Tahun 2020 nampaknya jadi tahun yang berat untuk para penyintas kekerasan seksual. Rentetan kasus pelecehan dan pemerkosaan bermunculan, tapi dari itu semua, ada dua kasus yang menonjol: Reynhard Sinaga dan Gilang “Bungkus”. Terbilang menonjol karena korban kedua pelaku tersebut adalah laki-laki. 

Pemerkosaan laki-laki sangat jarang terdengar, tapi ia nyata. Penyintas laki-laki memang tidak sebanyak penyintas perempuan, tapi hal ini tetaplah memprihatinkan. National Sexual Violence Resource Amerika Serikat menyatakan setidaknya 1 dari 71 laki-laki Amerika Serikat pernah diperkosa. RAINN.org menunjukkan statistik yang lebih tinggi dengan 1 dari 10 penyintas pemerkosaan Amerika Serikat adalah laki-laki. Angka sebenarnya bisa jadi lebih tinggi karena banyak yang enggan melaporkan.

Ketidaksadaran kita terhadap pemerkosaan laki-laki sebagian diakibatkan oleh media yang jarang memberitakannya. Kalaupun ada, pemberitaan terfokus ke pemerkosaan yang terjadi selama perang (Féron, 2017) atau dalam penjara. Liputan-liputan ini menceritakan kesulitan yang dialami oleh para penyintas pemerkosaan perang, seperti kesulitan dan ketakutan mereka mengungkapkan pengalaman traumatis mereka, keengganan melapor ke polisi, dan pengalaman diejek serta dikucilkan masyarakat. Di tataran yang lebih besar, stereotip dan mitos soal pemerkosaan dan maskulinitas juga menghalangi mereka dari melapor (Lawrence, 2017).

 

Andil Media Melanggengkan Mitos Pemerkosaan

Selain jarang memberitakan pemerkosaan laki-laki, media juga berandil besar dalam melanggengkan persepsi negatif di atas. Baik lewat pemberitaan atau hiburan, media selalu menempatkan perempuan sebagai korban dan laki-laki sebagai pelaku. Laki-laki juga digambarkan selalu siap dan selalu menerima rayuan seksual, secara implisit menyatakan laki-laki tidak mungkin diperkosa.  

Bukan berarti media tidak pernah menggambarkan kasus kekerasan seksual terhadap laki-laki. Media menayangkannya, tapi dengan cara yang tidak tepat. Film dan acara TV yang menggambarkan pemerkosaan laki-laki menampilkan hal tersebut sebagai punchline humor. Penyintasnya dibuat bisa move on dengan cepat, seolah apa yang mereka alami bukan kejadian traumatis

Mitosnya tak berhenti di situ. Media memelihara stigma, mitos, dan homofobia lewat penggambaran laki-laki gay dan biseksual yang tidak adil. Mereka digambarkan sebagai predator feminim yang mencari laki-laki heteroseksual untuk “diterkam”. Hal ini mengabaikan dua hal. Pertama, pemerkosaan laki-laki dilakukan untuk menegaskan kuasa serta merampas rasa maskulinitas korban, hampir tidak ada hubungannya dengan orientasi seksual. Kedua, mayoritas pelaku dan korban pemerkosaan laki-laki bukanlah laki-laki gay atau biseksual, tapi justru laki-laki heteroseksual (Sivakumaran, 2005).

Berita pemerkosaan sehari-hari yang tak terjadi dalam konteks perang jarang sekali ditampilkan. Kalaupun ada, laporannya menggambarkan pemerkosaan sebagai sesuatu yang “baru”, “unik” dan “anekdotal”. Media mempertanyakan kenapa laki-laki bisa memperkosa laki-laki lain. Penggambaran media terlalu terfokus ke pelaku dengan mengulik informasi yang tidak ada hubungan langsung dengan kasusnya. Hal-hal seperti informasi pribadi pelaku, latar belakangnya, motivasi, hingga orientasi seksualnya dikulik dan diumbar ke publik. Pemberitaan seperti ini justru mendistraksi pembaca dari inti masalah: dominasi kuasa dan penghancuran identitas maskulin korban. 

