Satu berita terorisme berpotensi meningkatkan kemungkinan terjadinya aksi serupa sebesar 11-15%. Pernyataan ini bukan omongan asal-asalan saya. Ini adalah temuan Professor Michael Jetter yang meneliti dampak pemberitaan 61,132 serangan teror di 201 negara selama 43 tahun dalam liputan New York Times. Ia mengestimasi bahwa satu berita teror dapat memicu timbulnya satu serangan susulan di minggu berikutnya dan memakan tiga korban tambahan. 

Mengapa efek berita bisa begitu besar? Salah satu jawabannya adalah karena pembingkaian (framing) yang digunakan media dalam memberitakan peristiwa. Bingkai media tidak hanya berpengaruh pada pemahaman atas suatu kejadian, tetapi juga memicu tindakan untuk menormalisasi dan mereproduksi kejadian tersebut. 

Dalam kasus terorisme, jika media tidak menggunakan bingkai yang melawan narasi teroris dan tidak memberikan pemahaman yang utuh, hasilnya adalah berita bombastis yang  justru menyebarkan teror. Seringkali liputan media justru mengakomodasi tujuan teroris yaitu menebarkan ancaman dan ketakutan dengan memberikan panggung perhatian pada aksi mereka. Pemberitaan terorisme adalah kasus yang tepat untuk membuktikan bagaimana bingkai media turut membentuk realita. 

 

Bagaimana Bingkai Bekerja

Penggunaan bingkai dalam produksi berita adalah konsekuensi logis (dan manusiawi) dari keterbatasan media menampilkan realita. Seorang jurnalis tidak mungkin bisa memindahkan seluruh sisi peristiwa dan pasti membutuhkan sebuah angle atau sudut pandang. Dengan menonjolkan satu sisi dan menenggelamkan sisi lainnya, media menawarkan definisi dan interpretasi atas sebuah peristiwa.

Dalam pemberitaan terorisme di Indonesia, contohnya, ada pergeseran bingkai. Selama kurun waktu 1998-2011, definisi terorisme dalam bingkai media terus bergeser: dari gerakan ekstrem kanan berbasis ideologi agama, lalu serangan pada simbol Barat dan Amerika Serikat, hingga serangan berlatar kekecewaan politik era SBY.

Pembingkaian dilakukan dengan memilih sumber informasi, menyajikan gambar atau ilustrasi, dan menentukan pilihan bahasa, termasuk: kutipan, metafora, dan ungkapan lainnya dalam berita. Selain itu, media juga melakukan seleksi informasi yang ditampilkan pada publik. Berbagai instrumen simbolik dan linguistik ini punya efek dalam membentuk emosi, opini, hingga tindakan audiens untuk menyikapi isu yang diberitakan.

Dalam memproduksi informasi publik, idealnya media memilih pembingkaian dengan orientasi melayani publik dan memikirkan efeknya bagi hajat hidup penontonnya. Sayangnya, dalam menjalankan fungsinya untuk melayani kebutuhan informasi, bingkai media tak selamanya berdampak baik, tapi juga kadang merugikan publik.



Model Pembingkaian dan Dampaknya

Dampak berita terhadap sikap atau opini pembaca seringkali bergantung pada model pembingkaian yang digunakan. Shanto Iyengar, seorang ahli komunikasi politik dari Stanford University mengidentifikasi dua model bingkai media, khususnya dalam pemberitaan  isu sosial politik:

  1. Bingkai Episodik, yaitu ketika peristiwa difokuskan pada permasalahan tunggal yang tidak dihubungkan dengan permasalahan lainnya. Di sini, individu menjadi fokus objek cerita. 

  2. Bingkai Tematik, yaitu ketika peristiwa digambarkan sebagai permasalahan umum (dan sistematik) yang berkembang. Yang mendasari fokus berita adalah analisis penyebab masalah.

Penggunaan bingkai episodik versus tematik akan membawa dampak yang berbeda meskipun yang diberitakan sama. Bingkai episodik membuat audiens cenderung menafsirkan bahwa masalah terjadi akibat kesalahan individu. Sebaliknya, bingkai tematik menstimulasi audiens untuk melihat satu peristiwa sebagai bagian dari problematika lebih besar dan sistematis.



Bingkai Berita Teror

Lalu, adakah bingkai yang lebih tepat untuk pemberitaan terorisme? Sayangnya, pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara hitam putih.

Dalam pemberitaan terorisme di Indonesia, bingkai episodik jadi model yang dominan. Misalnya, terkait dengan bom di Makassar dan Mabes Polri di Jakarta bulan lalu, media sangat minim memuat peristiwa dalam diskursus deradikalisasi atau Undang-undang Anti-Terorisme. Sebaliknya, media (khususnya Tribunnews) memilih menyajikan remah-remah peristiwa, seperti surat wasiat pelaku, personifikasi pelaku dengan yatim, sampai pelaku tidak makan ayam

Bingkai episodik seperti ini selain mengaburkan permasalahan, juga rentan mendramatisir keadaan dan mengobarkan ketakutan. Sudah jelas aksi terorisme melahirkan kekerasan, media membumbuinya dengan diksi sensasional, seperti menggunakan kata ngerinya, sadis, atau keji dalam judul berita.

Namun, bukan berarti bingkai tematik selalu berdampak baik pada pemahaman publik. Salah satu riset Remotivi mengenai pemberitaan aksi kekerasan terhadap pemuka agama Islam menemukan bahwa bingkai tematik juga dapat mengamplifikasi teror. Ini terjadi karena media menyajikan teori konspirasi berdasarkan spekulasi bahwa rentetan peristiwa ini saling berhubungan dan ada “kekuatan jahat” di baliknya. Selain melahirkan teror, pemberitaan yang dihasilkan juga melahirkan stereotip pada orang dengan gangguan psikotik sebagai kriminal.

Dari sini, kita bisa menyimpulkan dua hal. Pertama, bingkai media bukan hanya alat mendeskripsikan peristiwa, tapi juga berdampak membentuk realita. Kedua, dalam mengemas peristiwa tidak ada satu model bingkai yang ideal bagi semuanya. Maka, dalam melakukan pembingkaian, media harus menggunakan bingkai dengan orientasi membantu publik, bukan memperparah keadaan.