Ada yang tega mempermainkan rasa takut dan penasaranmu, tapi bukan hantu. Tebakanmu benar jika menjawab: judul-judul clickbait berita vaksin ciptaan media daring. Pada awal Januari sewaktu program vaksinasi dimulai, vaksin diberitakan dengan judul-judul sensasional dan menggugah rasa. Ada yang bertajuk “Nambah Lagi, 29 Warga Meninggal Usai Disuntik Vaksin Corona,” “Warning Efek Samping Vaksin Corona dari Norwegia,” hingga “Sehari Setelah Disuntik Vaksin Covid-19, Seorang Dokter Ditemukan Tewas.”

Judul-judul di atas memang didasarkan fakta. Tapi, jika penyajian faktanya sepotong-sepotong (terlebih dalam judul), media sudah menanggalkan tanggung jawab untuk menyampaikan informasi secara bertanggung jawab dan menyeluruh. Media daring, bahkan yang sudah tenar sekalipun seperti Kompas, tak ketinggalan mengambil untung dari perasaan pembacanya dengan judul clickbait.

Misinfodemics atau “pandemi digital” bukan barang baru. Dua istilah ini merujuk pada fenomena bahwa wabah penyakit kerap diikuti juga dengan mewabahnya informasi palsu, bahkan teori-teori konspirasi. Fenomena pandemi digital ini terjadi sepanjang tahun 2020. Berita-berita clickbait vaksin jurnalisme digital berpotensi memperkeruh situasi ini pada 2021 dan menjangkiti orang-orang dengan vaccine hesitancy.



Vaccine Hesitancy

Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan Indonesia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) Agustus 2020, sekitar 27,6% responden masih skeptis terhadap vaksin Covid-19. Alasannya beragam, dari aspek kepercayaan, ketakutan terhadap efek samping, hingga ketidakyakinan akan efektivitas vaksin.

Melihat angka ini, seharusnya disadari bahwa vaksin merupakan isu yang rentan. Namun, sejak awal program vaksinasi mulai digelar di negara-negara lain, berita dengan judul sensasional bermunculan. Pada bulan Desember 2020, publik dihebohkan dengan berita “4 Relawan Vaksin COVID-19 Pfizer Alami Wajah Mencong karena Bell's Palsy.” Media-media global maupun nasional beramai-ramai memberitakannya dengan judul yang mengaitkan kelumpuhan wajah tersebut dengan vaksin. Kenyataannya, empat penerima vaksin tersebut merupakan bagian dari populasi penerima vaksin sebanyak 22.000 orang dan persentase penderita Bell’s Palsy tersebut sama dengan pada masyarakat luas.

Berita tentang vaksin juga ramai dibahas setelah Presiden Joko Widodo menerima suntikan pertamanya. Beberapa media daring memanfaatkan kesempatan ini untuk menayangkan berita dengan judul clickbait seperti “Enam Jam Setelah Disuntikan Vaksin, Ariel NOAH Mulai Rasakan Efek Samping”. Pada kesempatan ini, media juga memberikan panggung kepada Ribka Tjiptaning, anggota DPR yang menolak divaksin. Permasalahannya, judul-judul berita terkait Ribka Tjiptaning memberikan kesempatan kepadanya untuk mengirimkan pesan berbahaya terkait vaksin.

Media sangat mempengaruhi sikap masyarakat terhadap vaksin. Selagi media dapat mendidik, ia juga dapat menguatkan skeptisme tak berdasar masyarakat terhadapnya (Tran, dkk., 2018). Di Italia pada 2010-2015, misalkan, sekelompok peneliti memperlihatkan adanya hubungan antara penurunan angka partisipasi vaksinasi yang signifikan dan peningkatan pencarian kata kunci “vaksin autisme” di internet, yang kemungkinan mengantarkan mereka ke berita sengketa hukum terkait vaksin (Aquino dkk., 2017). 

Pada tahun 1998, Andrew Wakefield dkk. menerbitkan paper yang menyatakan vaksin MMR (measles‐mumps‐rubella) berhubungan dengan autisme. Media-media meliput siaran pers Wakefield dan memberitakannya dengan judul seperti “Vaksin anak terkait dengan autisme” atau “MMR/autisme: sudahkah kita mempelajari bahayanya?” Penelitian Wakefield belakangan bukan cuma terbukti bermasalah dan dicabut oleh jurnal yang menerbitkannya. Wakefield juga menerima bantuan finansial dari pengacara yang berusaha memejahijaukan produsen vaksin. 

Angka partisipasi vaksinasi MMR di Inggris anjlok setelah pemberitaan paper Wakefield tersebut. Di beberapa tempat, angka partisipasi ini menurun sampai dengan di bawah 70 persen (sebelumnya rata-rata di atas 90 persen). Dan pada 2008, angka kasus campak menjadi 1.370 di Inggris dan Wales setelah pada tahun 1998 hanya ada 56 kasus di kedua daerah  ini.



Pemberitaan yang layak

“Vaksin tidaklah sempurna,” ujar artikel opini The New York Times. Artikel tersebut menjelaskan bahwa sudah seharusnya kita siap dengan efek vaksinasi mengingat tidak ada vaksin yang efektif 100 persen. Tapi seburuk apa pun efek sampingnya, tegas artikel tersebut, data menunjukkan mendapatkan vaksinasi tetap jauh lebih baik ketimbang terkena Covid-19.

Bagi media dan jurnalisme, memberitakan vaksinasi merupakan tanggung jawab tersendiri karena hal ini menyangkut kepentingan publik. Berikut adalah lima tips pemberitaan vaksin yang disarankan pakar dan jurnalis untuk membantu pembaca menghadapi badai misinformasi digital.

Pertama, jurnalis sebaiknya memahami jenis informasi yang dihasilkan dari setiap tahapan uji klinis. Begitu pula dengan alur publikasi uji klinis tersebut, seperti mewaspadai jika bentuknya berupa siaran pers ketimbang jurnal akademis.

Kedua, terangkan kepada pembaca bahwa bisa ada efek samping dari vaksin Covid-19. Tujuannya, mempersiapkan masyarakat jika terjadi gejala-gejala umum seperti pusing, nyeri otot, atau kecapekan—bukan menakuti-nakuti dan malah menghindarkan publik dari vaksinasi. Ketiga, agar publik lebih memahami keamanan vaksin, pemberitaan juga bisa menjelaskan sampel kelompok yang disertakan dalam uji coba.

Keempat, media perlu membantu publik memahami batasan-batasan vaksin, khususnya terkait konsep-konsep medis atau akademis yang sering digunakan dalam penelitian. Terakhir, membangun jaringan orang-orang yang bisa mengecek pemberitaan jurnalis terkait informasi medis dan akademis, sehingga informasinya tepat dan bukan sekadar interpretasi satu pihak saja. 



Aquino, F., Donzelli, G., De Franco, E., Privitera, G., Lopalco, P. L., & Carducci, A. (2017). The web and public confidence in MMR vaccination in Italy. Vaccine, 35(35), 4494-4498.

Tran, B. X., Boggiano, V. L., Nguyen, L. H., Latkin, C. A., Nguyen, H. L. T., Tran, T. T. & Ho, R. C. (2018). Media representation of vaccine side effects and its impact on utilization of vaccination services in Vietnam. Patient preference and adherence, 12, 1717.