Media seringkali jadi tempat yang memprihatinkan bagi perempuan. Lihat saja betapa seringnya Remotivi mengkritik berbagai konten media yang menampilkan perempuan secara problematik. Mulai dari sinetron, talk show, film, serial animasi, berita, siaran olahraga, sampai komen netizen, tak pernah habis bahan untuk analisis kritis yang semuanya menekankan temuan yang sama: ada problem mendasar dalam representasi perempuan di media.

Harus diakui, lembaga penyiaran juga “berbenah diri,” misalnya dengan memberikan kesempatan pada perempuan untuk “lebih banyak bersuara.” Ada juga upaya untuk membuat sinetron dengan branding sebagai “kisah drama problematika rumah tangga dari sudut pandang seorang wanita.” 

Masalahnya, perbaikan dengan menambah kuantitas yang menayangkan suara atau sudut pandang perempuan tak diimbangi dengan perbaikan kualitas. Berbagai konten media belum bisa lepas dari bias gender dan berbagai stereotip yang seksis dalam merepresentasikan perempuan. 

Seksisme dan bias gender dalam penggambaran perempuan di media hanyalah puncak dari gunung es persoalan ketimpangan kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam industri media. Untuk mencapai representasi yang utuh, perempuan tidak cukup hanya ditampilkan dalam tayangan, tetapi harus terlibat dalam produksi pesan dan punya suara dalam pengambilan keputusan.

 

Representasi dan Masalah Identitas Perempuan

Apa itu representasi media? Kenapa ini jadi masalah bagi perempuan? Konsep representasi diformulasikan oleh Stuart Hall (1997) untuk menunjukkan bagaimana manusia memaknai dunia lewat simbol-simbol dalam komunikasi sehari-hari. Misalnya, berbagai simbol visual digunakan dalam proses komunikasi untuk menyampaikan makna sebuah pesan.

Melalui representasi, media punya andil dalam memproduksi makna mengenai identitas gender (Gill, 2007). Misalnya, dalam sebuah tayangan, peran perempuan secara berulang ditampilkan sebagai sosok istri yang “durhaka” jika tidak melayani suaminya. Penggambaran ini menampilkan sebuah pesan untuk membentuk persepsi penonton terhadap identitas “ideal” perempuan dan bagaimana ia harusnya bersikap.

Ada dua permasalahan dalam representasi gender di media, khususnya menyangkut perempuan. Pertama, secara kuantitas, representasi perempuan dalam media secara keseluruhan masih minim. Menurut riset Global Media Monitoring Project (2015), perempuan hanya mengisi 24% dari total konten pemberitaan di media. Sedangkan di Indonesia sendiri angkanya lebih rendah, yaitu 11%. Kedua, kualitas penggambaran perempuan menjurus ke identitas feminin tradisional yang dengan stereotip peran-peran domestik dan non-profesional (Collins, 2011). 

Minimnya kuantitas dan kualitas konten media yang bias gender mengisyaratkan adanya permasalahan yang lebih mengakar, yaitu minimnya kuasa perempuan dalam produksi pesan. 

 

Bukan Token Konten

Karena fungsinya untuk mendefinisikan realita, representasi media tidak bisa lepas dari kuasa dalam produksi pesan. Sekalipun audiens bebas menginterpretasikan makna dari sebuah konten, cara sebuah konten mengemas realita akan selalu dipengaruhi oleh siapa yang memegang kuasa dalam institusi media yang memproduksinya. 

Artinya, representasi berarti bukan cuma soal apa yang tampak di layar (baca: tokenism). Pemahaman atas representasi harus didorong lebih jauh lagi, yaitu menyasar pada siapa yang berkuasa di balik layar.

Dalam mengkritik penggambaran perempuan yang problematik, kita musti bertanya apakah perempuan terlibat? Sejauh apa perspektif dan suara mereka mempengaruhi isi tayangan? Bagaimana pengaruh mereka dalam pengambilan keputusan? 

Sebab, minimnya representasi pada level pembuatan keputusan dan kepemimpinan berdampak langsung terhadap konten yang diproduksi, isu yang diangkat, suara-suara yang dimunculkan, dan bagaimana perempuan atau laki-laki digambarkan (North dalam Melki dan Farah, 2014).

 

Upaya Advokasi

Kesadaran tentang representasi yang problematik mendasari berbagai advokasi untuk memperbesar ruang kuasa perempuan di media. Dalam bidang jurnalistik, misalnya, Hivos bersama PPMN meluncurkan WomenUnlimited, situs data narasumber perempuan. Situs ini dibuat dengan tujuan agar tidak ada lagi alasan bagi panel talk show atau berita untuk tidak didominasi perspektif narasumber laki-laki. Kehadiran media berperspektif gender seperti Magdalene, dengan pemimpin redaksi perempuan, juga menunjukkan bahwa kunci representasi dimulai sejak dalam proses produksi. 

Selain itu, dalam dunia perfilman, penelitian Novi Kurnia (2014) membahas peran sutradara perempuan dalam perkembangan sinema Indonesia pasca Orde Baru. Munculnya sutradara-sutradara perempuan, baik dalam film komersial maupun film independen, berdampak langsung terhadap penciptaan karakter perempuan yang lebih beragam di layar sinema -- mereka tidak hanya mengangkat isu gender, tapi juga mengaitkannya dengan kelas, agama, dan etnis. Studi Kurnia menekankan bahwa yang paling krusial bukan hanya peningkatan jumlah sutradara perempuan, tapi bagaimana kehadiran mereka turut mengubah lanskap industri perfilman Indonesia. 

Representasi tak bisa direduksi hanya sebagai keterwakilan yang bisa diukur melalui angka atau jumlah konten media yang menampilkan perempuan. Lebih dari itu, representasi adalah penciptaan ruang inklusif yang demokratis untuk berpartisipasi dan bersuara.   

Sebab hanya dengan itu, perempuan bisa memiliki kuasa atas bagaimana mereka ingin menampilkan dirinya. Jangan sampai perempuan direduksi jadi hiasan, formalitas, atau token semata untuk ditampilkan. 

 

Melki, Jad & Farah, May. (2014). Educating media professionals with a gender and critical media literacy perspective: how to battle gender discrimination and sexual harassment in the media workplace. Media and Gender: A Scholarly Agenda for the Global Alliance on Media and Gender (pp. 74-77). UNESCO, International Association for Media and Communication Research.

Collins, Rebecca. (2011). Content Analysis of Gender Roles in Media: Where Are We Now and Where Should We Go? Sex Roles (64) 290-298

Kurnia, Novi. (2014). Women Directors in Post-New Order Indonesia: Making Film, Making a Difference (Doctoral thesis, Flinders University, Australia).