Di media sosial, hal-hal remeh bisa jadi bahan perdebatan panjang. Buktinya beberapa waktu lalu, Twitter diramaikan oleh pro-kontra perihal istri yang memasak untuk suami. Pemantiknya sepele. Seorang pengguna Twitter menyindir utas tersebut, mengatakan perempuan seharusnya tak usah berbuat sebaik ini kepada laki-laki. Cuitan tersebut dengan cepat meluber ke ejekan dan tuduhan bahwa feminis dan SJW adalah “pembenci laki-laki yang ingin menghancurkan tatanan keluarga”. 

Puncak dari sentimen buruk terhadap feminisme ditandai dengan kehadiran akun Twitter @txtdarifeminis. Dengan pengikut 30 ribu orang, akun anonim yang mengunggah tangkapan layar teks yang diklaim unggahan para feminis ini memupuk opini dan sentimen negatif orang-orang terhadap feminisme. Padahal kalau kita lihat, konten tangkapan layar tersebut merepresentasikan logika yang menyeleweng dari feminisme.

Sayangnya, akun @txtdarifeminis hanyalah bagian kecil dari  kultur internet yang merayakan pemahaman yang salah soal feminisme dan ideologi progresif lainnya. Ada ekosistem yang mendukung akun-akun seperti @txtdarifeminis untuk tumbuh subur yaitu kultur anti-political correctness. 
 

4chan: Kait Anonimitas dan Kebencian Daring 

Anti-political correctness awalnya berkembang di forum anonim bernama 4chan. Dulunya forum ini hanya berfokus pada kultur pop Jepang. Namun seiring waktu, forum anonim ini merambah ke hacktivism dan berperan besar dalam Occupy Wall Street. Dua sub-forum yang dianggap bertanggung jawab dalam proses ini adalah /b/ dan /pol/. 

Di masa popularitas Occupy Wall Street, 4chan mendapatkan publisitas masif oleh media. Namun elu-elu positif media dan aktivis berubah menjadi rasa syok ketika mereka menemukan bahwa isi sub-forum /b/ dan /pol/ bernada misoginis dan rasis, dan para anggotanya membanggakan diri mereka sebagai politically incorrect. 

Anti-political correctness yang ditampilkan oleh 4chan termanifestasi dalam ujaran kebencian. Vice menunjukkan 1 dari 15 komentar yang muncul mengandung cercaan terhadap kaum minoritas. Ujaran kebencian ini juga berkembang menjadi teror terhadap komunitas-komunitas perempuan dan feminis, LGBT+, dan orang-orang kulit berwarna

Teror ini berbentuk trolling dan raids, yaitu serangan DDoS untuk mengganggu komunitas dan pembuat konten. Doxing alias penyebaran informasi pribadi juga sering dilakukan. Teror tidak hanya berhenti di dunia maya: di tahun 2019 setidaknya ada tiga kasus pembunuhan massal yang memiliki koneksi dengan 4chan dan situs turunannya, 8chan: kasus penembakan massal di El Paso, Amerika Serikat yang membunuh dua puluh orang, kasus penembakan di sinagog Poway, California yang membunuh satu orang, dan kasus penembakan massal di dua masjid Selandia Baru yang membunuh 51 orang.

Secara ideologis, 4chan menjadi sarang pertumbuhan paham alt-right dan neo-nazi. Sebagai kelompok ideologi, mereka menentang feminisme dan kebudayaan Marxisme (yang juga meliputi political correctness dan multikulturalisme), menuduh kedua aspek ini sebagai penghancur peradaban kulit putih Barat. 

Merebaknya ideologi penuh kebencian ini dimungkinkan oleh fitur anonimitas forum ini. Berbeda dengan forum dan platform media sosial lainnya yang sudah melewati masa anonim, 4chan masih setia dengan sistem ini. Identitas, di mata 4chan, adalah dosa besar. Semua pengunjung memiliki identitas kolektif yaitu anon, sedangkan mereka yang memaksa punya identitas sendiri disebut attention whore atau namefag

Ketiadaan identitas konkret membuat akuntabilitas sulit diwujudkan. Bersembunyi di balik anonimitas dan layar, orang-orang bisa melakukan hal-hal buruk dengan sangat mudah. Hal ini juga diperparah dengan suburnya konten-konten amoral dan eratnya ikatan komunitas yang diberikan oleh 4chan. Orang-orang semakin terdorong untuk ikut dalam kampanye kebencian karena terus-menerus diekspos ke konten-konten serupa. Inilah mengapa banyak anak muda yang datang ke 4chan untuk meme-memenya, lalu keluar sebagai pendukung alt-right dan nazi. 

Penyebaran kebencian 4chan dimulai dari kiriman tautan-tautan konten yang menurut mereka pantas diserang. Tautan-tautan ini mayoritas berupa video-video YouTube yang membahas feminisme dan keadilan sosial (Stringhini, et.al 2017). Apa yang biasanya menyertai tautan tersebut adalah seruan “you know what to do”, sebuah kode untuk menyampahi konten tersebut. 

Para korban serangan 4chan tidak tinggal diam dan membalas komentar-komentar kebencian tersebut. Alih-alih merasa terserang, 4chan justru mendokumentasikan kemarahan para korban, menertawakannya, dan mengubahnya menjadi karikatur bernama social justice warrior atau SJW. Di tangan 4chan, SJW yang awalnya label netral untuk orang-orang yang peduli dengan isu sosial berubah menjadi label orang-orang irasional beragenda progresif yang suka bertengkar lewat teks panjang.

Karikatur tidak adil ini kemudian menyebar ke platform lain. Sebagaimana wajarnya tradisi internet, karikatur ini terus berevolusi dengan penggambarannya semakin konyol dan jauh dari kata manusiawi. Mereka yang dilabeli SJW—biasanya perempuan—dianggap sebagai femoid (female android, mengisyaratkan bahwa perempuan bukan manusia), feminazi, perempuan jelek yang akan mati sendiri, dan masih banyak lagi. 

Kemunculan akun @txtdarifeminis dan akun-akun serupa hanyalah simtom dari perkembangan kultur kebencian di internet. Bagaimana tidak, awalnya kultur anti-political correctness terbatas di forum-forum anonim seperti 4chan dan 8chan. Tapi toh akhirnya menyebar juga karena aksi raids dan membludaknya konten-konten yang mendukung kebencian. Salah satu contohnya adalah animasi Ahmed dan Salim yang membuat rasisme, Islamofobia, dan misogini terlihat seperti lelucon yang patut ditertawakan. 

Orang-orang bisa berdalih meme, animasi, dan teks yang mereka posting, tertawakan, dan sebarkan hanyalah lelucon yang tidak perlu dianggap serius. Tapi kita juga harus menerima bahwa hal-hal itu merefleksikan kejinya sikap dan pandangan kita terhadap perempuan dan minoritas. 

Kekejian ini semakin teramplifikasi di internet. Seiring dengan berkembangnya kebencian di internet, kebencian ini ikut dipraktikkan di dunia nyata, memunculkan lingkaran setan yang sulit untuk diputuskan.