Belum lama ini, selama berhari-hari kanal media dan linimasa kita dipenuhi berita “babi ngepet” di Depok. Kehebohan isu ini menunjukkan bahwa arus modernitas tak bisa menepis obsesi terhadap dunia mistis. Perkembangan teknologi informasi rasanya malah mewariskan ketertarikan pada hal gaib. Mulai dari tempat angker untuk uji nyali, sampai legenda hantu tanpa kaki, berbagai kanal media terus menyajikan kisah yang membuat bulu kuduk merinding tapi juga memancing rasa penasaran. Bahkan bisnis perdukunan turut bermigrasi “mengikuti tren 4.0” agar tetap relevan dengan zaman.

Walau berpindah media, konten horor tak ada matinya. Lewat media digital, konten horor bahkan lebih bergaung. Di YouTube, konten horor mendulang popularitas tinggi. Selain itu, berawal dari utas viral di Twitter, KKN di Desa Penari direproduksi jadi film hingga novel. Contoh ini menunjukkan bahwa media digital memfasilitasi bagaimana konten horor dikemas ulang dan dikonsumsi lintas media.

Dengan adanya media digital yang memberi ruang partisipasi, bagaimana produksi konten horor dan mistis berkembang? Jika tayangan mistis di media konvensional dinilai problematik karena berpotensi “menyesatkan” atau melanggengkan irasionalitas, apakah kultur partisipatoris dalam media digital mampu mengatasi atau justru mereproduksi persoalan ini? 

 

Berlomba Memburu Hantu

Rating yang menjanjikan membuat program bernuansa mistik dihidupkan terus-menerus oleh media konvensional. Sempat meraih predikat sebagai tayangan dengan rating tertinggi, Dunia Lain menjadi trend-setter genre horor di televisi. Meski dilarang KPI, “Masih Dunia Lain” tetap hidup lagi. Selain uji nyali, format umum tayangan horor di TV berkutat pada penjelajahan tempat angker atau talk show yang dipandu paranormal untuk mengulik fenomena mistik. 

Kini, acara tersebut tidak hanya harus bersaing antar stasiun televisi, tapi juga dengan kreator konten di media baru. 

Pengalaman supernatural jadi salah satu genre yang sukses di era media baru, khususnya media sosial. Konten horor di media konvensional memang populer, tapi jumlahnya tak sebanyak konten horor di ruang maya yang bisa dibagikan melalui berbagai platform; mulai dari Twitter, Facebook, YouTube, hingga Spotify. Konten yang tadinya hanya bisa diproduksi oleh media-media besar, kini bisa diproduksi secara independen oleh siapapun. 

Salah satu platform utama untuk konten horor adalah YouTube. Beberapa kanal yang paling populer di antaranya adalah Sara Wijayanto yang memiliki tujuh juta subscribers dan Jurnalrisa yang memiliki lima juta subscribers. Konten yang disajikan keduanya hampir sama—Sara dan Risa yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan makhluk gaib pergi menelusuri lokasi bersama tim mereka, dan menggali ‘cerita’ dari entitas tak kasat mata. 

 

Apa yang Membedakan?

Berbeda dengan televisi yang melakukan penyiaran secara tersentralisasi, media baru mendorong desentralisasi komunikasi (Lister dkk, 2009). Sirkulasi informasi yang tidak lagi satu arah mendorong terciptanya kultur partisipatoris.

Di platform seperti YouTube, misalnya, penggemar genre horor bisa terlibat dalam produksi wacana dengan berdiskusi di kolom komentar, merekam respon mereka terhadap sebuah konten, dan bahkan mengunggah video perburuan hantu mereka sendiri (Smith, 2018). Audiens yang pasif di depan televisi kini bisa turut terlibat dalam produksi wacana mistisisme di media. 

Dari segi regulasi, media baru belum terjangkau oleh KPI. KPI yang selama ini turut mengontrol tayangan mistis di televisi, tak bisa melakukan hal yang serupa terhadap konten mistis yang tayang di YouTube. Kuasa tersebut berada di tangan platform media. Melalui pedoman komunitas, YouTube hanya memberi batasan secara umum terhadap konten apa saja yang tidak boleh ditayangkan, sehingga pembuat konten cukup leluasa dalam berkreasi. 

Hal lain yang berbeda dari konten mistis di media baru adalah absennya sosok pemuka agama yang menyampaikan pesan-pesan religius seperti di televisi. Cara pengemasan konten juga lebih beragam. Di luar konten memburu hantu, ada juga format lain seperti obrolan santai yang dibawakan Raditya Dika “Paranormal Experience” atau penceritaan deskriptif melalui perspektif sejarah yang dibawakan Kisah Tanah Jawa. Tak hanya YouTube, mereka juga membagikan konten mistis melalui podcast. 

 

Partisipatoris Tanpa Perspektif Kritis

Akses partisipasi yang dibawa media baru sekilas memberikan optimisme untuk keluar dari konten televisi yang generik dan cenderung seragam. Namun, kultur partisipatoris ini tak serta merta menumbuhkan perspektif kritis. 

Salah satu video yang paling banyak ditonton di kanal YouTube Sara Wijayanto, misalnya, adalah episode penelusuran di rumah Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Konten ini bisa meraih hingga dua puluh satu juta viewers tatkala memanfaatkan rasa penasaran audiens terhadap fenomena horor di rumah selebriti. Bahkan di kolom komentar, banyak yang meminta Sara untuk menginvestigasi rumah selebriti lain. 

Contoh di atas menggambarkan bagaimana konten horor yang diproduksi di media baru, menempatkan horor sebagai subjek yang bersifat sensasional dan meraih keuntungan dari obsesi audiens terhadap yang mistis—pola lama yang ditemui di media konvensional. 

Smith (2018) dalam disertasinya menjelaskan fenomena ‘memburu hantu’ di media melalui teori siklus lintas-media, yaitu ketika suatu formula terbukti sukses, ia akan didaur ulang oleh berbagai macam media yang berbeda. Siklus ini berbeda dengan genre karena ia bergantung pada keuntungan yang bisa diraih dan bisa berubah-ubah dalam waktu yang singkat. 

Teori di atas menjelaskan bagaimana kultur partisipatoris di media baru tak bisa dilepaskan dari proyeksi keuntungan ekonomi yang menggiurkan bagi kreator konten. Melalui media sosial, penyebaran konten horor menjadi tak terbendung dan semakin susah untuk disaring. Hal ini dapat mengakibatkan penyebaran ketakutan, apalagi sulit untuk dibedakan mana yang sengaja dibuat-buat dan mana yang tanpa rekayasa. Sehingga pada akhirnya, mistisisme lagi-lagi hanya menjadi produk jualan. 

 Bangkitnya kultur partisipatoris dan minimnya kontrol dari lembaga negara memberi alternatif ruang bagi pengguna untuk memaknai suatu fenomena di luar narasi tunggal yang dibawakan televisi. Di satu sisi, pemaknaan mistisisme menjadi semakin beragam. Namun hal ini tak menyelesaikan masalah konten horor yang dijumpai di media konvensional. Konten horor tetap kebal kritik, dan obsesi kita terhadap yang gaib dan yang mistis tetap tumbuh subur. 

 

Smith, Matthew. (2018). Ghost Hunting in the New Millenium: A Trans-Media Theory of Cycle Studies. Dissertation. Georgia State University.

Lister, Martin; Dovey, Jon; Giddings, Seth; Grant, Iain; Kelly, Kieran. (2009). New Media: a critical introduction. Oxfordshire: Routledge