Kabar buruk di saat pandemi datang berulang kali, tapi bukan itu saja rintangan yang kita hadapi. Keadaan telah memaksa kita untuk menukar kontak fisik dan percakapan tatap muka dengan komunikasi virtual yang serba terbatas. Bukan hanya cara berkomunikasi yang menjadi norma baru, rasa lelah yang muncul setelah seharian menjalani zoom meeting nampaknya juga sudah menjadi bagian dari rutinitas. Misalnya, sebuah survei di Italia menunjukkan bahwa  kesehatan fisik dan mental pekerja lebih rentan semenjak bekerja dari rumah.

Keadaan yang kita alami di atas bukanlah kelelahan biasa, ia disebut zoom fatigue—kondisi burnout, atau kelelahan yang dipicu oleh tingginya intensitas komunikasi virtual. Pasalnya, kita tak hanya menggunakan Zoom untuk bekerja atau belajar. Mengikuti workshop, beribadah, hingga bersosialisasi dengan teman pun juga dilakukan melalui aplikasi konferensi video. Tercatat, setiap harinya tiga ratus juta orang berpartisipasi dalam zoom meeting. Ratusan juta orang tersebut menyumbang tiga koma tiga triliun menit yang telah dihabiskan di Zoom per tahunnya. 

Di satu sisi, pandemi membuat kita menyadari bahwa banyak hal bisa dilakukan secara  jarak jauh. Pekerjaan bisa dilakukan dari rumah, dengan bantuan laptop dan internet. Namun kemudahan ini datang dengan tantangan yang baru. Meski menjadi penyelamat untuk tetap terhubung ketika harus menjaga jarak, komunikasi virtual menyadarkan kita betapa berharganya interaksi tatap muka. 

 

Zoom Fatigue: Hambatan Nyata dalam Interaksi Virtual

Dengan bekerja atau belajar dari rumah, mungkin kita lebih efisien dalam menghabiskan waktu, energi, dan pengeluaran. Namun setahun berlalu, kita justru merasa lebih lelah dan tertekan. Tak jarang, kelelahan ini disalahartikan sebagai kelemahan individu atau bahkan kemalasan. Padahal, zoom fatigue adalah permasalahan nyata yang dihadapi oleh pengguna dari berbagai usia dan profesi—dari pekerja, pelajar hingga pengajar. 

Berdasarkan penelitian Fauville dkk (2021), ada lima aspek yang bisa dipahami sebagai tanda-tanda zoom fatigue. Pertama, general fatigue yaitu rasa lelah secara umum. Kedua, visual fatigue yaitu kelelahan dalam penglihatan yang ditandai dengan pandangan kabur atau iritasi pada mata. Ketiga, social fatigue yaitu hilangnya keinginan untuk bersosialisasi. Keempat, motivational fatigue yaitu menurunnya motivasi untuk melanjutkan pekerjaan. Kelima, emotional fatigue yaitu perubahan pada mood. 

Temuan Fauville membantu kita untuk lebih mudah dalam mengidentifikasi kondisi yang sedang kita alami. Selain itu, ia juga menunjukkan kompleksitas zoom fatigue yang tidak bisa dianggap sebagai kelelahan biasa, ia adalah kondisi psikologis yang juga berimbas pada kesehatan mental kita. 

Selain kelelahan, komunikasi virtual juga bisa meningkatkan kecemasan sehingga menyebabkan zoom anxiety. Misalnya, bagi mereka yang memiliki kecemasan ketika berbicara di depan publik, berbicara di rapat virtual bisa menjadi tantangan tersendiri sebab interaksi dengan audiens lebih canggung dibanding tatap muka. Selain itu, kecemasan juga bisa dirasakan oleh mereka yang tidak merasa percaya diri untuk tampil di depan kamera

Kondisi-kondisi di atas mengkonfirmasi bahwa kekhawatiran yang selama ini dirasakan ketika menjalani komunikasi virtual bukanlah permasalahan individu yang terisolasi. Ia merupakan manifestasi dari permasalahan yang lebih struktural, yaitu perubahan dalam cara kita berinteraksi dengan satu sama lain. 

 

Terhubung Secara Virtual, Terisolasi Secara Sosial

Dalam wawancara dengan BBC, pakar psikiatri Gianpiero Petriglieri dan psikolog Marissa Shuffler memaparkan perubahan fundamental dalam cara kita berinteraksi sebagai penyebab utama dari dampak psikologis yang melanda pengguna. Pasalnya, komunikasi antar manusia yang kompleks dan dinamis kini didikte oleh cara kerja teknologi. 

Misalnya, dalam komunikasi sehari-hari manusia tak hanya menggunakan kata-kata, tapi juga bahasa non-verbal seperti isyarat dan gestur. Fitur zoom tidak mengakomodasi hal ini, sehingga kita harus menebak-nebak umpan balik dari lawan bicara. Pada akhirnya, kita juga harus mengeluarkan lebih banyak energi untuk bisa memproses komunikasi yang sedang terjadi. 

Selain itu, keharusan untuk menampilkan diri di depan kamera membuat kita merasa selalu diawasi. Hal ini lantas menimbulkan rasa self-aware yang berlebih sehingga kita merasa harus mengontrol gerak-gerik di depan kamera. 

Namun menurut Petriglieri dan Shuffler teknologi hanyalah satu sisi dari keseluruhan fenomena yang kita alami. Kelelahan yang kita rasakan juga merupakan akumulasi dari berbagai kondisi yang menghimpit kita di kala pandemi. Sebab, pembatasan aktivitas sosial juga berkontribusi terhadap fatigue yang kita rasakan. 

Konferensi video tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dengan rekan kerja, guru, atau dosen, tapi juga untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman. Dalam hal ini, ada konteks yang hilang dalam komunikasi virtual, yaitu peran sosial. Meleburnya aktivitas kita ke dalam satu ruang yang sama menghilangkan konteks dari peran sosial yang kita jalani di masing-masing ruang tersebut. Baik itu peran kita sebagai pekerja, sebagai murid, sebagai teman, sebagai keluarga, semuanya dilakukan di ruang yang sama. Wajah-wajah familiar pun diseragamkan oleh kotak-kotak kecil di layar komputer. 

Semua jenis interaksi, dari yang resmi dan performatif hingga yang intim dan spontan terjadi di platform yang sama. Akibat batasan yang hilang tersebut, di satu titik kegiatan yang bertujuan untuk melepas stres pun bisa sama-sama terasa melelahkan. 


 

Mekanisme Bertahan

Di satu sisi, konferensi video memudahkan komunikasi jarak jauh dan menjadi penyelamat agar aktivitas bisa tetap berjalan di tengah pandemi. Ia juga membuka kemungkinan-kemungkinan baru Tapi di sisi lain komunikasi online tidak akan pernah bisa menggantikan kebutuhan manusia untuk berinteraksi secara langsung. Dalam kondisi pandemi, kegiatan sesederhana bertemu dan berinteraksi dengan teman menjadi kemewahan tersendiri. 

Pandemi ini memang tak menyisakan pilihan selain komunikasi virtual. Tapi bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengurangi dampak yang ditimbulkannya. Menurut Harvard Business Review, ada beberapa cara untuk mengurangi zoom fatigue. 

  1. Menghindari multitasking ketika sedang mengikuti sesi zoom.

  2. Memberlakukan istirahat di sela-sela sesi zoom.

  3. Menjadikan ajang bersosialisasi secara virtual sebagai opsi dan tidak memaksa orang lain untuk berpartisipasi.

  4. Membuat penggunaan kamera menjadi opsional. 

Sebanyak apapun jumlah komunikasi virtual yang kita lakukan, ia tidak dapat menggantikan rasa nyaman dari sentuhan fisik atau rasa lega ketika bertemu langsung dengan teman dan keluarga. Secanggih apapun teknologi, ia tidak bisa mewadahi koneksi manusia yang paripurna. Maka yang bisa kita lakukan sembari menunggu pandemi ini mereda, adalah peka terhadap kondisi satu sama lain dan sebisa mungkin membuat komunikasi virtual menjadi nyaman.