“Sapa Indonesia Malam” asuhan Aiman Wicaksono Kompas TV menuai kritik publik lantaran memberi panggung pada I Gede Astina alias Jerinx. Dalam program tersebut (6/5), Jerinx menyatakan dugaannya soal konspirasi di balik pandemi COVID-19. Menurutnya, penyebaran virus Corona adalah hasil kongkalikong elite global yang tengah menciptakan teknologi internet 5G guna menyatukan tatanan dunia. Ia menyeret figur-figur sohor mulai dari para taipan minyak trah Rockefeller hingga bos Microsoft, Bill Gates. 

Ia tak sendiri membahas konspirasi. Karena “kemurahan hati” Aiman, Kompas TV turut menghadirkan  Hermawan Saputra, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, sebagai narasumber pembanding. Berbeda dengan Jerinx yang menggebu-gebu menceritakan spekulasi konspirasinya, Hermawan lebih banyak membahas soal jatuh bangunnya tenaga medis di garda depan memerangi COVID-19.

Kompas TV mungkin berpikir mengundang dua narasumber dengan pendapat berseberangan merupakan wujud kepatuhan atas prinsip cover both side yang diwajibkan dalam jurnalisme. Namun, cover both side tak selalu diperlukan. Menurut jurnalis Bill Kovach, cover both side hanyalah metode alih-alih tujuan yang perlu dicapai. Jika media memaksakan diri selalu mengundang dua pihak yang bertentangan terlepas mereka punya kepakaran atau tidak, media tersebut bakal rentan terjebak dalam praktik bothsideism.

Bothsideism alias keseimbangan palsu (false balance) adalah kesalahan media saat berniat menghadirkan dua pandangan berlainan demi memperlihatkan sikapnya yang tak berpihak. Sepintas, jurnalisme yang tak memihak memang patut dipuji. Sayangnya, keseimbangan palsu ini jauh lebih berbahaya karena rawan mengaburkan kebenaran.

 

Kasus-kasus Menghebohkan

Praktik  bothsideism yang menghebohkan dilakukan media-media Inggris pada 1998. Pada 28 Februari 1998, the Lancet, jurnal kedokteran prestisius, menerbitkan artikel kontroversial Andrew Wakefield yang mengklaim adanya hubungan vaksin campak, beguk, dan rubella (MMR) dengan autisme pada anak. Para wartawan kesehatan berdedikasi sebenarnya sudah paham apa yang ditulis Wakefield tak lebih dari omong kosong. Pada 2010, The Lancet sendiri mencabut artikel Wakefield sambil menyertakan permintaan maaf pemimpin redaksi. “Pernyataan dalam paper ini salah,” tulis sang pemred. “Saya merasa dikelabui.” Wakefield dicabut izin praktiknya. Karyanya dianggap sebagai “kebohongan medis paling membahayakan dalam seratus tahun terakhir”.

Sayangnya, di awal kontroversinya media tetap memberikan ruang bagi Wakefield untuk mengklarifikasi kritik terhadapnya. Hal ini mengakibatkan pembaca media menganggap klaimnya tetap memiliki kredibilitas. Orang-orang pun menghindari vaksin MMR yang berujung pada melonjaknya angka penderita penyakit campak dan rubella di Britania Raya. 

Blunder bothsideism yang fatal juga terjadi pada akhir 1980-an hingga 1990-an. Awalnya, The New York Times menerbitkan artikel “Global Warming Has Begun, Expert Tells Senate” pada 24 Juni 1988. Dalam artikel itu, The New York Times menukil keyakinan Dr. James E. Hansen dari Badan Penerbangan dan Antariksa AS yang disampaikan kepada Komite Kongres bahwa tren pemanasan global disebabkan oleh penumpukan karbon dioksida dan gas buatan lainnya di atmosfer. Ketika isu pemanasan global ini mulai marak, para jurnalis yang ingin menghadirkan berita nir-bias mencari pandangan yang bertentangan dengan ilmuwan seperti Hansen. Walhasil, pengingkaran perubahan iklim berkali-kali muncul dalam laporan media. Pemanasan global disebut sebagai siklus alami, bukan ulah manusia apalagi konglomerat minyak.

USA Today, misalnya, yang mengharuskan tajuk rencana mengenai topik “kontroversial” diimbangi dengan tajuk rencana oposisinya, memberi ruang kepada Joseph L. Bast, Kepala Heartland Institute yang didanai perusahaan-perusahaan minyak. USA Today merasa mereka harus mengimbangi tajuk rencananya perihal laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim yang memperingatkan kontribusi emisi gas rumah kaca dalam pemanasan global. Bast, tentu saja, bersikukuh membela para penyantunnya terlepas tulisannya tidak didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang mantap.

Ilustrasi paling anyar bahaya bothsideism tampak dari pemberitaan The New York Times perihal pemakzulan Donald Trump bertajuk “Impeachment Inquiry Is High-Stakes Showdown for Both Sides”. Media ini tampak berhati-hati menulis berita dengan menyelidiki upaya pemakzulan Trump sebatas sebagai dampak pertikaian tingkat tinggi para pejabat AS. Alih-alih menyorot bagaimana Trump “menagih” Presiden Ukraina untuk menyelidiki dugaan korupsi Joe Biden dan bagaimana upaya pemakzulan merupakan reaksi atas pelanggaran konstitusi oleh Presiden AS tersebut, The New York Times menyederhanakannya sebagai luaran dari “konflik kepentingan” antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Berita ini sendiri belakangan dihapus oleh The New York Times. 

 

Bahaya Bothsideism

Dalam menyampaikan informasi penting, media mesti senantiasa mengecek fakta dan mengontrol kualitas pemberitaannya. Namun, memaksakan diri untuk tak berpihak dan seolah-olah seimbang rentan memerangkap media dalam labirin kepalsuan. Geneva Overholser, bekas jurnalis The Washington Post, menulis bahwa para jurnalis berusaha terlalu keras menghindari tanda-tanda bias dalam liputannya. Guna menghindari bias, jurnalis sangat getol melaporkan cerita dari dua sisi, bahkan ketika salah satu narasumber tak memiliki fakta memadai untuk menyokongnya.

“Mengatakan kedua belah pihak sama-sama bertanggung jawab, bersikeras pada kesetaraan sebagai mantra jurnalisme arus utama, bakal membuat pembaca gagal mengidentifikasi masalah sebenarnya. Masyarakat dibiarkan mengambang dengan rasa jijik kepada semua kubu,” ujar Norm Ornstein sebagaimana dikutip Overholser. Kerusakan yang dapat diakibatkan jurnalisme ini cukup gawat. Ia bisa menggerogoti kebenaran dan pengetahuan. 

Hal yang lebih penting dalam jurnalisme adalah setiap wartawan bersikap independen terhadap narasumber. Akurasi setiap data harus terjaga dan verifikasi atas hasil temuan mesti senantiasa dilakukan. “Menjadi netral bukanlah prinsip dasar jurnalisme. Imparsialitas juga bukan yang dimaksud dengan objektivitas,” tulis Andreas Harsono. Permasalahannya, bagaimana mau menegakkan prinsip akurasi itu jika narasumber yang dihadirkan cuma berbekal ilmu utak atik gatuk konspirasi?

Wartawan, karenanya, tak perlu repot memberi panggung buat para juru bicara teori bumi datar, konspirasi COVID-19, atau penyangkal perubahan iklim. Sebaliknya, jurnalis harus fokus menjernihkan sebuah isu tanpa mengaburkan kebenaran atasnya, tanpa terdistraksi perdebatan tak mutu.