari)