Saya yakin bukan hanya saya yang merasa orang Indonesia sulit membedakan antara ranah privat dan publik ketika membahas agama. Google pun membuktikan kekhawatiran saya. Coba saja ketik nama idola atau artis favorit kalian. Salah satu pilihan teratas yang ditawari fitur autocomplete Google adalah “[nama artis] agama”.

Fenomena ini merupakan contoh nyata bahwa perilaku mengonsumsi media kita sudah dibubuhi dengan sentimen keagamaan. Mau itu tokoh dalam negeri, internasional, artis atau politisi, identitas agama mereka jadi topik panas, lebih-lebih ketika menyangkut perpindahan agama.

Mengetahui identitas agama seorang tokoh publik mungkin memuaskan rasa ingin tahu bagi khalayak tertentu. Pertanyaan lebih mendasarnya, mengapa dari awal mereka merasa perlu tahu detail ini?

Jawabannya bisa didapat dari konsep identifikasi. Menurut Cohen (2001), konsep ini bisa menjelaskan keterikatan penonton dengan karakter dalam dan melalui media, salah satunya selebriti. Identifikasi kesamaan dengan idola membuat para penggemar merasa dekat dengan sosok tersebut (Marshall, 2016), walaupun antara penggemar dan idola ada jurang perbedaan luar biasa, sebut saja, kelas sosial, ekonomi, dan pengaruh.

Sementara itu, pijakan identitas sosial yang paling berpengaruh antara lain adalah negara, agama, politik (Tajfel & Turner dalam Abrams, 2001). Di Indonesia, cukup terang bahwa agama merupakan sumber identitas penting, khususnya sejak era reformasi ini. Identitas agama saja bisa memengaruhi persoalan politik hingga yudisial (Setiawan, De Jong, Scheepers, & Sterkens, 2020), apalagi persoalan keseharian kita.

Walhasil, kebanggaan adanya selebriti yang beragama sama bukan fenomena dalam negeri saja. Topik seperti “10 Artis Muslim yang Perlu Kamu Ketahui” atau semacamnya acap dijadikan konten video YouTube hingga artikel stasiun televisi Amerika Serikat. Fanatisme semacam ini tercermin lewat salah satu komentar warganet di video Youtube tersebut: “P R O U D !”

 

Simbiosis Mutualisme

Bukan hal yang mengejutkan media menanggapi fenomena ini dengan pendekatan bisnis. Menurut Gregory (2008), media menggaungkan informasi yang diinginkan target pembacanya dan, ya, topik agama selebriti tak akan pernah basi.

Contoh paling gamblang adalah pemberitaan tentang pindah agama artis. Menurut riset kecil-kecilan Remotivi dan Tirto.id, media daring sering kali memberitakan topik ini dengan sikap bias ke agama tertentu. Trafik akan semakin tinggi jika tokoh publiknya kontroversial, seperti pada 2018 silam ketika beredar isu Ahok akan mualaf untuk pernikahan keduanya. Media daring selalu menyempatkan waktu memproduksi berita-berita seperti ini. Padahal, Komisi Penyiaran Indonesia sudah mengatur agar media tidak melakukan pemberitaan perpindahan agama dengan basis menghormati setiap agama dan individu di Indonesia. Tak luput dari perhatian publik adalah artis internasional. Artikel tentang Mike Tyson dan Zayn Malik, misalnya, berfokus pada ranah privat sang idola ketimbang profesi dan pencapaian mereka. 

Tapi jangan salah, media bukan satu-satunya pihak yang diuntungkan dari obsesi masyarakat pada identitas religius selebriti. Para tokoh publik ini juga diuntungkan dengan perhatian publik yang lebih ketika identitas agama menjadi aspek yang menonjol di mata publik (Gregory, 2008). Tren ini paling terlihat dari melesatnya pamor para selebriti setelah melakukan hijrah dan persona mereka ditampilkan lebih islami. 

Contohnya adalah karier artis Laudya Cynthia Bella yang seusai berhijrah sempat memiliki acara televisinya sendiri di Trans TV pada 2015-2017. Acaranya adalah program jalan-jalan yang sebenarnya wajar ditemukan di stasiun televisi. Namun, yang dicuatkan dalam tayangan tersebut tak lain dari identitas agama sang selebriti. Mengutip keterangan acara tersebut: “Diary Laudya Cynthia Bella membahas serba-serbi refleksi perbedaan kultur dari sebuah Negara atau tempat yang dilihat dari sudut pandang wanita muslim yang mencari makna keagungan ciptaan Tuhan.” Masih banyak lagi artis-artis yang kisah hijrahnya melejitkan popularitasnya, sebut saja Teuku Wisnu, Dewi Sandra, dan Peggy Melati Sukma.

Ilustrasi yang juga fenomenal adalah generasi awal selebriti dengan identitas keislaman yang menonjol. Pemenang X Factor Indonesia musim pertama, Fatin Shidqia, sangat sohor setelah menjuarai ajang tersebut. Namun, terlihat bahwa salah satu sisi dirinya yang paling direspons publik adalah keislamannya. Ia diposisikan sebagai perempuan Muslim yang bisa tetap aktif di dunia hiburan tanpa harus menanggalkan ekspresi agamanya. Buku dan filmnya menjadikan hal ini bahan jualan utama. Saking melekatnya Fatin Shidqia dengan identitas agama, berita palsu tentang dirinya melepas hijabnya pun menjadi topik berita (ia sampai harus mengklarifikasi bahwa isu itu memang palsu). 

Dengan obsesi khalayak mendapatkan selebriti yang seagama dan ketangkasan industri media menanggapinya, akankah agama kelak jadi urusan privat di Indonesia? Kita tunggu saja berita pindah agama berikutnya.

 

Abrams, D. (2001). Psychology of Social Identity. Dalam Smelser, N. J. & Baltes, P. B. (Eds.). International Encyclopedia of Social and Behavioral Sciences. Elsevier Science and Technology, Netherlands, pp. 14306-14309.

Cohen, J. (2001). Defining identification: A theoretical look at the identification of audiences with media characters. Mass communication & society, 4(3), 245-264. https://doi.org/10.1207/S15327825MCS0403_01

Gregory, K. (2008). Celebrities: who they are, how they gain popularity, and why society is so fascinated with them and their court cases. Honors Thesis. Communication, Media and Theatre Arts. Eastern Michigan University.

Marshall, P. D. (2016). Celebrity identification. Dalam Marshall, P. D., & Redmond, S. (Eds.). A companion to celebrity. Hoboken, NJ: Wiley Blackwell. Pp. 457-461.

Setiawan, T., De Jong, E. B., Scheepers, P. L., & Sterkens, C. J. (2020). The relation between religiosity dimensions and support for interreligious conflict in Indonesia. Archive for the Psychology of Religion, 42(2), 244-261.