Ketika media sosial dunia angkat bicara soal kematian tidak adil George Floyd dan #BlackLivesMatter, media sosial Indonesia juga turut serta. Namun perbedaan pengalaman serta konteks turut mengemukakan tagar baru, yaitu #PapuanLivesMatter. Tagar ini ditujukan untuk menyoroti kesamaan (dan juga perbedaan) opresi dan rasisme yang dialami oleh masyarakat Papua dengan masyarakat kulit hitam AS.

Selain tagar #BlackLivesMatter, ada juga tagar #MeToo yang juga digunakan secara global. #MeToo adalah gerakan untuk membuka diskusi dan mengangkat kisah-kisah perjuangan korban pelecehan dan kekerasan seksual. Tagar ini awalnya ditujukan untuk membantu pemulihan korban pelecehan seksual yang kebanyakan perempuan-perempuan berwarna dari latar belakang ekonomi rendah. 

Gaung #MeToo dan #BlackLivesMatter membawa pengaruh besar dan menandai sejarah internet. #MeToo berhasil menurunkan pelaku kekerasan seksual yang menempati posisi berpengaruh dan membuka diskusi tentang ketersambungan kuasa dan kekerasan seksual di segala lini. Pemetaan data percakapan #MeToo yang dilakukan oleh Google menunjukkan bahwa gerakan ini memiliki pengaruh global. Hal serupa juga terjadi dalam gerakan #BlackLivesMatter, yang menciptakan solidaritas global untuk membantu serta melindungi orang-orang kulit hitam dari kekerasan sistematis. 

Kedua gerakan ini berasal dari AS dan berangkat dari kehidupan masyarakat termarjinalkan AS. Tapi kenapa gerakan mereka beresonansi dengan banyak orang dari berbagai daerah dan latar belakang? Ada tiga faktor yang bisa menjelaskan hal ini.

Pertama, pengalaman dan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan sistematis dan struktural yang dibawa kedua gerakan ini adalah universal. Rasisme, diskriminasi terhadap warna kulit (colorism), dan kekerasan seksual dialami oleh banyak orang, terlepas dari umur, etnis, kewarganegaraan, dan jenis kelamin. 

Kedua, besarnya dukungan dari berbagai figur industri media yang menyuarakan gerakan ini. Tagar #MeToo dikenal secara luas setelah aktris Alyssa Milano membuka percakapan ini di Twitter, meski kampanye gerakan ini sudah dimulai satu dekade sebelumnya. Selepas Milano, banyak selebritis yang ikut mencuitkan pengalaman kekerasan seksual yang mereka alami, sehingga memperluas perhatian masyarakat pada #MeToo. Hal serupa juga terjadi di #BlackLivesMatter di mana para selebritis ikut turun ke jalan dan menyebarkannya dalam platform mereka

Aktor, artis, dan selebritis yang ikut mengamplifikasi gerakan ini tidak hanya terbatas di AS saja, tapi juga di negara-negara lain. Pada 2018, aktris Tanushree Dutta melaporkan pelecehan seksual yang dilakukan aktor Nana Patekar. Kasus ini memulai gelombang #MeToo India. 

Gerakan #MeToo juga membuka borok industri hiburan K-Pop, ditandai dengan ditangkapnya Seungri dan Jung Joon-young karena terlibat dalam prostitusi ilegal dan revenge porn. Dukungan artis K-Pop juga meluas ke gerakan #BlackLivesMatter, mendorong para fans internasionalnya untuk ikut menyuarakan dan mengorganisir gerakan ini.

Lebih dari itu, #MeToo ikut berkembang dan menyesuaikan diri dengan konteks tiap negara. Di Korea Selatan, #MeToo melahirkan gerakan Escape the Corset yang melawan standar kecantikan Korea Selatan yang kelewat tinggi. Di Jepang, #MeToo menjadi #WithYou sebagai solidaritas terhadap korban pelecehan seksual di kantor. 

Sedangkan di Thailand, #MeToo menjadi #DontTellMeHowToDress, sebagai respons terhadap pejabat Thailand yang mewanti perempuan untuk tidak menggunakan pakaian seksi agar tidak dilecehkan. Di Indonesia, gerakan ini menjadi #UninstallGrab untuk memprotes pelecehan yang dialami oleh pengguna layanan Grab.

Hal serupa juga terjadi di #BlackLivesMatter yang melahirkan tagar baru, #PapuanLivesMatter, di Indonesia. Sebagaimana #BlackLivesMatter, tagar ini untuk berupaya menaikkan kesadaran perihal ketidakadilan struktural dan rasial yang dialami warga Papua. 

Faktor ketiga yang mendukung popularitas dua gerakan ini adalah internet dan media sosial. Media sosial memungkinkan penggunanya berbagi pengalaman secara real-time. Disandingkan dengan fitur trending di Twitter, percakapan dalam dua tagar ini bisa diketahui secara global dalam waktu yang hampir bersamaan. Pemberitaan media yang masif ikut memperbesar penyebaran informasi soal eksistensi dua gerakan ini. 

Gerakan #MeToo dan #BlackLivesMatter tidak diorganisasi secara terpusat, melainkan pada simpul-simpul aktivis yang terdesentralisasi dan terhubung. Watak pengorganisasian yang terdesentralisasi ini menjadi salah satu faktor meluasnya kampanye secara global. Media sosial memungkinkan berbagai kalangan untuk mengorganisir gerakan dan menyesuaikannya dengan konteks geopolitik daerah mereka. Oleh karena itu, gerakan-gerakan ini cenderung bersifat cair dan tidak memiliki pemimpin yang jelas.

Namun, desentralisasi protes dan penyebaran informasi dalam media sosial ini punya masalahnya tersendiri. Pertama, persebaran gerakan ini seringkali terfokus pada kalangan kelas menengah-atas yang memiliki watak transnasional. Dalam pengalaman global, adopsi gerakan ini kerap kali tidak mengakomodasi kelas bawah. Padahal, rasisme dan kekerasan berbasis gender juga dialami oleh kelas menengah-bawah. 

Kedua, gerakan yang terdesentralisasi juga rawan memiliki pesan-pesan gerakan yang berantakan dan tidak terkoordinasi. Hal ini terjadi, misalnya, dalam tagar turunan #BlackLivesMatter, #BlackOutTuesday. Kampanye #BlackOutTuesday dijalankan dengan mengunggah gambar kotak hitam di Instagram atau Twitter. 

Tagar ini sering dipakai bersama dengan tagar #BlackLivesMatter dan #BLM, sehingga menenggelamkan unggahan permintaan sumber daya atau informasi penting yang dibagi dengan tagar #BLM. Selebritas yang memposting kotak hitam di bawah tagar #BlackLivesMatter dan #BlackOutTuesday banyak dikritik karena dianggap melakukan aktivisme performatif, alih-alih menggunakan platformnya untuk menyebarkan informasi. 

Kritik ini juga memunculkan diskusi tentang slacktivism, serta perlunya aktivisme terhadap kelompok marginal untuk tidak berhenti di media sosial saja.