Saya tidak tahu jengkelnya mengetahui foto memalukan masa kecil saya berkeliaran bebas di dunia maya. Pasalnya, saat orang tua membesarkan saya, internet belum semasif dan secanggih sekarang. Kini, hadirnya media sosial memungkinkan jejak digital seseorang ada sejak hari-hari pertamanya di dunia—atau bahkan sebelum itu, saat ia masih ada di kandungan. 

Orang-orang yang foto masa kecilnya dibagikan orang tua merupakan bagian dari fenomena sharenting. Pertama kali muncul dalam artikel Wall Street Journal tahun 2012, istilah ini menggabungkan kata sharing dan parenting. Sebutan tersebut pada dasarnya mendeskripsikan perilaku orang tua membagikan informasi tentang anaknya secara daring.

Saya yakin Anda pernah menjumpai (atau mungkin menyebarkan) konten-konten tersebut di media sosial. Tren ini sudah sering dilakukan, bahkan dianggap biasa. Namun, isu sharenting penuh dengan perdebatan, mulai dari dampak sampai dengan pertimbangan etisnya.
 

Antara Hak Orang Tua dan Anak    

Sharents kemungkinan besar tidak memiliki intensi buruk saat mengunggah foto anaknya. Penggunaan media sosial itu sendiri bertujuan membagikan informasi tentang kehidupan kita kepada sesama teman. Lalu, ketika punya anak, membagikan aktivitas mereka pun jadi tak terhindarkan bagi beberapa orang tua.

Menurut penelitian Duggan dkk. (2015), orang tua, khususnya ibu, yang aktif bermedia sosial cenderung mendapatkan dukungan dalam hal parenting dari lingkaran pertemanan daringnya. Sebaliknya, mereka juga aktif mendukung teman-temannya. Hal ini membuat sharents merasa tidak sendirian dalam menjalani pengalaman parenting karena selain dukungan sosial, para orang tua juga mendapatkan afirmasi, saran, serta umpan balik tentang cara mengasuh anak.

Dukungan ini akan amat terasa bagi orang tua yang anaknya memiliki kebutuhan khusus, seperti kondisi medis, kesehatan mental, atau disabilitas (Steinberg, 2016). Sebagai contoh, sharenting anak yang down syndrome bisa menghubungkan sesama orang tua yang memiliki pengalaman serupa, mengurangi stereotip dan prasangka terhadap down syndrome, hingga mendapatkan dukungan positif lewat komunitas yang ada.

Selain memudahkan pengalaman parenting, menurut Verswijvel dkk. (2019), sharenting juga dapat memenuhi kebutuhan internal orang tua, salah satunya presentasi diri. Penelitian yang berfokus pada motherhood (Kumar & Schoenebeck, 2015) menunjukkan bahwa para ibu menggunakan praktik sharenting sebagai validasi bahwa mereka adalah “ibu yang baik,” perasaan yang memang dibutuhkan dalam parenting.

Namun, setiap like, share, dan komentar positif konten sang buah hati tersebut ada risikonya. Bukan tidak mungkin konsekuensinya terjadi bertahun-tahun kemudian. Contoh yang paling ekstrem adalah anak menjadi sasaran penculikan dan pedofil daring (Steinberg, 2016). Hal ini mungkin terjadi karena tidak ada yang bisa mencegah penggunaan data yang tersebar daring untuk apa pun. Hal yang sama mengkhawatirkannya adalah isu broker data (pihak yang mengumpulkan informasi digital untuk kemudian dijual), pengawasan digital, peretasan, pencurian identitas, dan perundungan daring (Steinberg, 2016).

Dilema etis yang paling sering diperdebatkan terkait sharenting adalah hak anak atas privasi. Pasalnya, sejak awal, bukan anak yang memilih untuk membuat rekam jejak digital. Sementara itu, privasi digital sudah ditetapkan oleh United Nations Convention on the Rights of the Child sebagai hak tetap. Merujuk pada Westin (dalam Joinson & Paine, 2007), privasi merupakan “hak seseorang untuk menentukan sendiri kapan, bagaimana, dan seberapa jauh informasi tentang dirinya bisa diakses oleh orang lain.” 

Permasalahan privasi semakin kompleks dan rumit ketika melibatkan anak. Mereka yang masih dalam proses tumbuh kembang membutuhkan privasi untuk mengeksplorasi diri, belajar dari kesalahan, dan berimajinasi untuk pembentukan identitas yang sehat (Plunkett, 2019). Keadaan di mana anak selalu mungkin untuk direkam dan berada di ruang gerak terbatas bisa menjadikannya selalu siaga, cemas, dan terkekang.
 

Adakah Jalan Tengah?

Kita bisa sama-sama setuju, sharenting adalah tren yang masih sangat baru dan terlalu ambigu untuk diberikan garis pembatas tegas. Tapi, ada tujuh langkah konkret yang bisa dilakukan orang tua untuk memastikan keamanan digital anak sebelum melakukan sharenting (Keith & Steinberg, 2017):

Pertama, pelajari kebijakan privasi dari situs yang hendak digunakan untuk sharenting. Kedua, peroleh notifikasi bila nama anak muncul di suatu situs lewat program seperti Google Alerts. Ketiga, bagi orang tua yang ingin membagikan permasalahan anak, pertimbangkan untuk melakukannya secara anonim.

Keempat, hindari menyebarkan informasi personal dan lokasi anak. Kelima, pertimbangkan memberikan “hak veto” kepada anak jika mereka sudah cukup mengerti tentang sharenting. Keenam, selalu bagikan foto anak dalam keadaan berpakaian. Terakhir, selalu pertimbangkan dampak dari konten yang hendak dibagikan terhadap kondisi anak kini dan di masa depan.

Untuk memoderasi ekses negatif praktik sharenting, ungkapan “think before you click” terasa sangat relevan untuk para orang tua.

Duggan, M., Lenhart, A., Lampe, C., & Ellison, N. B. (2015). Parents and social media. Pew Research Center, 16.

Joinson, A. N., & Paine, C. B. (2007). Self-disclosure, privacy and the Internet. Dalam The Oxford handbook of Internet psychology (pp. 235-250).

Keith, B. E., & Steinberg, S. (2017). Parental sharing on the internet: Child privacy in the age of social media and the pediatrician’s role. Jama Pediatrics, 171(5), 413-414.

Kumar, P., & Schoenebeck, S. (2015, February). The modern day baby book: Enacting good mothering and stewarding privacy on Facebook. Dalam Proceedings of the 18th ACM Conference on Computer Supported Cooperative Work & Social Computing (pp. 1302-1312).

Plunkett, L. (2019). To Stop Sharenting & Other Children’s Privacy Harms, Start Playing: A Blueprint for a New Protecting the Private Lives of Adolescents and Youth (PPLAY) Act. Seton Hall Legislative Journal, 44(3), 2.

Steinberg, S. B. (2016). Sharenting: Children's privacy in the age of social media. Emory LJ, 66, 839.

Verswijvel, K., Walrave, M., Hardies, K., & Heirman, W. (2019). Sharenting, is it a good or a bad thing? Understanding how adolescents think and feel about sharenting on social network sites. Children and Youth Services Review, 104, 104401.