Saya tidak tahu dengan Anda, tapi bagi saya masa-masa pandemi dan work from home ini terasa lebih mudah dilewati dengan sesekali menonton film dan sejenak melupakan realitas. Serial tertentu membuat saya menangis tak henti-henti. Di sisi lain, ada film yang bikin saya kepikiran terus-menerus dengannya saking kesalnya.

Mengapa ini terjadi? Beberapa pakar dengan beragam teori dan sudut pandang mencoba menjelaskan relasi tontonan dan emosi. Berikut adalah jabaran singkat penjelasan-penjelasan mereka.

 

Pelepasan emosi

Elly A. Konijn dan Jelte M. ten Holt (2010) merangkum beberapa teori yang mengklarifikasi peran emosi dalam memproses pesan media massa.

Teori-teori awal yang ada berangkat dari ide filsuf Yunani Aristoteles tentang katarsis. Dalam pandangan ini, seseorang perlu melepaskan emosi-emosi yang dipendam. Dari agresi hingga kesedihan mendalam, perasaan-perasaan yang bergolak dalam diri harus dikeluarkan karena jika tidak, mereka akan mengganggu keajekan psikologis insan bersangkutan (Bushman, Baumeister dan Phillips, 2001).

Mengekspresikan perasaan yang dipendam juga dapat dilakukan dengan menonton film. Menurut Seymour Feshbach (dalam Konijn dan ten Holt, 2010), melihat perilaku agresif dari film dapat melepaskan rasa marah dari dalam diri, terlepas kita tahu adegannya tidak nyata. Sama halnya dengan menonton film tear-jerker—rasa sedih kita bisa raib seiring film bersangkutan menitikkan air mata kita. Walau begitu, penelitian berbasis eksperimen yang disinggung Konijn dan ten Holt (2010) menunjukkan hasil sebaliknya. Tontonan bermuatan agresif justru berpotensi memupuk perilaku agresif seseorang alih-alih melepaskannya.

 

Identifikasi dengan tokoh film

Emosi yang mencuat ketika tergiring alur narasi tontonan juga bisa dijelaskan lewat konsep identifikasi Sigmund Freud. Menurut Jonathan Cohen (2001), konsep ini dapat menjelaskan bagaimana penonton menempatkan diri ke dalam pikiran dan perasaan tokoh film yang ditonton.

Selama film berlangsung, penonton secara sementara (tapi sering) meninggalkan perannya sebagai penonton dan “menjadi” si tokoh. Melalui satu perspektif yang sama dengan si tokoh, kita tidak sekadar menjadi pengamat. Lewat proses identifikasi, kita merasakan emosi tokoh dalam film sebagai emosi yang nyata. Empati yang berlebih ke tokoh ini membuat kita merasa senang ketika ia menang atau sedih ketika sahabatnya terbunuh.

 

Alur cerita dan tokoh sebagai alasan

Ada pula teori-teori lain yang tidak berpijak dari konsep klasik. Salah satunya, teori manajemen mood yang dikemukakan oleh Dolf Zillmann (dalam Konijn dan ten Holt, 2010). Menurut teori ini, seseorang menyeleksi media-media yang ingin dilihatnya karena ingin mengatur mood-nya, entah meningkatkan perasaan positif atau menghindari dampak negatif terhadap perasaan. Orang yang sedih, contohnya, akan memilih film bergenre komedi.

Namun, memang, teori tersebut sulit menjelaskan alasan seseorang menonton film sedih, horor, atau suspense yang condong menyulut emosi-emosi negatif. Zillmann (2010) menjawab hal ini lewat teorinya yang lain yaitu teori penyaluran kegirangan. Dalam pandangan ini, setelah melewati alur cerita yang menegangkan, penonton mendapatkan rasa puas dan senang dengan akhir cerita (yang bahagia, tentunya).

Zillmann (2010) juga menjelaskan dengan teori disposisi bahwa rasa puas dan senang karena tontonan muncul karena tokoh tertentu mencapai tujuannya. Menurut teori ini, jika kita suka pada satu tokoh, kita akan lebih berempati padanya. Perjuangan dan kesedihannya dengan begitu akan turut kita rasakan. Semakin suka, semakin kuat empati kita terhadapnya dan semakin kita berharap ia menang di akhir cerita. Sebaliknya juga begitu. Kalau kita sudah tidak suka dengan satu tokoh, kita mati-matian menginginkannya jatuh, tertimpa tangga dan, kalau bisa, terlindas gajah pula.

 

Respons biologis

Hubungan tontonan dan emosi juga bisa dilihat dari kacamata neuropsikologis.

Jeffrey Zacks (2015) berpandangan bahwa sebagian besar otak manusia tidak bisa membedakan apakah yang dipersepsikannya nyata atau tidak. Ini yang terjadi ketika kita menonton film horor, misalkan. Pada detik-detik kemunculan hantu, banyak yang kontan akan terkejut atau berteriak. Emosi penonton terpantik karena stimulasi audiovisual yang disodorkan tontonan tak diproses secara berbeda dari stimulasi di kehidupan nyata.

Zacks pun menjelaskan, ketika kita melihat ekspresi, gesture, atau tindakan orang lain, ada kemungkinan kita akan menghasilkan respons serupa. Ketika bayi melihat orang lain tersenyum, ia akan ikut tersenyum. Ketika kita mendapati orang lain menguap, kita akan turut menguap. Lalu, bila teori ini diaplikasikan ke hubungan antara tontonan dan emosi? Kita akan terdorong untuk menangis ketika tokoh dalam film menangis.

Tentu, masih banyak yang perlu dikaji dari hubungan antara emosi dan tontonan. Setidaknya, teori-teori di atas sudah berusaha menawarkan penjelasan yang masuk akal. Maka, kalau Anda menangis saat menonton drama Korea, bisa jadi memang ada perasaan yang harus dikeluarkan atau itu memang respons biologis semata.

 

Bushman, B. J., Baumeister, R. F., & Phillips, C. M. (2001). Do people aggress to improve their mood? Catharsis beliefs, affect regulation opportunity, and aggressive responding. Journal of personality and social psychology, 81(1), 17. https://doi.org/10.1037/0022-3514.81.1.17

Cohen, J. (2001). Defining identification: A theoretical look at the identification of audiences with media characters. Mass communication & society, 4(3), 245-264. https://doi.org/10.1207/S15327825MCS0403_01

Konijn, E. A., & ten Holt, J. M. (2010). From noise to nucleus: Emotion as key construct in processing media messages dalam The Routledge Handbook of Emotions and Mass Media (hal 37-60). Routledge.

Zacks, J. M. (2015). Flicker: Your brain on movies. Oxford University Press, USA.

Zillmann, D. (2010). Mechanisms of emotional reactivity to media entertainments dalam The Routledge handbook of emotions and mass media (hal 115-129). Routledge.