Kata pahlawan tak cuma identik dengan pejuang kemerdekaan atau Avengers. Ia juga merupakan topik yang dirayakan di media massa dan media sosial. Kejadian beberapa pekan lalu tentang seorang anak yang tewas saat membela ibunya dari percobaan pemerkosaan merupakan contohnya. Rangga, nama sang anak, menjadi perbincangan terhangat Twitter. Meme-meme yang marak beredar menunjukkan orang-orang tergugah dengan tindakan Rangga.

Contoh lain adalah tagar #FaithInHumanityRestored. Tagar yang biasa menyertai meme berkonten pengorbanan-pengorbanan manusia demi kebaikan yang lain konstan bersirkulasi di internet. Hal-hal ini menunjukkan pembahasan dan narasi kepahlawanan tidak akan pernah surut. Ia akan selalu menjadi obsesi kita bersama dan konten tentangnya bakal selalu dihadirkan media.

 

Kepahlawanan di Media

Pahlawan tentu punya makna berbeda-beda bagi setiap orang. Namun, Allison dan Goethals (dalam Gadsden, 2020) menemukan beberapa ciri yang dimiliki seorang pahlawan. Seorang pahlawan antara lain memiliki keberanian moral, kompetensi di area spesifik, melakukan hal yang benar di waktu yang tepat, dapat melewati tantangan, mengorbankan diri untuk seseorang atau sesuatu. Sosok pahlawan juga harus melakukan tindakan yang melebihi kewajibannya (Cox, 2020). 

Pada dasarnya, kita butuh sosok pahlawan karena kita perlu mengidentifikasi diri dan berkoneksi dengan mereka yang perbuatannya menginspirasi (Allison & Goethals dalam Gadsden, 2020). Sosok pahlawan menghadirkan pada diri kita pertanyaan-pertanyaan penting tentang tujuan dan kontribusi kehidupan kita untuk sesama (Früchtl dalam Kinsella, Ritchie & Igou, 2017).

Tingginya perhatian terhadap pahlawan di media massa dan media sosial memperlihatkan kecenderungan ini. Cerita-cerita kepahlawanan yang beredar di media utamanya memiliki dua tema: everyday heroes dan victim-heroes. Everyday heroes merujuk pada sosok-sosok yang sangat akrab dengan kita. Mereka tak berasal dari golongan masyarakat yang berbeda atau dibentuk agen media besar (Gadsden, 2020). Mereka tak berbeda dari kita baik dari segi ketenaran maupun realitas kehidupan. Dan tentu saja, seperti yang terjelaskan dari namanya, mereka seakan mudah dijumpai dalam keseharian.

Contohnya adalah tenaga kesehatan yang berjuang di tengah pandemi Covid-19. Walaupun pada situasi normal mereka bisa dikategorikan pahlawan, dalam situasi pandemi mereka berhadapan dengan risiko bekerja yang jauh lebih tinggi (Cox, 2020). Mereka kontan menjelma menjadi sosok yang cerita pengorbanannya beredar setiap saat di internet. Meme yang menggambarkan para pahlawan DC dan Marvel menghormati mereka merupakan salah satu meme yang paling populer terkait mereka.

Sementara itu, pada cerita dengan tema victim heroes sosok pahlawan adalah mereka yang menjadi korban dalam sebuah keadaan tidak menguntungkan. Ia digambarkan sebagai sosok yang menderita tapi dalam kenestapaannya, ia telah menyelamatkan orang terdekatnya atau mungkin dirinya sendiri (Wright, 2016).

Banyak pemberitaan kriminalitas menggunakan pendekatan victim-heroes. Pemberitaan semacam secara gamblang menarasikan siapa penjahatnya, siapa korbannya, siapa pahlawannya. Tema inilah yang terlihat dalam pemberitaan kasus tewasnya Rangga di mana ia digambarkan sebagai korban sekaligus pahlawan. Tema yang sama juga menjadi bingkai satu cerita yang mencuat di tengah serangan bom teror Surabaya 2018 silam. Seorang pria bernama Bayu meninggal lantaran menghadang motor pelaku pengeboman.

