Lima jurnalis Indonesia berkunjung ke Israel dan menemui Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu. Foto pertemuan tersebut menjadi viral di media sosial serta menimbulkan pro-kontra. Redaktur pelaksana Bisnis Indonesia Heri Triyanto yang ikut menemui Netanyahu, menyebut bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari kerja jurnalistik. Namun tidak sedikit yang mengecam dan mencurigai para wartawan tersebut tidak memiliki simpati terhadap perjuangan rakyat Palestina.  

Terlepas dari pro-kontra tersebut, penjajahan Israel atas Palestina yang sudah berlangsung puluhan tahun memang memiliki dampak yang sedemikian luas, termasuk juga kepada para jurnalis. Apalagi, dalam konteks konflik ini, jurnalis dan media memiliki peran yang demikian signifikan, terutama dalam membentuk opini di berbagai belahan dunia. Banyak kesulitan yang muncul dalam meliput berita-berita dari dua sisi. Belum lagi ancaman fisik yang kerap membayangi.

Jared Malsin, dalam tulisannya berjudul “How the Israeli-Palestinian conflict affected journalists” menyebut bahwa jurnalis yang meliput konflik tersebut dari dekat akan berjumpa dengan pengalaman yang ekstrim. Menjadi saksi pembunuhan telah menjadi suatu hal yang biasa. Seperti disebut Jared, jurnalis-jurnalis yang meliput serangan Israel di tahun 2014 menjadi saksi begitu banyaknya warga biasa meninggal. Setidaknya di tahun tersebut ada 1.394 penduduk sipil termasuk 222 perempuan dan 418 anak-anak yang meninggal.

Sebuah pengalaman mengerikan dialami oleh Tyler Hicks, jurnalis foto New York Times. Ketika sedang duduk di ruangannya di sebuah hotel di Gaza, ia mendengar ledakan di pantai. Tyler kemudian berlari ke pantai sambil membawa kameranya dan melihat 4 anak muda terkena tembakan dari serangan pasukan Israel. Ia menjadi saksi meninggalnya anak-anak tersebut. Sesuatu yang sangat jarang Tyler lihat, meski ia sudah lama menjadi jurnalis perang. Saat memotret, Tyler tidak sadar bahwa pasukan Israel akan mengeluarkan tembakan lagi.  

Dalam kondisi perang tersebut, kondisi jurnalis yang berada di lapangan memang tidak lepas dari ancaman kehilangan nyawa. Data yang dilansir oleh Committee to Protect Journalist menyebut bahwa sejak tahun 1992 setidaknya 16 jurnalis terbunuh. Sementara di tahun 2014 ada 7 jurnalis dan pekerja media yang terbunuh. Angka statistik yang menunjukkan daerah dalam konflik Israel dan Palestina ini sebagai salah satu tempat paling mematikan bagi jurnalis.

Salah satu jurnalis yang terbunuh adalah Khaled Reyadh Hamad, jurnalis Palestina yang sedang membuat film dokumenter tentang kesulitan yang dialami tim media Palestina ketika bekerja dalam situasi sulit di Gaza. Hamad saat itu sedang ikut ambulans ketika sebuah tembakan dari pasukan Israel mengenainya. Hamad dan salah seorang tim media langsung meninggal.

Data-data tersebut menunjukkan bahwa meliput konflik Israel dan Palestina bukan perkara mudah. Tidak hanya akan menghadapi pengalaman yang traumatik, tetapi juga menghadapi resiko kehilangan nyawa. Sementara kita yang jauh dari daerah tersebut tetap butuh untuk mendapatkan berita-berita dari lapangan tanpa harus kehilangan simpati terhadap perjuangan rakyat Palestina. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)