Waktu Trans TV menggeber tayangan pernikahan Raffi Ahmad-Nagita Slavina selama empat belas jam, saya berdoa agar ditidurkan bertahun-tahun seperti tujuh pria di dongeng Ashabul Kahfi. Angan-angan ini tampaknya lebih masuk akal ketimbang harus menonton renik pernikahan mereka yang sudah disiarkan sejak seminggu sebelumnya di TV Chairul Tanjung tersebut. Sayangnya, saya tetap terbangun keesokan harinya dan harus pasrah menonton acara itu. 

Tahun-tahun berikutnya, meski tayangan pernikahan selebriti disemprit KPI melulu, ia tetap disiarkan oleh televisi kita: pernikahan Vicky Prasetyo-Angel Lelga (2018), Baim Wong-Paula Verhoeven (2018), Irish Bella-Ammar Zoni (2019) hingga yang terbaru, Sule-Natalia Holscher (2020). Acara pernikahan seleb terus menjadi magnet bagi penonton di Tanah Air. Tayangan pernikahan Sule-Natalia yang diputar di YouTube @RansEntertainment, misalnya, ditonton oleh 6,3 juta orang. 

Enam tahun silam, siaran pernikahan Raffi Ahmad-Nagita yang bertajuk “Janji Suci Raffi-Nagita” bahkan melejitkan posisi rating Trans TV dalam semalam dari nomor tujuh ke posisi jawara (Anastacia, 2015). Jika dirata-rata setiap sesi iklan ada lima produk dan harga per iklan durasi 30 detik Rp50 juta, maka pendapatan untuk setiap sesi iklan program “Janji Suci Raffi-Nagita” mencapai Rp300 juta. Totalnya, tinggal kalikan saja dengan durasi tayang acara tersebut.

 

Pamor Konsisten Infotainment

Tingginya antusiasme audiens atas tayangan pernikahan selebriti dapat ditebak. Kehidupan pribadi figur publik ialah konten yang selalu mengundang perhatian. Sejak dimulai oleh Kabar-kabari di RCTI pada 1996, satu per satu tayangan infotainment bermunculan bak cendawan di musim hujan. Selain kisah pernikahan seleb sendiri ada kisah perselingkuhan, hobi, kehidupan anak, liburan, perceraian mereka dan sebagainya.

Namun, jauh sebelum Kabar-kabari disiarkan di RCTI, kehidupan selebriti sudah diberitakan sejak 1929 lewat Doenia Film, majalah yang terbit di Jakarta. Majalah ini pula yang memelopori lahirnya media-media serupa seperti Star News di Solo, Indian Film di Surabaya, lalu disusul Aneka, Purnama, Kentjana, Chitra Film, dan Film Indonesia. Di era 1960-an hingga 1970-an, ada media sohor Aktuil yang punya kantor cabang dari London hingga New York, dan Monitor asuhan Arswendo Atmowiloto. 

Di era infotainment, kemunculan Kabar-kabari diikuti dengan Cek&Ricek, Buletin Sinetron, Hot Shot, Bibir Plus, Ngobras, Halo Selebriti, dan KISS. Acara-acara infotainment berdiri, tumbang, dan terus berlipat ganda dengan nama baru tapi kemasan itu-itu saja. Tak tanggung-tanggung, selama kurun 2002-2005, ada 209 judul acara infotainment yang tayang di sepuluh TV swasta kita. Jam tayang acara selebriti ini bahkan mencapai 56 persen dari total tayangan di TV dalam sehari (Ahmadi, 2008).

Selain mendapat jatah tayang yang relatif tinggi, benang merah lain berbagai program infotainment tersebut adalah gayanya yang sensasional. Semua disajikan dengan telanjang dan cenderung mengabaikan kaidah-kaidah jurnalistik termasuk soal pengambilan gambar, etiket wawancara, hingga pemilihan narasumber yang kredibel.

Internet lantas segera menjadi media baru yang efektif untuk ulasan kehidupan pribadi selebriti. Di Amerika, TMZ, pusat gosip yang diyakini paling cepat memberitakan kabar selebriti terbaru, lahir pada 2005. Reporter BuzzFeed Anne Helen Peterson menulis, TMZ adalah campuran unik dan kontroversial dari skandal dan jurnalisme investigasi. Saking sohornya TMZ di kemudian hari, tak heran jika menurut perusahaan analitik data Quantcast media ini mampu menjangkau sekitar 3,2 juta orang setiap bulan.

