Habib Rizieq pulang ke Tanah Air pada 10 November 2020, berbarengan dengan perayaan Hari Pahlawan. Ini adalah manuver simbolis paling greget dari pentolan ormas Front Pembela Islam (FPI) tersebut. Menghabiskan tiga tahun di Arab Saudi usai tersandung kasus chat pornografi dengan Firza Husein, kepulangan Rizieq disambut para pengikut dengan gegap gempita. Namun, bukan hanya simpatisan FPI yang ramai-ramai menyambutnya. Media juga.

Di hari itu, menurut catatan big data Binokular, total berita soal Habib Rizieq di media daring mencapai 4.358 buah. Di media cetak, tokoh sayap kanan yang ikut menjungkalkan Ahok di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta itu diberitakan sebanyak 51 kali. Sementara di media televisi, ia diberitakan sejumlah seratus kali di berbagai saluran. Berita soal Habib Rizieq di media massa ini kemudian diamplifikasi di media sosial Twitter dengan total cuitan sebesar 4.485.

Riuhnya diskursus Habib Rizieq sebenarnya bukan fenomena dadakan. Lantaran dirindukan, baik secara tulus maupun oleh orang-orang yang ingin mencaci, dalam tiga tahun terakhir ia menjadi topik hoaks yang tak habis-habis diangkat media dan media sosial. Hoaks tentangnya pun beragam, dari yang paling umum soal tudingan penangkalan Rizieq oleh pemerintah Indonesia hingga isu-isu yang bikin tertawa terpingkal-pingkal. 

Misalnya, ada berita Rizieq dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad ke-38, ia pulang ke Indonesia pada 2017 dengan pesawat khusus bertulisan FPI, pemerintah Saudi tangkal kepulangannya atas permintaan pemerintah Indonesia. Ada pula hoaks yang berisi gambar Rizieq menggunakan sorban berlogo palu-arit PKI, pontang-panting jadi buruh cuci piring selama tiga tahun di Saudi, mati tertabrak unta, hingga yang teranyar, mempopulerkan salib saat kepulangannya kemarin.

 

Dua Penjelasan

Pertanyaannya, mengapa hoaks semacam ini menjamur di tengah simpang-siurnya informasi soal Rizieq? Setidaknya ada dua penjelasan penting di baliknya. Pertama, ada tren bahwa hoaks beredar mengiringi sosok demagog populis dan memantapkan reputasi mereka. Hal ini sudah jadi fenomena yang jamak dan tak hanya di Indonesia saja. 

Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 yang diikuti “suhu” demagog kanan, Donald Trump, juga diwarnai beraneka hoaks. Salah satunya adalah hoaks soal dukungan Paus Fransiscus, orang nomor satu di kalangan umat Katolik dunia. Pada Juli 2016, situs web WTOE 5 News melaporkan Paus mendukung Trump sebagai calon presiden. Faktanya, dukungan itu tak benar-benar ada, bahkan tak satu pun media lain memberitakan isu yang demikian seksi itu. Usut punya usut, WTOE 5 News adalah salah satu dari banyak situs berita palsu yang menyamar sebagai media lokal. Kebanyakan artikel di laman wtoe5news.com sendiri berisi satir atau fantasi murni. Mirip seperti hoaks serupa soal dukungan Paus terhadap Senator Demokrat Bernie Sanders.

Banjir hoaks juga mengiringi pencalonan demagog Rodrigo Duterte di Pilpres Filipina pada 2016. Tak hanya Paus Fransiscus yang memberikan dukungan seraya menyebutnya sebagai “pilihan Tuhan”, tokoh kaliber dunia Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel, Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley, hingga artis-artis termasuk Angelina Jolie, Dwayne Johnson, dan Arnold Schwarzenegger konon dengan senang hati mendukung sang demagog. Bahkan, sempat beredar kabar bahwa NASA menamai Duterte sebagai “presiden terbaik di tata surya”.

Hoaks memang lebih mudah tumbuh subur di sekeliling para demagog dan pengikutnya. Pasalnya, kelompok ini lebih senang memanfaatkan segala hal yang merangsang emosi, termasuk emosi kebencian demi memengaruhi publik dan mencapai tujuannya. Buat mereka, fakta yang terverifikasi, rasionalitas, maupun ilmu pengetahuan tak lagi jadi soal utama. Sebab, mengutip Lynch (2017) di era pascakebenaran, daya tarik emosi dan keyakinan pribadilah yang lebih menjual.

Lantas, penjelasan kedua ialah di era pascakebenaran, informasi bisa diproduksi secara bebas, bahkan tanpa melalui institusi atau meja redaksi. Kriteria pemberitaan jadi hanya didasarkan pada kesemarakan reaksi publik maupun hal-hal lain yang menyedot perhatian massa, termasuk sentimen ras, agama, dan politik. Kabar hoaks Habib Rizieq biasanya laris di media sosial lebih dulu lantas digoreng media arus utama tanpa diverifikasi ulang. Sebagaimana dicatat Binokular, hoaks Habib Rizieq mati ditabrak unta saja diberitakan media daring hingga 31 kali sejak pertama isu itu beredar di Facebook berupa gambar tangkapan layar artikel The New York Times 20 September 2020. 

Pikiran Rakyat, misalnya, memberitakannya dengan judul “Heboh Kabar Habib Rizieq Meninggal Dunia Ditabrak Unta Arab, Benarkah?” pada 23 September 2020. Kendati di tubuh beritanya dijelaskan bahwa isu itu tak lebih dari hoaks, pemilihan judul yang sensasional tetap berpotensi mengecoh pembaca, apalagi mereka yang  sekadar membaca judulnya. Sebelas-dua belas, Tribun News juga mengangkat artikel bertajuk “Mencuat Kabar Habib Rizieq Shihab Meninggal Dunia Ditabrak Unta di Arab, PA 212: Alhamdulillah” pada 24 September 2020. Yang lebih parah, media daring lain tetap memberitakan kabar ini sebagaimana adanya tapi dengan mengutip ancaman para fans die hard Habib Rizieq di FPI. Ini rentan memompa populisme Islam serta menimbulkan polarisasi antara kelompok Muslim dan pihak-pihak yang dituduh oleh FPI sebagai musuh ulama, musuh Islam.

Maraknya media yang turut terseret meramaikan hoaks Habib Rizieq sendiri sebenarnya kontraproduktif dengan semangat media. Media mestinya bisa meliterasi publik dengan informasi yang lebih akurat. Sayang sekali, media kita memilih larut dalam ingar-bingar yang dirayakan para pembenci Rizieq di media sosial. Di sisi lain, media kita yang lain memilih memberitakan Rizieq secara faktual tapi membubuhkannya dengan sudut pandang yang membakar kemarahan publik. 

Keduanya sama-sama tak diperlukan. Sama tak perlunya dengan memberi pengecualian pada hajatan mantu akbar anak Rizieq di tengah pandemi.

 

Oliver, M. (2020). Infrastructure and the Post-Truth Era: is Trump Twitter’s Fault?. Postdigital Science and Education, 2(1), 17-38.