 

Patokan Moral

Menurut Cromer (dalam Wright, 2016), pemberitaan tentang pahlawan bisa menjalankan fungsinya sebagai patokan moral masyarakat. Peran ini terlihat jelas sebenarnya pada cerita-cerita yang sempat diangkat. Garis batas antara yang benar dan yang salah sangat gamblang—tidak ada lagi area abu-abu yang dipertanyakan. Oleh cerita-cerita itu, kita sudah diarahkan dengan jelas harus melakukan apa atau mendukung siapa.

Dalam cerita Rangga, kita diajak untuk bersimpati ke sang anak dan menghujat pelakunya. Ketika lantas sang pelaku meninggal dalam tahanan, reaksi sebagian warganet adalah mensyukurinya. Gesture publik yang terekspresi di internet memperlihatkan tidak ada yang patut dibela dari sang pelaku, dan perbuatannya sudah terlalu jauh melanggar pakem-pakem moral. 

Sementara itu, lewat cerita-cerita viral tentang pengorbanan tenaga kesehatan di tengah pandemi, orang-orang dituntut untuk mementingkan imbauan kesehatan di atas kepentingan sendiri. Tagar #IndonesiaTerserah yang viral pada bulan Mei lalu, misal, mempermalukan mereka yang tetap berkerumun seakan tidak memedulikan nasib tenaga kesehatan.  

 

Mengaburkan Isu Penting?

Sayangnya, daya pikat tema kepahlawanan juga memiliki risikonya. Ketika media mengangkat berita tertentu dengan tema ini, publik dapat kehilangan fokusnya terhadap isu yang lebih memprihatinkan. 

Terkait tema heroisme tenaga kesehatan saja, ada tiga permasalahan serius yang bisa didiskusikan (Cox, 2020). Pertama, ia berpotensi mengaburkan bahwa kewajiban tenaga kesehatan untuk merawat adalah tugas yang terbatas, bukan absolut. Para dokter atau suster yang lebih rentan terkena Covid-19 berhak tidak mengurus pasien secara langsung agar mereka tidak mempertaruhkan keselamatannya lebih jauh.

Kedua, narasi yang menekankan kepahlawanan tenaga kesehatan menjauhkan kita dari persepsi bahwa respons terhadap pandemi seharusnya bersifat sistematis. Tenaga kesehatan tidak seharusnya menjadi korban bila ada sistem penanganan pandemi yang lebih memadai. Ketiga, ia membebani para tenaga kesehatan untuk menjadi sosok yang sempurna. Mereka seakan harus mengesampingkan perasaan takut dan cemas dalam pekerjaannya serta siap mengorbankan diri.

Menjadikan sosok tertentu pahlawan memang baik dan dibutuhkan. Tapi, bukan berarti sosok-sosok seperti tenaga kesehatan bertanggung jawab memikul beban sendiri dan menjadi martir. Mereka boleh jadi pahlawan, tapi mereka manusia terlebih dahulu.


Cox, C. L. (2020). ‘Healthcare Heroes’: problems with media focus on heroism from healthcare workers during the COVID-19 pandemic. Journal of medical ethics, 46(8), 510-513.

Gadsden, C. (2020). Shaping Lives–the Everyday Hero as Transformative Agent: An Approach to Pedagogical Inclusiveness (Doctoral dissertation, California Institute of Integral Studies).

Kinsella, E. L., Ritchie, T. D., & Igou, E. R. (2017). On the bravery and courage of heroes: considering gender. Heroism Science, 2(1), 4.

Wright, S. (2016). “Ah… the power of mothers”: Bereaved mothers as victim-heroes in media enacted crusades for justice. Crime, media, culture, 12(3), 327-343.