 

Berkaca pada Kasus Reynhard dan Gilang

Praktik media yang berfokus pada aspek yang tidak penting terlihat dalam pemberitaan kasus Reynhard. Baik media dalam maupun luar negeri memberitakan latar belakang keluarga dan riwayat pendidikannya, teks-teks yang dikirimkan Reynhard ke teman-temannya, hingga fetis Reynhard dan penampakan rumah keluarganya. Kulikan ini dibuat untuk mencari tahu motivasi Reynhard melakukan kejahatan tersebut. Ini ditunjukkan oleh liputan Kompas “Tampan, Pintar, dan Kaya: Mengapa Reynhard Sinaga Melakukan Pemerkosaan?”, seolah mengimplikasikan tiga aspek itu seharusnya tidak membuatnya menjadi pemerkosa. 

Hal yang sama juga terjadi di kasus Gilang meskipun dengan skala lebih kecil, kemungkinan karena latar belakang Gilang tidak sensasional seperti Reynhard. Dalam kasus Gilang, media lebih fokus pada modus operandi Gilang serta penjelasan psikolog soal itu. Salah satu kulikan media yang menarik perhatian perihal Gilang memperlihatkannya sebagai penjahat kambuhan yang pernah diarak warga. Ini berkebalikan dengan pernyataan fakultas yang mengaku tidak pernah mendapat laporan soal Gilang, mengindikasikan kelalaian kampus menghukum pelaku sedini mungkin. 

Dalam kasus Reynhard, suara penyintas jarang terdengar, berbeda dengan penyintas Gilang yang beberapa kali diliput media. Hal ini mungkin karena sidang Reynhard dibuat tertutup untuk melindungi penyintas dan menjaga keadilan persidangan. Penjagaan identitas juga dilakukan terhadap penyintas kasus Gilang lewat penyebutan mereka dengan inisial tanpa penanda umur. Ini sangat berbeda dengan perlakuan penyintas perempuan yang identitas dan kehidupannya dipertontonkan ke publik layaknya sirkus. 

Berkaca dari kasus-kasus di atas, media memiliki banyak PR dalam melaporkan dan membingkai kasus kekerasan seksual. Efek penggambaran kasus kekerasan seksual khususnya perlu dipertimbangkan bagi penyintas dan publik. Media perlu mengangkat kasus-kasus kekerasan seksual laki-laki untuk mematahkan stigma dan pandangan keliru tentang kekerasan seksual. 

Tak hanya itu, media juga perlu menggencarkan kampanye hak dan perlindungan penyintas yang mencakup semua gender. Ini perlu dilakukan agar penyintas laki-laki bisa mendapatkan keadilan sepantasnya. Lihat saja kasus Gilang, para penyintasnya harus puas dengan jerat UU ITE dan pasal 335 KUHP atas perbuatan tidak menyenangkan alih-alih pasal pencabulan 286-289 KUHP semata karena KUHP tidak mengakui korban laki-laki.

(RALAT: Berdasarkan pemberitaan CNN Indonesia pada 15 September 2020, Gilang "Bungkus" dijerat Pasal 45 ayat 4 jo Pasal 45 b Undang-undang RI Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), tentang perbuatan tidak menyenangkan. Lalu ada Pasal 335 ayat 1 KUHP tentang ancaman terhadap korban serta Pasal 82 ayat 1 juncto Pasal 76 huruf E UU No 19 tahun 2016 dan Pasal 289 KUHP tentang perbuatan cabul.)
 

Féron,Élise. “Wartime Sexual Violence Against Men”. European Review of International Studies Vol. 4, No. 1 (2017), pp. 60-74

Lawrence, Meg. 2018. “Men cannot be raped: the systematic silencing of male victims of sexual violence in conflict”. Global Campus Europe (EMA) theses 2016/2017.

Sivakumaran, Sandesh. (2005). “Male/Male Rape and the "Taint" of Homosexuality”, Human Rights Quarterly, Vol. 27, No. 4 (Nov., 2005), pp. 1274-1306.