Pernah googling soal gejala penyakitmu terus bukannya melegakan malah bikin paranoid? Selamat datang di era self-diagnose atau mendiagnosis diri sendiri secara daring.

Seperti dijelaskan oleh meme di bawah, internet memberikan segudang informasi kesehatan. Di sisi lain, ia juga bisa menimbulkan cyberchondria. Istilah ini tak datang dari dunia medis melainkan gabungan dari kata “cyber” dan “hypochondria” (gangguan mental di mana seseorang memiliki kecemasan dan obsesi berlebihan terhadap kesehatannya). Singkatnya, cyberchondria adalah kecemasan terkait kesehatan yang berhubungan dengan atau diakibatkan penggunaan internet.
A picture containing newspaper, text, person, bottleDescription automatically generated

Tentu, tidak semua orang yang melakukan pencarian kecil-kecilan tentang penyakitnya secara daring langsung dikategorikan cyberchondriac. Cyberchondria sendiri belum memiliki parameter medis yang disepakati. Satu yang jelas, fenomena diagnosis diri dan cyberchondria ini menunjukkan peran teknologi dalam pelayanan kesehatan akan selalu berkembang (Allen, 2017).

 

Dampak

Kita bisa sama-sama setuju, googling sederet gejala penyakit jauh lebih mudah daripada harus berangkat ke dokter dan tunggu giliran masuk. Bisa pula, ia membantu kita terhindar dari rasa tidak nyaman saat tubuh harus diperiksa oleh orang lain. Ia juga dapat memberdayakan seseorang dengan memberi kontrol atas pilihan kesehatannya dan membuka akses informasi bagi kelompok masyarakat yang sulit menjangkau pelayanan kesehatan tatap muka (Vismara dkk., 2020).

Sayangnya, tak sedikit juga dampak lain dari fenomena ini (Allen, 2017). Pertama, memburuknya kecemasan lantaran informasi kesehatan abal-abal. Membanjirnya informasi kesehatan di internet tak diikuti dengan kepastian kredibilitasnya. Hal ini dapat mengganggu ketenangan jiwa mereka yang melakukan diagnosis diri, lebih-lebih mereka yang sejak awal sudah mengidap hypochondria.

Kedua, kemandirian yang terlalu ekstrem dalam menjaga kesehatan diri. Googling informasi kesehatan, memang, punya sisi baik yakni masyarakat jadi lebih partisipatif dan proaktif dalam urusan kesehatannya. Di sisi lain, bisa jadi seseorang beralih mengandalkan internet saja sebagai sumber informasi utama dan tidak merasa perlu ke dokter untuk peninjauan lebih lanjut.

Ketiga, terganggunya komunikasi antara tenaga kesehatan profesional dengan pasien. Dalam kasus terburuk, seseorang bisa saja datang ke dokter sekadar untuk membenarkan diagnosis dirinya atau mendapatkan obat tertentu, mempertanyakan keahlian dokter hanya karena berbeda dengan diagnosisnya, hingga secara tidak sengaja mengarahkan dokter ke kondisi hasil diagnosisnya.

Menurut penelitian Aulia dkk. (2020) terhadap 162 mahasiswa dari universitas di Yogyakarta, gender pun berpengaruh terhadap perilaku cyberchondria. Dari hasil riset tersebut, perempuan lebih getol mencari gejala-gejala penyakit di internet, lantas langsung mengunjungi tenaga profesional jika hasilnya mengkhawatirkan. Sedangkan di kelompok laki-laki, mereka sulit merasa tenang jika hasil pencarian daringnya mengganggu pikiran.

Fenomena cyberchondria menunjukkan apa jadinya ketika ketersediaan dan akses internet meningkat sementara pelayanan kesehatan diprivatisasi serta sulit dan mahal diakses. Seperti sebuah kutipan dalam artikel tentang cyberchondria, “kita sakit dan kekurangan uang setiap saat, jadi kita butuh diagnosis yang cepat dan mudah dimengerti dalam bentuk Wikipedia.”

 

Platform Kesehatan Daring

Beberapa platform berusaha memanfaatkan tren diagnosis diri ini. Contoh platform-platform tersebut antara lain Alodokter, Halodoc, Klikdokter. Mereka membubuhkan “dokter” untuk nama platformnya bukan tanpa alasan. Informasi yang mereka sediakan biasanya diperiksa oleh tenaga kesehatan profesional terlebih dulu, dan hal ini tak dilakukan bahkan oleh artikel-artikel rubrik kesehatan berita daring. Platform-platform ini biasanya juga sangat responsif dengan pencarian-pencarian isu kesehatan di Google. Pencarian “gejala penyakit jantung,” “gejala penyakit maag,” “gejala stroke” akan menghadirkan situs-situs mereka di hasil penelusuran teratas.  

Satu yang perlu diingat, platform kesehatan semacam ini rata-rata bersifat for-profit atau bertujuan bisnis. Ambil contoh saja situs kesehatan pertama dunia maya yang muncul pada 1998, WebMD. Sampai saat ini, WebMD masih harus berurusan dengan isu konflik kepentingan informasi-informasi yang disediakannya. Beberapa di antaranya mereka dianggap mengiklankan obat-obatan tertentu, memajang artikel bersponsor, hingga menggunakan sumber yang kredibilitasnya dipertanyakan demi iklan.

Sementara itu, platform-platform yang tersedia di Indonesia mengarahkan kita untuk mengunduh aplikasinya, membuat janji atau chat dengan dokter, serta beli obat via kanal mereka. Pelayanan kesehatan dengan model e-commerce seperti ini memudahkan pasien untuk mendapatkan obat. Permasalahannya, setiap kali melakukan preskripsi obat, dokter seharusnya mempertimbangkan seluruh karakteristik pasien, mulai dari sisi emosionalnya, risiko dan keuntungannya, serta pengobatan lanjutan. Bagi beberapa pakar (George & Duquenoy, 2008), tidak ada yang dapat menggantikan diagnosis tatap muka yang bisa memberikan umpan balik menyeluruh tentang kondisi pasien.

Anda sakit kepala usai membaca masalah-masalah cyberchondria ini? Ada dokter Google yang siap sedia 24/7 berkonsultasi dengan Anda. Namun, siap-siap saja dibombardir dengan kecemasan berlebih atau artikel bersponsor.

 

Allen, M. (Ed.). (2017). The SAGE encyclopedia of communication research methods. Sage Publications.

Aulia, A., Marchira, C. R., Supriyanto, I., & Pratiti, B. (2020). Cyberchondria in first year medical students of Yogyakarta. Journal of Consumer Health on the Internet, 24(1), 1-9.

George, C., & Duquenoy, P. (2008). Online Medical Consultations: Legal, Ethical, and Social Perspectives. In Ethical, Legal and Social Issues in Medical Informatics (pp. 1-28). IGI Global.

Vismara, M., Caricasole, V., Starcevic, V., Cinosi, E., Dell'Osso, B., Martinotti, G., & Fineberg, N. A. (2020). Is cyberchondria a new transdiagnostic digital compulsive syndrome? A systematic review of the evidence. Comprehensive Psychiatry, 152167.