Di internet, ada berbagai alternatif dan medium saluran gosip yang bisa dinikmati secara bebas di luar TMZ. Ada perezhilton.com, ada pula YouTuber yang rutin mengunggah kabar selebriti dengan gaya yang menggelitik, termasuk Keemstar dengan program #DramaAlert. Saluran yang lebih banyak mengunggah video seputar kontroversi atau pertikaian selebriti ini memiliki lebih dari 1,8 juta pelanggan.

Berita selebriti Indonesia juga mudah ditemui di hampir seluruh media daring. Bahkan, ada media yang cuma memberitakan soal kehidupan pribadi selebriti seperti Kapanlagi.com, Cumicumi.com, tabloidbintang.com, atau Insertlive.com. Ruang untuk menggunjingkan kehidupan selebriti juga disediakan akun-akun gosip Instagram. Selain @Lambe_Turah yang menyedot 8,9 juta pengikut, ada pula @lambenyinyirr (57 ribu pengikut), Lamis Corner (726 ribu pengikut), @Tante_rempong_offficial (1 juta pengikut), dan @Lambe_Corner (54 ribu pengikut). Layaknya Keemstar yang terkenal di AS, kelebihan akun-akun ini adalah kelihaiannya meracik gosip menggunakan diksi tajam, memancing spekulasi, dan provokatif. Tak heran jika engagement khalayaknya relatif tinggi.

 

Obsesi Seleb

Pertanyaannya, apa yang membuat audiens tetap menikmati program infotainment dari era baheula hingga kini? Ada beberapa sebab yang melatarbelakanginya. Menurut antropolog Jamie Tehrani, salah satu alasan kesengsem dengan kehidupan selebriti adalah karena otak kita menganggap mereka sebagai pemimpin atau inovator kreatif yang sudah sepatutnya dihormati. Selanjutnya, audiens bakal membentuk ikatan dalam pikiran dengan figur publik favorit. Ujungnya, mereka akan mendapatkan emosi positif ketika mulai memikirkan selebriti bersangkutan.

Namun, penjelasan yang lebih peka dengan perkembangan sejarah disajikan oleh Richard deCordova (1990). Kemunculan sinema di awal abad ke-20 mencuatkan juga sosok-sosok yang citra visualnya melekat kuat di publik dan mendorong publik untuk tahu lebih jauh kehidupan mereka di luar film. Walhasil, kemunculan pemberitaan selebriti selalu membuntuti kehadiran media hiburan baru. Terbukti, dengan semakin banyaknya kanal informasi di era internet, semakin beragam pula selebriti yang kehidupan pribadinya jadi konsumsi publik.

Kini, banyak selebriti yang diburu kehidupan pribadinya tanpa perlu membintangi film apa pun terlebih dulu. Ada keluarga Kardhasian yang reputasi globalnya bermula dari tersebarnya rekaman seks Kim. Pun, ada juga sosok-sosok yang naik daun berkat meme viral seperti Vicky Prasetyo atau Ade Londok. Kehidupan pribadi mereka terbukti sama atau bahkan lebih laris dikonsumsi ketimbang sederet selebriti pendahulunya.

Alasan lain kenapa berita selebriti menjadi magnet adalah audiens ogah tersisih dari percakapan di komunitasnya. Karena itulah mereka tak ragu larut dalam “keramaian” berita selebriti, termasuk acara pernikahan idola yang sebenarnya tak berpengaruh besar dalam hidupnya. 

Studi terhadap perbincangan menyehari tentang selebriti di Swedia memperlihatkan kehidupan pribadi para selebriti rutin dijadikan contoh baik maupun buruk serta topik untuk menghangatkan kebersamaan (Johansson, 2015). Seperti yang dikatakan Graeme Turner (2013), gosip selebriti merupakan wadah “memperdebatkan, mengevaluasi, memodifikasi dan berbagi” norma sosial serta menghubungkan orang-orang.

 

Ahmadi, Dadi. 2008. Quo Vadis Infotainment? Jurnal Komunikasi Mediator, 9.

DeCordova, Richard. 2001. Picture Personalities: The Emergence of the Star System in America. Illinois: University of Illinois Press.

Henga, Anastacia. 2015. Komodifikasi Pernikahan “Menuju Janji Suci Trans TV (Pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina). Semarang: Jurnal Komunikasi UNDIP 2015.

Johansson, Sofia. 2015. Celebrity Culture and Audiences: A Swedish Case Study. Celebrity Studies, 6(1), 54-68.

Moscow, Vincent. 2009. The Political Economy of Communication. Second Edition. London: Sage Publication.

Turner, Graeme. 2013. Understanding Celebrity. London: Sage.